Renungan 5
IMAM DAN PERTOBATAN YANG TERUS MENERUS
Kamis, 13 Agustus 2026; Pkl. 09.00
Oleh: RD. Stef Wolo
Pengantar
Renungan terakhir ini saya beri judul: “Imam Dan Pertobatan Yang Terus Menerus”. Saya ingin menggugah kita dengan sebuah pertanyaan: “Apakah arti yang terkandung dalam pernyataan pertobatan yang terus menerus?”
Kita para imam sudah sering menyerukan dan mengajak umat untuk melakukan pertobatan. Kita memang dipanggil untuk itu. Saya mengajak kita merefleksikan arti konkrit pertobatan.
Yang jelas pertobatan selalu ada hubungan dengan pembaharuan hidup. Perubahan cara berpikir, cara bertindak, cara bergaul yang semakin selaras dengan kehendak Tuhan. Pertobatan kristiani selalu bersumber pada perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Pertobatan kristiani yang sejati selalu mendorong orang untuk melakukan tindakan nyata. Saya mengajak kita untuk membaca kisah Sakeus dalam Lukas 19, 1-10. Kisah ini menggambarkan proses melakukan pertobatan.
Membaca Teks Lukas 19, 1-10
Kita telah membaca dan mendengar bersama teks ini. Kita coba mengamati dan merenung lebih dalam. Sesungguhnya ada empat tahap proses pembaharuan diri Sakeus.
Pertama, tahap rasa ingin tahu. Sakeus berusaha melihat Yesus. Dia pendek, dihalangi orang banyak. Bahkan ia sering dipermalukan. Dia adalah orang Yahudi yang bekerja pada pemerintah Romawi. Sakeus dibenci dan dipandang sebagai pengkhianat karena pro Romawi. Tetapi dia tetap lari, memanjat pohon dan berjuang melihat Yesus.
Sakeus punya segalanya. Dia punya kekayaan, jabatan, pangkat dan kekuasaan. Tapi hatinya kosong. Karena itu dia berusaha melihat Yesus dan ingin tahu tentang Yesus. Filsuf Perancis, Blaise Pascal(1623-1662) katakan begini: “Ada satu kekurangan dan kehausan akan Tuhan di dalam setiap hati manusia yang tidak dapat dipuaskan oleh ciptaan apapun yang ada di dunia ini, selain oleh Tuhan saja”.
Kedua, tahap namanya dipanggil dan martabatnya dipulihkan. Yesus memanggil namanya. Sakeus berarti tulus, bersih, suci. Akan tetapi kehidupan dan namanya bertolak belakang. Perilakunya tidak mencerminkan ketulusan, kebersihan, kesucian dan integritas. Yesus melihat ke atas dan menyebut namanya: Sakeus. Aku harus menumpang di rumahmu. Yesus tidak menunggu Sakeus bersih dulu.
Ketiga, tahap sukacita hidup baru. Tuhan datang mencari dan menyelamatkan Sakeus. Sakeus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
Keempat, tahap konversi atau pertobatan struktural. Pembaharuan pribadinya berpengaruh pada tindakan nyata membangun keadilan sosial di tengah masyarakat. Sakeus berdiri dan berjanji memberikan kekayaan 50 % kepada orang miskin. Ia siap mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang pernah diperas sebelumnya.
Kisah tentang Sakeus membantu kita melakukan proses pertobatan atau transformasi diri sebagai imam.
Pertama, setiap kita imam mesti bersiap melakukan perhentian di bawah pohon. Dalam kehidupan berparokial kita, orang banyak yang bersungut-sungut, menghakimi, terwakili dalam sistem yang mengucilkan orang lain, gossip dan birokrasi paroki. Orang mencap orang lain: jangan dia, itu orang berdosa. Kita imam bisa tergoda untuk mengikuti rombongan ini. Tetapi sikap dan tindakan Yesus berbeda. Dia berhenti. Dia lihat ke atas, ke yang kecil, yang di pinggir, yang dikucilkan.
Kita coba membaca ensiklik Magnifica Humanitas. Paus Leo mengingatkan kita, agar tidak bertindak atas dasar paradigma tehnokratis yang mengukur umat kita dari segi rajin, aktif atau dana besar. Kita imam perlu memiliki mata seperti Yesus. Melihat dan mencari Sakeus-Sakeus di wilayahnya. Kita perlu berhenti di bawah pohon mereka. Para nara pidana, pejabat yang korup, LGBT: Lesbian(sama wanita), Gay(sama pria), Biseksual(pria dan wanita) dan Transgender(identitas gendernya tidak sesuai dengan jenis kelamin yang mereka miliki sejak lahir).
