Renungan 4
GEREJA YANG DICITA-CITAKAN DAN TANTANGAN MASA KINI
Kemah Tabor, Rabu, 12 Agustus 2026; Pkl. 16.00
Teks Inspiratif: Lukas 9, 10 – 17
Oleh: RD. Stef Wolo
“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan. Kata mereka: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ekor ikan”(ayat 12-13).
Teks paralelnya terdapat dalam Mateus 14, 16: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan”. Yohanes 6,5-6, Yesus bertanya kepada Filipus: “Apa yang ada padamu?”
Yesus meminta para rasul bertanggung jawab untuk memberi makan kepada orang banyak. Yesus menunjukkan belas kasih nyata. Ia tidak hanya mengajar tentang Kerajaan Allah. Dia peduli pada kebutuhan jasmani(urusan perut) orang banyak.
Sebagai pimpinan umat, kita juga memberi makan kepada umat. Makanan rohani melalui pelayanan sabda dan ekaristi, kotbah dan refleksi. Tak hanya sebatas itu. Kita mendukung umat kita memenuhi kebutuhan jasmani. Kita mencari jalan dan memberi contoh pada umat agar mereka mampu memenuhi kebutuhan makanan.
Yesus menuntut para muridNya agar terlibat, turut bertanggung jawab bagi sesama pengikut Kristus. Bukan melepaskan tanggungjawab. Sebagai pemimpin Yesus tahu melibatkan mereka. Dia tidak mengerjakannya sendiri. Walau Dia sebenarnya mampu melakukannya. Yesus menghargai potensi sekecil apapun yang ada pada murid-muridNya.
Para murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Mereka melihat itu sebagai hal yang sia-sia untuk orang banyak. Hal ini menyimbolkan rasa ketakberdayaan mereka dihadapan masalah besar. Tapi Yesus sanggup mencukupkan segala yang melampaui perhitungan akal mereka.
Gereja Yang Kita Cita-Citakan
Paus Fransiskus dalam seruan Apostoliknya Evangelii Gaudium 49 mengajak kita: “Marilah kita bergerak keluar menawarkan kepada setiap orang tentang hidup Yesus Kristus”. Paus selalu mengulangi kata-katanya kepada para imam dan umat awam di Buenos Aires-Argentina: “Saya lebih menyukai gereja yang memar, terluka dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan, dari pada gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman pada rasanya sendiri”.
Gereja yang bergerak keluar adalah gereja yang membuka pintu-pintunya. Bergerak keluar menjumpai sesama yang jauh dari sentuhan kemanusiaan. Tidak berarti bergegas tanpa arah dan tujuan ke dunia. Gereja dipanggil untuk menjadi rumah Bapa, dengan pintu-pintu yang selalu terbuka lebar. Setiap orang dengan cara tertentu dapat mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Setiap orang bisa menjadi bagian dari komunitas. Keterbukaan itu mengandung arti: “Pintu-pintu fisik gedung gereja terbuka”.
Tetapi juga mengandung arti rohani, semangat iman kita. Sakramen-sakramen, terutama “sakramen pintu” dibuka untuk semua orang agar bisa masuk persekutuan gereja. Misalnya penerimaan sakramen babtis, ekaristi, yang merupakan puncak dan sumber hidup gereja.
Bukanlah semata-mata hadiah bagi orang-orang sempurna. Melainkan suatu obat kemurahan hati dan makanan bagi yang lemah.
Kayakinan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi pastoral yang perlu dipertimbangkan dengan bijaksana. Kita seringkali bertindak sebagai wasit rahmat. Atau hakim yang siap menghukum. Ketimbang mediator yang mempermudah orang datang. Paus mengingatkan bahwa gereja bukanlah kantor pabean, melainkan rumah Bapa. Pabean itu kantor bea cukai yang mengatur urusan ekspor-impor. Di rumah bapa ada tempat untuk setiap orang dengan segala permasalahan hidup(Yohanes 8, 1-11).
Gereja yang bergerak keluar adalah gereja yang menjalankan evangelisasi. Gereja mewartakan injil. Isi pewartaan dan sifat pewartaan injil itu menggembirakan dan meneguhkan. Euanggelion. Evangelisasi berlangsung dalam ketaatan pada amanat perutusan Yesus: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman”(Mateus 28, 19-20).
