Renungan 3


KEPEMIMPINAN DI TENGAH TANTANGAN HIDUP MENGGEREJA

Kemah Tabor: Rabu, 12 Agustus, Pkl. 09.00
Teks Kitab Suci: Kisah Para Rasul 6: 1 – 7


Oleh: RD. Stef Wolo


Gereja perdana di Yerusalem mengalami pertumbuhan pesat. Jumlah pengikut Yesus semakin bertambah. Orang-orang Yahudi berbahasa Yunani bersungut-sungut kepada orang-orang Ibrani. Karena janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

Para rasul segera berkumpul. Mereka harus mengambil langkah baru untuk menjawabi masalah kekurangan personalia dalam gereja perdana. Untuk mengatasi masalah itu, mereka memilih tujuh orang baru. Ketujuh orang untuk mengatasi kekurangan tenaga sekaligus memperkuat kepemimpinan para rasul. Mereka yang terpilih harus memiliki kualitas tertentu: harus terkenal baik, penuh dengan Roh dan hikmat.

Bagaimana proses pemilihan ketujuh diaken atau pelayan baru itu? Para rasul memanggil semua murid. Mereka duduk bersama dan mendengar keprihatinan-keprihatinan. Mereka terbuka mendengar pandangan bersama dan memberikan masukan.

Kita membicarakan dan merefleksikan  gereja yang kita cita-citakan. Gereja yang  dicita-citakan tak terlepas dari peran kita sebagai gembala atau pemimpin. Dalam refleksi ketiga ini saya mengajak kita untuk mendalami peran kegembalaan dalam gereja. Hal yang berkaitan dengan kepemimpinan dan formasi lanjutan kita. Kepemimpinan dalam konteks gereja kita, sejatinya tidak  mengedepankan kekuasaan, jabatan atau status.

Kita mengambil bagian dalam kepemimpinan Yesus Kristus. Kepemimpinan Yesus mengedepankan  pelayanan. Seringkali kita mencampuradukan spirit kepemimpinan dalam gereja dengan semangat kekuasaan duniawi. Kita dipanggil untuk menghidupi spirit kepemimpinan Yesus, kepemimpinan hamba(servant leadership) yang berbasis nilai-nilai injili seperti kasih, kerendahan hati dan pengorbanan

Kita para imam telah melewati proses persiapan diri yang cukup panjang. Mulai dari seminari menegah, kelas-kelas persiapan, tahun rohani/novisiat, studi filsafat, praktek pastoral dan studi lanjutan teologi. Proses formasi dari tahun ke tahun membawa banyak perubahan.

Rumah-rumah dan tempat-tempat pembinaan telah meletakan dasar yang baik dan seimbang untuk mewujudkan cita-cita imamat. Keseimbangan kepribadian, intelektual, kebijaksanaan, kerohanian dan sosial pastoral membuat panggilan kita menjadi sesuatu yang membahagiakan. Kita memiliki banyak kesempatan pembekalan kepemimpinan pastoral, menerima tugas dan tanggung jawab untuk memimpin umat kita.  

Tri Tugas Imam

Setelah ditahbiskan menjadi imam, kita menerima dan memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Pertama, kita imam diberi karunia untuk memimpin. Munus Governandi. Munus artinya tugas, jabatan, pemberian.

Governandi artinya memimpin/mengatur. Ada kaitan dengan kata gubernare, mengarahkan, memerintah atau memimpin. Munus Governandi artinya tugas memimpin, memerintah.

Kita diberi tugas untuk memimpin atau menggembalakan sebuah paroki dan lembaga-lembaga keuskupan. Kita berusaha mengenal domba gembalaan, umat kita, rekan kerja kita satu demi satu. Kita mencari domba yang hilang(Yohanes 10, 11). Kita mengatur dewan pastoral, menata komunitas basis dan kelompok-kelompok kategorial lainnya. Kita melayani dengan kasih, memperjuangkan keadilan. Kita membela yang lemah.  Kita berusaha merawat harta gereja dengan baik dan jujur. Harta-harta warisan masa lalu dan harta yang baru kita peroleh.