Saya punya pengalaman perjumpaan dengan LGBT. Satu kesempatan saya membuat wawancara persiapan pemakaman seorang bapa. Empat laki-laki datang ke pastoran. Saya berpikir keempat orang ini merupakan anak-anak dari almarhum. Si sulung memperkenalkan diri. Saya Michael. Lalu ia memperkenalkan laki-laki disebelahnya. Ini Robert istri saya.
Laki-laki kedua memperkenalkan diri. Saya Heribert. Dan ini Yohan suami saya. Syukur saya sudah tahu situasi Eropa dan Swiss.
Wajah dan air muka saya tidak berubah. Saya menyapa penuh kehangatan: “Saya senang bisa bertemu kamu bersama pasangan. Saya bersukacita dan bahagia. Dukacita mendalam atas kepergian ayah kamu. Kita siapkan yang terbaik untuk upacara pemakaman ayah kamu”.
Kedua, kita imam mesti bersedia dan membiasakan menyebut nama pribadi orang, dari pada terlebih dahulu menyodorkan aturan-aturan atau larangan-larangan. Yesus menerima Sakeus. Ia tidak ikut menghakimi Sakeus dan membeberkan aturan-aturan. Sapaan pribadi mendahului penetapan aturan-aturan. Tugas imam dalam hal ini adalah menyapa nama umat. Imam datang duduk mendengar, berkunjung agar orang berani turun dari pohon dan membuka rumah.
Ketiga, kita imam mesti siap merayakan sukacita pertobatan. Sakeus bersukacita dan Yesus merayakan dengan menyatakan “Hari ini terjadi keselamatan atas rumah ini”. Kita imam menjadi agen peradaban cinta kasih.
Bukan menjadi seorang satpam surga yang mengecek KTP dosa. Imam menjadi tuan rumah yang mengatakan “Hari ini terjadi keselamatan di rumah ini”. Kita rayakan setiap ada Sakeus baru yang berani bertobat dan membagikan sebagian hartanya bagi orang miskin.
Ilia Delio, biarawati Fransiskan, teolog, penulis dari Amerika memberikan pemahaman khusus tentang arti sebuah pertobatan atau pembaharuan diri.
Dia mengatakan bahwa retret tahunan adalah salah satu usaha pimpinan keuskupan agar kita imam tetap menjalani kehidupan ini sebagai pertobatan atau pembaharuan diri yang terus menerus.
Menurut Ilia Delio, pertobatan berarti aksi berbalik dari betapa beratnya hidup dalam beban kuasa dosa. Dari cara hidup yang berpusat pada diri sendiri, menuju suatu cara hidup berdasarkan daya Roh Allah yang membebaskan. Pertobatan dalam pengertian ini mengandung suatu gerakan dari gaya hidup apatis.
Kita tidak peduli akan kebaikan hidup orang lain atau mahluk ciptaan lain menuju suatu gaya hidup penuh perhatian pada kesejahteraan hidup mereka. Suatu gaya hidup penuh belarasa. Gaya hidup yang memberi nilai pada diri kita, yang mempunyai kemampuan melibatkan perasaan penuh belas kasih terhadap hidup sesama atau alam ciptaan Tuhan.
Gagasan Ilia Delio tentang pertobatan ini sejalan dengan pandangan Paus Fransiskus mengenai adanya “transformasi dalam perutusan gereja”. Saya pernah mendengar sharing seorang diakon awam dari Jerman. Namanya Bernhard Lindner. Dia bekerja sebagai supervisor keuskupan Basel. Selama 10 tahun ia menjadi sukarelawan, volunter di Peru, Amerika Selatan. Di sana dia bekerja di Caritas Keuskupan. Dia mensharingkan gerakan pertobatan atau transformasi pribadi melalui kisah nyatanya.
Pimpinan Caritas menempatkan dia di sebuah kota kecil, wilayah pegunungan yang sangat dingin. Karitas mempunyai program memberi bantuan kepada orang miskin yang meminta pertolongan mereka. Dia mendapat tugas untuk membagikan.