Sabda Allah selalu menunjukkan pada kita, bagaimana Allah menantang kita yang percaya kepadaNya untuk bergerak keluar. Abraham menerima panggilan untuk pergi ke negeri baru(Kejadian 12, 1-3). Musa mendengar panggilan Allah: “Pergilah, Aku mengutus engkau(Keluaran 3, 10) dan menuntun bangsanya menuju ke tanah terjanji(Keluaran 3, 17). Kepada Yeremia Allah bersabda: “kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi”(Yeremia 1,7).
Pada jaman sekarang, perintah Yesus untuk pergi dan menjadikan murid berarti kita menjalankan tugas perutusan gereja dengan bergerak keluar. Setiap umat kristiani dan setiap komunitas gerejani harus mencari dan menemukan jalan yang ditunjukan Tuhan. Kita semua diminta untuk mematuhi panggilanNya. Kita keluar dari zona nyaman dan menjangkau seluruh kaum pinggiran yang memerlukan terang injil.
Sukacita injil yang menghidupkan komunitas para murid adalah sukacita perutusan. Ketujuh puluh murid merasakannya ketika kembali dari tugas perutusan(Lukas 10, 17). Yesus merasakannya ketika Dia bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa karena menyatakan diriNya kepada orang miskin dan kecil(Lukas 10, 21).
Sukacita itu dihidupi karena injil telah diwartakan dan berbuah. Dorongan untuk bergerak keluar dan memberi hidupnya. Untuk keluar dari diri sendiri. Untuk terus bergerak maju menaburkan benih baik, tetap dihidupi sampai sekarang. Firman Tuhan ini meneguhkan dan mendorong kita agar tidak berhenti berevangelisasi: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga, aku memberitakan injil, karena untuk itu aku telah datang”(Markus 1, 38).
Perutusan menjadi pilihan dasar hidup gereja. Dorongan untuk melakukan perutusan mesti merubah kebiasaan-kebiasaan gereja. Cara melakukan segala sesuatu, waktu dan agenda, bahasa dan struktur mesti disalurkan dengan tepat untuk evangelisasi dunia masa kini. Struktur komunitas mesti berorientasi pada perutusan. Pembaharuan dalam paroki mesti mengarah pada perutusan. Opsi perutusan harus jelas dalam kehidupan gereja kita.
Sukacita dalam mewartakan Yesus, kita ungkapkan melalui kepedulian kita untuk mewartakan Yesus Kristus ke pelbagai belahan dunia. Dunia membutuhkan bantuan. Kita bergerak keluar, ke paroki-paroki sulit di wilayah keuskupan kita. Kita siap diutus sebagai misionaris Fidei Donum di keuskupan lain. Baik di dalam maupun luar negeri.
Saya bersyukur, berkesempatan menjadi misionaris Fidei Donum. Saya boleh menjadi tanda terima kasih dari tanah Flores untuk bumi Eropa dan para misionaris Eropa masa lalu. Saya bisa membawa pengalaman pastoral dan nilai-nilai budaya kita. Dan menimba pengalaman pastoral mereka. Saya bisa bekerja di paroki dan turut mengatasi masalah kekurangan tenaga pastoral di keuskupan Basel Swiss. Saya bisa membangun relasi kemanusiaan dan jaringan kerja sama dengan umat paroki dan lembaga-lembaga sosialnya.
Di sana saya memperoleh gaji, dana pensiun dan dana hari tua. Dari gaji, kolekte dan sumbangan sukarela umat, saya bisa membantu karya pastoral keuskupan. Dari dana pensiun dan dana hari tua saya bisa berbagi dengan keuskupan dan seminari. Tidak gampang untuk berbagi dan memberi. Gereja kita membutuhkan imam-imam yang memiliki semua aspek kecerdasan. Tapi jangan lupa kita membutuhkan imam-imam yang punya hati!
Satu pertanyaan reflektif: “Semangat dasar apakah yang menyertai karya evangelisasi kita?”