Kita memimpin umat menuju padang rumput yang hijau, menuju kebahagiaan dan persatuan dengan Allah. Kita perlu menyadari diri sebagai CEO(Chief Executive Officer) atau pemimpin perusahaannya Tuhan.  Kita memegang jabatan eksekutif tertinggi di dalam paroki atau lembaga. Kita diharapkan bisa memimpin paroki atau institusi gerejani, mengambil keputusan strategis dan menjalankan karya pastoral paroki. Kita menjadi pemimpin yang bijaksana.

Gereja Eropa, secara khusus Swiss mengalami Priestermangel, kekurangan imam atau Personalmangel, kekurangan personalia untuk bekerja di gereja atau paroki. Karena kesulitan itu, keuskupan melalui proses panjang berusaha menyatukan  paroki-paroki menjadi ruang-ruang pastoral bersama(Pastoralraum). Dalam konteks kita, paroki-paroki disatukan ke TPAPT. Keuskupan menempatkan imam, atau diakon awam, atau teolog awam untuk mengepalai Pastoralraum dan team pastoralnya.

Negara Swiss mengenal dualsystem dalam tata kelola kehidupan menggereja. Di satu sisi, katekis, diakon, kepala paroki(bisa awam atau diakon), pastor paroki dan Uskup sebagai pimpinan tertinggi. Mereka ini disebut Seelsorger. Artinya orang yang memelihara jiwa, merawat spiritualitas umat paroki. Mereka mengurus pembinaan, pewartaan dan liturgi. Kita hanya mengontrol uang intensi, sumbangan, warisan/legat dan kolekte. Dewan paroki tidak mencampuri apa yang menjadi tugas fungsionaris pastoral.

Di sisi lain setiap paroki memilih lima orang untuk menjadi anggota dewan paroki. Mereka ini disebut Kirchenpflege. Orang-orang yang merawat gereja. Mereka membentuk persekutuan dewan paroki tingkat negara bagian atau kanton yang disebut Landeskirche. Mereka mengurus keuangan pajak gereja, personalia, asset dan bangunan. Kita pastor dan team diminta hadir dan turut memberikan masukan.

Kedua, mengajar(munus docendi) sebagai nabi. Kita mewartakan injil melalui homili, kotbah, katekese, rekoleksi dan retret. Kita menjadi pengajar iman(menjelaskan ajaran iman dan moral gereja). Kita mencari dan mengajak pulang yang tersesat. Kita perlu mempersiapkan diri secara baik, termasuk kotbah. Kotbah-kotbah yang mengena dan singkat. Ada refleksi biblis dan pesan yang menyentuh situasi nyata. Seringkali kita tergoda membawakan kotbah lucu, tanpa refleksi biblis yang mendalam.

Saat tiba di Eiken-Swiss, Desember 2014, saya minta pastor paroki Alexander Pasalidi, peranakan Yunani-Italia melatih cara membaca doa-doa, kitab suci, menyiapkan kotbah dan berkotbah dari mimbar.

Dia berdiri di belakang, mendengar dan memperbaiki. Bahasa Jerman itu sulit. Apalagi saya belajar pada usia 47 tahun. Kita harus rendah hati untuk belajar dan siap diperbaiki.

Ada satu kebiasaan baik di Swiss. Sebelum penerimaan sakramen-sakramen babtis, ekaristi, pernikahan atau sebelum upacara pemakaman kita imam perlu bertemu dan berbicara bersama keluarga tentang semua persiapan. Mulai dari model ibadat(misa, ibadat sabda, atau langsung di pekuburan), teks-teks bacaan, lagu-lagu, termasuk lagu kesukaan dan riwayat hidup.

Ketiga, kita imam memiliki tugas menguduskan(munus  sanctificandi). Kita menguduskan umat lewat perayaan-perayaan. Kita menjadi tangan Tuhan yang memberkati. Kita memimpin upacara liturgi, yang berpusat dan berpuncak dalam ekaristi. Kita melayani sakramen babtis, krisma, pengakuan, pengurapan, imamat, pernikahan dan orang sakit. Kita memimpin doa, devosi, adorasi, ibadat pemberkatan.