Saat awal bertugas, dia pikir hanya sebatas berbagi bantuan. Memberi makanan atau bantuan lain awalnya tidak menyentuh hatinya. Tetapi ketika dia memberi waktu dan hatinya untuk mendengarkan kisah cerita kehidupan orang-orang miskin ini, proses pertobatan mulai terjadi.
Hatinya mulai tergerak dan sikapnya mulai berubah. Dia mulai berubah cara memandang mereka. Bukan lagi sekedar para peminta-minta. Tetapi kini dia menghargai mereka sebagai sesama atau pribadi yang kisah hidupnya perlu didengar atau ditanggapi.
Situasi itu mengubah dia. Dia mulai keluar dan pergi mengunjungi tempat orang-orang miskin itu hidup dan tinggal. Dia menyaksikan realitas kehidupan orang-orang ini yang keras dan sulit. Dia menemukan rumah mereka yang amat sederhana.
Sejak saat itu, dia berusaha melakukan tindakan kasih yang lebih besar dari pada sekedar berbagi makanan atau bantuan. Itulah dasar jalan pertobatannya. Dia menjadi manusia yang berubah. Dari pembagi bantuan semata-mata menjadi pembawa belas kasih Allah yang penuh sukacita.
Orang-orang miskin telah mengubah dia. Dari pribadi yang tidak peduli kehidupan orang lain menjadi pribadi yang memiliki belarasa, penuh peduli pada kehidupan sesama. Dia mengakui Allah membuka matanya untuk melihat orang-orang yang membutuhkan perhatiannya.
Demikian sharing dari Bernhard. Dari sharing ini saya mengajak kita merefleksikan corak-corak pertobatan yang dapat membantu ketika kita berkomitmen melakukan pembaharuan hidup.
Corak-Corak Pertobatan
Pertama, pertobatan personal. Pertobatan selalu dipahami sebagai suatu proses transformasi dan pembaharuan jati diri, dalam sebuah bingkai yang lebih manusiawi dan holistik. Pertobatan yang ideal merupakan tindakan penuh kesadaran akan adanya kemungkinan perubahan pola hidup dan cara berpikir. Di sini pertobatan tidak hanya menyentuh kesadaran membentuk kembali cara berpikir. Tetapi juga mesti berdampak dalam ranah kehidupan sosial politik dan bermasyarakat.
Imam menjadi agen peradaban cinta kasih dengan membangun hidup dalam perdamaian. Imam itu pembawa damai, pencipta persatuan hidup yang sejahtera. Kita mengutamakan kebaikan bersama serta keadilan sosial yang menyeluruh. Semua hal ini dipahami sebagai buah dari tindakan pertobatan yang murni. Pertobatan personal terjadi karena kita terbuka pada bimbingan Roh Tuhan sendiri. Kita perlu bekerja bersama Allah dan siap melaksanakan buah-buah pertobatan.
Kedua, pertobatan struktural. Struktur-struktur perlu dibaharui dan direvisi ulang. Struktur rumah, komunitas Unio, struktur finansial, struktur kepemimpinan. Hari-hari retret bisa menjadi kesempatan menganalisa struktur yang mewarnai hidup kita. Ada struktur berdosa yang menciptakan dosa struktural. Kita ingat akan bentuk-bentuk struktur yang berdosa. Misalnya, struktur kepemimpinan yang menindas atau primordial. Struktur dan manajemen pengelolaan keuangan yang tertutup bahkan korup. Struktur pemerintahan yang kotor dan sukuistis.
Karena itu kita imam perlu mengembangkan spirit solidaritas, spirit inklusivitas, spirit persaudaraan.
Penataan keuangan mengikuti sistem manajemen akuntabel. Dapat dipertanggungjawabkan serta transparan. Sejak tahun ajaran baru semua keuangan seminari dibayar lewat BRIVA BRI. Beras dan kacang diuangkan dan dibayar via BRIVA. Sebentar lagi pembayaran gaji semua yang bekerja di seminari, termasuk para Romo juga via rekening pribadi. Kita menginginkan peningkatan kualitas tata Kelola keuangan.
Orientasi struktur itu mesti menjamin terwujudnya kepentingan dan kesejahteraan umum dalam gereja paroki, institusi keuskupan dan lembaga pendidikan. Bukan kesejahteraan sekelompok orang atau suku. Menghargai martabat sesama manusia menjadi jalan untuk mengatasi dosa struktural ini.