Pertama, iman yang bekerja oleh kasih(belaskasih). Keutamaan belas kasih mengandung unsur memberi kepada yang lain, melengkapi kekurangan-kekurangan orang lain.
Santo Agustinus mengingatkan begini:“Perintah-perintah yang disampaikan oleh gereja harus diberikan tanpa berlebihan, sehingga tidak membebani hidup umat beriman. Ajaran agama kita tidak boleh menciptakan suatu perbudakan, tetapi kita menawarkan belaskasihan Allah yang menghendaki bahwa kita harus bebas”.
Kedua, semangat sukacita karena telah merasakan belaskasih, cinta dari Tuhan sendiri(Bdk pengalaman Sakeus dalam Lukas 19, 1-10). Pribadi Yesus adalah kasih yang menjadi nyata. Kasih akan Yesus itu membuat seorang selalu berbicara tentang orang yang dikasihinya, memperkenalkannya, membuatnya dikenal.
Ketiga, semangat inklusivitas injili. “Saya adalah imam dari sebuah gereja tanpa perbatasan, gereja yang memandang dirinya ibu bagi semua”(EG 210).
Keempat, semangat menghargai martabat manusia. Kita yakini bahwa seorang manusia selalu suci. Dan martabatnya tak bisa diganggu gugat. Manusia adalah tujuan dalam dirinya sendiri dan tak pernah menjadi sarana untuk menyelesaikan persoalan-persoalan lain. Melawan segala bentuk eksploitasi pribadi manusia dan alam ciptaan Tuhan.
Kelima, semangat kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah, menderita dan miskin.
Keenam, semangat Roh Tuhan menjiwai evangelisasi. Karena itu evangelisasi mesti disertai adorasi panjang, pembacaan firman Tuhan. Kita perlu menciptakan saat-saat perjumpaan dengan Sabda dalam suasana doa dan percakapan tulus dengan Tuhan(EG 262).
Ketujuh, semangat perdamaian dan rekonsiliasi.
Kedelapan, semangat persaudaraan kosmik, spirit yang menyatakan bahwa manusia, alam semesta dan isinya saling terhubung sebagai satu keluarga besar yang berasal dari Sang Pencipta.
Gereja Melibatkan Diri Dalam Sejarah Kemanusiaan
Peristiwa inkarnasi memperlihatkan bahwa Yesus Kristus yang mulia hadir ke dalam dunia yang berdosa. Dia rela menjalani setiap tahap kehidupan manusia. Ia lahir, mengalami masa anak-anak, remaja, muda, dewasa dan wafat. Surat Filipi 2, 6 – 7 menunjukan kepada kita bagaimana Yesus rela mengambil rupa seperti hamba. Ia tidak mempertahankan status keilahiannya. Maka, peristiwa inkarnasi memperlihatkan beberapa hal:
- Kerelaan Kristus untuk mendatangi dan terlibat dalam hiruk pikuk kehidupan manusia akibat dosa.
- Pengorbanan Kristus agar manusia diselamatkan dari kuasa dosa.
- Kerendahan hati Kristus yang terlihat dalam berbagai misi pelayananNya.
- Kasih Allah yang tanpa batas.
Kita para pengikut Kristus menjalankan misi keterlibatan kita dalam dunia. Kita ikut membangun dunia dalam semangat inkarnasi. Kita dituntun oleh tradisi magisterium yang tersintesis dalam ajaran sosial gereja. Perjuangan melibatkan diri berdasarkan pada kebenaran, kebaikan dan keadilan. Spiritualitas inkarnasi mendorong kita untuk melibatkan diri dalam rangka membawa keselamatan ke dunia ini.
Iman itu menyejarah. Paus Leo XIV mengajak kita untuk terus membangun gereja(terutama pada masa kini).
Gereja harus tetap mempertahankan martabat manusia di tengah gempuran arus tehnologi digital atau revolusi digital.
Saya mengajak kita untuk melihat sejarah kehidupan kita. Mulai dari sejarah hidup pribadi, sejarah paroki, ordo dan sejarah keuskupan. Sejarah hidup kita mengandung tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Iman kepada Yesus menuntun kita untuk menghidupi dimensi waktu atau dimensi menyejarah itu. Kita mesti menghayati kemuridan kita dalam sejarah dan spiritualitas inkarnatif.