Ketiga, pertobatan ekologis. Harta kekayaan spiritualitas kristiani, memberi sumbangan berharga pada upaya memperbaharui peradaban kemanusiaan yang bersaudara dan penuh kasih. Tanggal 24 Mei 2015, Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Laudato Si atau Terpujilah Engkau.
Melalui ensiklik ini, Paus Fransiskus menawarkan kepada kita suatu kerangka spiritualitas ekologis yang berakar dalam keyakinan iman kita. Karena apa yang diajarkan injil kepada kita memiliki konsekuensi terhadap cara berpikir, perasaan dan cara hidup. Maka yang penting bukanlah sekedar berbicara tentang ide-ide. Yang kita butuhkan itu motivasi yang lahir dari spiritualitas. Supaya bisa menumbuhkan, melestarikan alam dan melakukan hal-hal besar, tidak cukup hanya sebatas gagasan.
Kita membutuhkan pengalaman mistik. Pengalaman perjumpaan dengan Allah yang menggerakan kita. Kita memerlukan dorongan batin yang memberikan semangat dan makna pada aktivitas individu dan komunal kita.
Kita harus mengakui bahwa kita umat kristiani, tidak selalu menyerap dan mengembangkan kekayaan yang diberikan Allah kepada gereja, dimana kehidupan rohani tidak terpisah dari tubuh jasmani kita sendiri. Atau dari alam, realitas dunia ini. Tetapi justru dihayati bersamanya, di dalamnya dan dalam persekutuan dengan sama saudara. “Padang gurun eksternal di dunia sedang meluas, karena gurun-gurun internal telah menjadi begitu luas”, tegas Paus Fransiskus.
Inilah krisis ekologis yang mendesak kita untuk melakukan pertobatan batin yang mendalam. Gurun-gurun internal itu terdapat pada orang-orang Kristen yang berkomitmen dan berdoa, tetapi cenderung meremehkan kepedulian terhadap lingkungan, dengan alasan realisme dan pragmatisme. Realisme artinya menampilkan sesuatu secara jujur, apa adanya, realistis, tanpa dramatisasi. Pragmatisme artinya melihat sesuatu dari sisi manfaat, serta hasil praktisnya untuk kehidupan nyata. Banyak juga sama saudara kita yang tinggal pasif. Tidak peduli dengan pengrusakan lingkungan hidup. Tak berani mengubah kebiasaan konsumtif, rakus dan tamak, buang sampah tidak pada tempatnya.
Kita membutuhkan pertobatan ekologis. Kita membiarkan seluruh buah perjumpaan kita dengan Yesus Kristus berkembang dalam hubungan kita dengan dunia sekitar kita. Menghidupi panggilan untuk melindungi karya Allah adalah bagian dari kesalehan hidup. Jadi bukan sekedar suatu pilihan atau aspek sekunder dalam pengalaman kristiani.
Saya mengajak kita mengingat semangat dan keteladanan hidup Santo Fransiskus dari Asisi. Kita akhirnya menyadari bahwa hubungan yang sehat dengan dunia ciptaan merupakan salah satu dimensi pertobatan manusia yang utuh. Ini berarti pula mengakui segala kesalahan, dosa, kejahatan atau kelalaian kita. Dan bertobat dengan sepenuh hati, pembaharuan hidup harus datang dari dalam lubuk hati. Pertobatan ekologis dilaksanakan dalam bentuk pertobatan ekologis personal dan komunal.
Memperbaiki situasi yang begitu kompleks, yang dihadapi dunia masa kini, mesti berawal dari komitmen pribadi untuk bertobat. Kita harus menjadi pribadi yang ekologis. Artinya tidak bersifat tamak. Kreatif untuk melawan sikap konsumtif. Menggunakan barang atau menghabiskan uang untuk kebutuhan sesaat. Perlu menjadi manusia yang peduli dan mengatasi pola pikir utilitarian(mengutamakan kegunaan dan manfaat praktis). Dan akhirnya menyerah kepada konsumerisme tanpa etika, konsumerisme tanpa kesadaran sosial atau ekologis.
Masalah-masalah sosial harus diatasi oleh banyak orang, berjejaring dengan banyak pihak dan masyarakat luas. Tuntutan-tuntutan tugas dan pelayanan kita begitu besar. Prakarsa individual tidak cukup menyelesaikan persoalan. Juga membutuhkan kerjasama kaum terdidik. Mereka tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita memerlukan kolaborasi pelbagai kekuatan. Pertobatan ekologis komunal menuntut sikap yang siap melindungi, murah hati dan lembut.