Pertama, masa lalu. Kita memandang masa lalu dengan rasa syukur. Paroki-paroki, keuskupan-keuskupan kita adalah pewaris sejarah misi gerejani yang penuh karismatis. Dalam sejarah misi dan penginjilannya, kita melihat tangan Allah memanggil orang-orang tertentu untuk mengikuti Kristus. Mereka menerjemahkan injil ke dalam cara hidup yang khas. Mereka membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman. Dan menjawab secara kreatif kebutuhan-kebutuhan gereja pada masanya.
Terlintas dalam ingatan kita para misionaris Eropa, khususnya dari tarekat SVD. Saya mengunjung Steyl tiga kali. Saya berlutut di depan peti tembaga Santo Arnoldus. Saya berdoa: “Arnoldus terima kasih. Di tengah situasi “Kulturkampf” Jerman, sebagai imam projo muda, engkau berani keluar dan membuka cakrawala baru bagi karya misi dan gereja universal. Di balik cakrawala negeri Belanda, impian itu menjadi kenyataan. Cakrawala yang tinggi melambangkan kebesaran Allah. Cakrawala yang tak terjangkau menyimbolkan keagungan Allah yang maha tinggi. Engkau menggapai keagungan Allah itu”.(Buku Mosaik Iman, Budaya Dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Teologi Pastoral).
Kita tidak pernah boleh melupakan kebaikan orang lain. Termasuk jasa dan kebaikan SVD. SVD sudah meletakan dasar bagi gereja di Bali dan Nusa Tenggara. Kita merawat warisan Pendidikan, Gedung dan sarana. Kita melestarikan tradisi religius dan merawat tradisi intelektual. SVD menyiapkan pendidikan imam diosesan di wilayah kita.
Seperti biji yang menjadi pohon, keuskupan-keuskupan kita bertumbuh dan menjulurkan ranting-rantingnya. Saya selalu bangga sebagai imam diosesan dan spiritualitas kita: “Spiritualitas imam diosesan adalah mengarahkan hidup, mengikuti, meneladani, menyatukan diri dan menjadi serupa dengan Kristus dalam kesatuan dengan Uskup demi pengembangan gereja lokal. Ketaatan seorang imam diosesan pada uskup dan respek pada pribadi uskup adalah ekspresi penghormatan terhadap kewibawaan Kristus sebagai gembala tertinggi gereja kita”.(Dari Nusa Bunga Ke Negeri Alpen 158)
Sebagai pribadi dan imam diosesan(atau imam ordo), kita perlu menulis, membaca dan menceritakan kembali sejarah kita. Literasi sejarah itu penting. Dengannya kita mampu mempertahankan jati diri. Sekaligus memperkuat kesatuan kita sebagai keluarga. Kita mempunyai rasa memiliki, menjadi bagian dari keuskupan, kevikepan, paroki atau ordo yang bekerja di wilayah keuskupan.
Sejarah itu penting! Pramudya Ananta Toer(1925-2006) menulis: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Ceritera sejarah merupakan ajakan mengikuti jejak-jejak generasi masa lampau. Kita memahami cita-cita luhur, visi, serta nilai-nilai yang menginspirasi mereka.
Dengan cara ini kita dapat melihat bagaimana misi Kristus dihayati selama bertahun-tahun. Misi Kristus menghadirkan karisma-karisma istimewa.
Juga kreativitas-kreativitas baru untuk mengatasi kesulitan-kesulitan konkret. Sebagai manusia lemah seringkali kita tidak konsisten. Kita lalai terhadap beberapa aspek penting karisma misioner gereja. Kita jadikan itu sebagai pelajaran, sekaligus ajakan menuju pertobatan.
Membaca, menulis dan menceriterakan sejarah masa lalu kehidupan pribadi, kehidupan paroki dan keuskupan kita mesti menjadi suatu “Magnificat”, pujian kepada Allah. Dan sekaligus merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala anugerahNya. Dalam arti ini, kita mengikuti teladan dan cara hidup Bunda Maria dalam Magnificatnya.
Kedua, menghayati masa sekarang dengan antusiasme. Kenangan syukur masa lalu menuntun kita untuk menerapkan lebih penuh lagi aspek-aspek penting hidup beriman pada masa kini. Dalam retret ini, kita memeriksa kesetiaan kita pada perutusan yang telah dipercayakan kepada kita. Apakah pelayanan, karya-karya dan kehadiran kita sejalan dengan kehendak Roh Tuhan pada masa kini? Adakah karya-karya pendahulu yang harus diganti?
Atau karya yang sama, tetapi dijalankan dengan semangat baru: menangani masalah-masalah ekologis, perjuangkan soal-soal penindasan terselubung? Apakah kita memiliki semangat yang membara untuk membela mereka yang lemah, miskin, terpinggirkan dengan siap berbagi kegembiraan dan kesedihan mereka, sehingga bisa memahami kebutuhan-kebutuhan mereka dan membantu menjawabnya?
Menghayati hidup bermisi pada saat sekarang dengan semangat injil berarti menjadi “pakar dalam persekutuan kasih”, “saksi dan arsitek proyek kesatuan dan persaudaraan” yang mencapai puncak sejarah manusia menurut Allah”. Kita sering merasakan polarisasi dalam masyarakat. Orang mengalami kesulitan hidup berdampingan satu sama lain. Banyak orang tak berdaya menghadapi penindasan. Di mana-mana kita menyaksikan ketimpangan. Kita perlu menawarkan suatu model konkret pastoral berkomunitas. Komunitas yang mengakui martabat setiap orang. Kita saling berbagi anugerah pribadi. Dengannya kita hidup bersaudara. Kita mewujudkan sinodalitas dengan Uskup dan sinodalitas dengan umat).
Saat di Swiss saya sempat mengunjungi sebuah komunitas. Di dalamnya ada imam-imam tua, baik diosesan, ordo dan sejumlah pasangan jompo. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, termasuk agama. Mereka membentuk komunitas dengan aturan harian dan hidup dari uang pensiun. Saya guyon: “Situasi kamu seperti biara ya?” Mereka menjawab: “Ini bukan biara. Ini rumah bersama, dimana kami bisa menghidupi kasih persaudaraan”.
Pastoran dan komunitas-komunitas kita mesti menjadi rumah persaudaraan. Di sana kita menghadirkan diri sebagai imam-imam persekutuan. Kadang tidak mudah membangun persaudaraan dalam komunitas. Ada perbedaan pendapat dan selera pastoral. Kita imam mesti berani hadir di tengah situasi itu. Kehadiran kita menjadi tanda terpercaya dari kehadiran Roh yang mengilhami kita untuk menjadi satu(Yohanes 17, 21).
Di sana kita mengalami dan menghayati indahnya sebuah mistik perjumpaan.
Keindahan mistik perjumpaan meneguhkan kita untuk saling mendengar. Juga kemampuan untuk mencari cara-cara baru yang berkualitas. Di sana kita hidup dalam terang relasi Allah Tritunggal, yang menjadi model hubungan antar kita.
Ketiga, memeluk masa depan dengan harapan. Kita mau menghidupi panggilan imamat kita dengan memandang masa depan penuh harapan. Kata Paus Fransiskus dalam EG 6: “Ada orang-orang Kristen yang hidupnya seperti masa prapaskah tanpa paskah. Namun saya mengerti bahwa sukacita tidak dialami dengan cara yang sama di semua tahap dan keadaan hidup, yang kadang amat berat. Kita tidak pernah bisa menjadi manusia yang hanya berduka. Kita adalah manusia paskah, manusia haleluja dan nyanyian pujian kita adalah nyanyian kemenangan atas maut. Kita bukan hanya manusia salib jumat agung, tetapi manusia paskah, manusia kebangkitan”.
Melalui pesan ini paus mendorong kita agar tidak berhenti menjadi gereja yang terus berwajah jumat agung: muram, marah, mengeluh, selalu lihat kurang, takut rugi, mukanya sedih dan suasana liturgi penuh kesedihan. Identitas kita adalah manusia menang, manusia paskah.