Sementara pertobatan ekologis personal perlu dilengkapi dengan mekanisme yang menciptakan perubahan berkelanjutan. Pertobatan komunal itu ditampilkan dengan beberapa cara.
Pertama, menghidupi rasa syukur dan kemurahan hati. Artinya ada pengakuan bersama bahwa alam semesta ini merupakan anugerah yang diterima dari kasih Bapa. Sikap bersyukur yang menyadari kemurahan hati Allah akan menghasilkan pengingkaran diri dan kemurahan hati tanpa pamrih.
Saya ingat dua kata bahasa Jerman: danken dan denken. Danken artinya berterima kasih atau mengucap syukur. Sedangkan denken artinya berpikir atau memikirkan. Ada filosofi orang-orang berbahasa Jerman: “Siapa yang berpikir benar, dia juga bersyukur. Siapa yang berpikir tentang kehidupannya, termasuk kita imam, dia tidak akan bersikap lain selain berterima kasih atas semua anugerah Tuhan dalam hidupnya. Rasa syukur adalah ungkapan hati. Orang yang tahu bersyukur adalah mereka yang berpikir dengan hati”.
Kedua, pertobatan itu juga menyiratkan kesadaran penuh kasih bahwa kita tidak terpisahkan dari mahluk lainnya. Bersama seluruh jagat raya, kita manusia tergabung dalam suatu persekutuan universal yang indah.
Ketiga, dengan meningkatkan kemampuan khusus yang telah diberikan Allah. Pertobatan ekologis mendorong orang beriman untuk mengembangkan antusiasme dan kreativitasnya. Untuk menghadapi masalah dunia dengan mempersembahkan diri kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan”(Roma 12, 1).
Kita semua mempunyai kelebihan. Kita tidak melihat kelebihan dan keunggulan pribadi sebagai alasan untuk memegahkan diri. Atau mendominasi secara tak bertanggungjawab. Setiap kelebihan harus dipandang sebagai kemampuan berbeda, yang pada gilirannya membutuhkan tanggung jawab besar yang lahir dari iman.
Paus Fransiskus mengajak semua umat kristiani dan kita para imam agar memberi diri untuk bertobat, dengan membiarkan kekuatan dan terang rahmat yang bekerja, meluas pula relasi mereka dengan mahluk lain dan dunia sekitar. Dengan demikian kita membangkitkan persaudaraan mulia dengan seluruh ciptaan, seperti yang dihayati oleh Fransiskus dari Assisi. Menjelang akhir hayatnya, tahun 1224, Santo Fransiskus Assisi menulis Gita Sang Surya atau Kidung Saudara Matahari. Ia mengungkapkan rasa syukur atas ciptaan Tuhan. Dia memandang elemen-elemen alam seperti matahari, air, angin dan bumi sebagai saudara dan saudari.
Keempat, pertobatan misioner. Untuk mengikuti Yesus Kristus kita membutuhkan perubahan hati. Dengannya kita siap menjadi misionaris. Menjadi orang yang siap diutus. Pertobatan ini mencakup kesadaran akan pentingnya perubahan hidup dan terdorong untuk membagikan pengalaman iman dan kasih kepada orang lain.
Pertobatan misioner bertujuan membaharui gereja menurut citra misi cinta kasih Kristus sendiri. Melibatkan komitmen untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus Kristus dan mengikutiNya. Oleh karena itu para murid dipanggil untuk menjadi terang dunia(Mateus 5, 14). Gereja sendiri menjadi lebih bersinar ketika membawa karunia adikodrati iman kepada manusia.
Implikasinya: seorang meninggalkan cara hidup lama dan memilih untuk mengikuti Yesus Kristus serta memiliki komitmen yang kuat untuk melayani orang lain dan menjadi saksi Kristus.
Dalam surat pastoralnya Evangelii Gaudium 19-24, Paus Fransiskus sangat menekankan pentingnya spiritualitas misioner. Kita siap diutus kemana saja untuk memberi kesaksian akan kebaikan Allah dalam diri Yesus Kristus.
Dimensi misioner dari tindakan pertobatan menghantar kita untuk keluar dari kenyamanan dan kemapanan. Bapak Uskup dan rekan-rekan imam, marilah kita memulai petualangan baru demi kebaikan bersama dan terbangunnya Kerajaan Allah di Keuskupan Maumere. Tuhan memberkati. Amin.