Salib itu jalan, tetapi finisnya adalah paskah. Kotbah kita mesti membuat orang dibangkitkan, berjuang penuh harapan. Umat tidak melihat komunitas kita seperti kuburan karena selalu sepi, selalu sibuk dan tidak suka umat datang. Pastoran itu tempat cerita dan ruang kegembiraan. Pastoran boleh sederhana. Makan minum apa adanya. Tapi ketika kita makan satu meja, pasti ada suka cita persaudaraan.
Saya ingat saat pesta perak Rm. Feliks Jawa di Doka, 13 September 2024, Uskup Budi memberi sambutan menggelitik: “Satu hal yang sangat penting bahwa revolusi kemanusiaan, kebudayaan, keagamaan dimulai di meja makan. Rujukannya adalah perjamuan malam terakhir Yesus bersama murid-muridNya. Tapi juga semua bentuk perjamuan. Ekaristi adalah perjamuan persaudaraan. Semua revolusi terjadi karena kita memiliki derajat yang sama, entah itu orang berdosa atau yang berpikir paling suci, miskin kaya, yang berkuasa atau tidak. Kita duduk di meja yang sama, berbagi derajat yang sama oleh Tuhan. Kita diundang oleh Tuhan sebagai tuan pesta. Perhatian untuk semua merupakan kewajiban kita, terutama seorang imam”.
Kita tahu kesulitan yang sedang dialami oleh gereja kita saat ini. Ekonomi sulit karena krisis keuangan global. Muncul ancaman relativisme, orang tidak bisa bedakan lagi benar salah. Muncul propaganda yang mengabaikan relevansi iman bagi pembentukan karakter kehidupan sosial. Dalam situasi ketidakpastian seperti ini, kita dipanggil membawa harapan, buah iman kita akan Tuhan sejarah, yang terus menerus berkata kepada kita: ‘Jangan takut….sebab aku menyertai engkau”(Yeremia 1,8).
Saya ingat kata-kata peneguhan Paus Fransiskus: “Harapan itu tidak didasarkan pada data statistik atau pencapaian kesuksesan, tetapi pada Dia yang kita percayai(2 Timotius 1,12). Bagi Dia tidak ada yang mustahil”(Lukas 1,37). Inilah harapan yang tidak mengecewakan. Inilah harapan yang memampukan kita mulai menulis dengan baik sejarah hebat di masa depan.
Masa depan itulah yang selalu kita pandang. Kita percaya bahwa Roh Kudus terus menyemangati kita untuk melakukan hal-hal besar dalam gereja keuskupan, paroki dan diri kita. Hendaklah hatimu dan imanmu berkobar-kobar seperti dua murid Emaus yang telah berjumpa dengan Yesus(Lukas 24: 13-35). Jangan menyerah kepada godaan untuk memandang segala sesuatu dari segi jumlah dan efisiensi. Dan bahkan lebih-lebih lagi jangan mengandalkan kekuatan sendiri.
Paus Benediktus XVI pernah berkata: “Jangan bergabung dengan deretan nabi-nabi yang menyerukan akhir atau tidak bermaknanya hidup Kristiani dalam masyarakat kita. Tetapi kenakanlah Yesus Kristus dan pakailah perlengkapan senjata terang – seperti diserukan oleh Santo Paulus(Roma 13, 11-14) – dengan tetap menjaga dan waspada”.
Mari kita mulai kembali perjalanan karya kita dengan kepercayaan kepada Tuhan. Santo Fransiskus dari Asisi, ketika dihadapkan dengan maut yang menjemputnya, dia menyemangati para saudara: “Marilah kita mulai lagi, sebab hingga kini kita belum berbuat apa-apa”.
Kematian dalam persekutuan hidup bersama Kristus, tidak memupuskan harapan untuk memulai kehidupan. Keyakinan ini bertumpu pada iman akan kebangkitan Tuhan Yesus, yang mengalahkan kematian. Hidup bukanlah ditiadakan, tetapi diubah dalam wujud baru yang lebih sempurna. Amin.
Terimakasih banyak Romo Stef untuk renungan yg insiratif ini. Sungguh sangat meneguhkan dan menyegarkan kembali pengetahuan lama.