Seorang senior pernah mengingatkan:” Kita perlu bijaksana, agar tidak menjadi seperti tukang sakramen. Cepat dan tergesa-gesa. Sering kali asal jadi, tidak mendalam dan tidak dari hati”. Setelah ditahbiskan, kita diutus untuk melayani, memimpin umat di paroki, sekolah atau institusi. Ada yang sudah sangat lama memimpin, termasuk di paroki dan lembaga. Apresiasi istimewa untuk sama saudara.

Dalam konteks tugas dan hidup sebagai pemimpin, saya mengangkat aspek-aspek yang mesti dimiliki seorang pemimpin umat. Ada beberapa corak kepemimpinan. Kita perlu mengembangkan corak-corak ini agar membawa dampak bagi umat.

Mereka semakin percaya kepada Kristus. Mereka tetap mencintai gereja katolik dengan keteguhan hati dan meski seringkali bersikap kritis pada gereja dan kita para pemimpinnya. Saat berada di Eropa, saya selalu berpikir bahwa kepemimpinan seorang imam mesti bercorak multi dimensi.

Berdasarkan kitab suci serta kekayaan tradisi gereja katolik dan Magisterium Gereja, saya mengangkat corak-corak kepemimpinan yang mesti kita miliki dan  hidupi secara integral.

Pertama, kepemimpinan bercorak visioner. Kepemimpinan visioner adalah sebuah gaya kepemimpinan yang melihat jauh ke depan. Ia mampu merancang tujuan masa depan,  berani mengambil tindakan konkrit dan menginspirasi orang-orang lain untuk mewujudkannya. Pemimpin visioner mesti memiliki unsur-unsur ini dalam dirinya. Kemampuan untuk melihat masa depan yang dikehendaki Allah. Hal itu diperoleh bukan berdasarkan survei. Tetapi dari doa,  percakapan intens dengan Allah dan bacaan-bacaan berkualitas.

Selain itu dia mampu merumuskan visi-visinya dengan bahasa yang sederhana, terang dan jelas. Visi jangan tinggal dalam pemikiran seorang imam saja. Butuh kebersamaan menemukan jalan konkret untuk melaksanakan visi itu. Semua kegiatan, uang diarahkan untuk  mencapai visi itu. Mampu mendorong umat kita untuk melaksanakan visi besar hidup mereka. Mereka menjaga dan menghidupkan api semangat yang bernyala-nyala pada teman-teman seperjalanan untuk melaksanakan visi hidupnya. “Bila pemimpinnya tidak memiliki aspek visioner, semua rencana hidup kegembalaan tinggal tetap di spanduk dan baliho”, kritik seorang umat.

Musa dalam Keluaran 3, 7-10, hidup dalam janji besar Allah. Janji untuk membebaskan orang Israel dari Mesir dan menghantar mereka ke tanah terjanji. Musa sebagai pemimpin visioner menjalankan visi besar Allah itu. Meskipun umat Israel sering bertegar hati, bertindak melawan Allah. Ingat motto abang Yos Liwu: “Hari ini jangan bertegar hati”.

Kedua, kepemimpinan bercorak gembala yang baik. Mazmur 23 dan Yohanes 10 mengandung unsur-unsur yang dihidupi oleh seorang pemimpin bercorak gembala yang baik. Pemimpin itu memanggil nama. Ia memanggil dombanya masing menurut namanya(Yohanes 10, 3). Seorang pemimpin mengenal dombanya satu persatu. Bukannya  hanya secara umum. Daftar nama umat ada di otak dan hati pemimpinnya. Bukan hanya di buku babtis. Ini berkaitan dengan komunikasi yang intensif.

Salah satu kekuatan saya merebut hati umat paroki di Swiss adalah menghafal, menyebut nama dan mengenal tempat tinggal mereka. Ketika kita menyebut nama, relasi keluarga dan tempat tinggal, mereka merasa sungguh merasa dihargai secara istimewa.

Tuhan membaringkan daku di padang rumput yang hijau(Mazmur 23, 1-2). Seorang pemimpin memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia memberi makan sampai kenyang. Berusaha secara maksimal memenuhi kebutuhan mereka. Seorang imam berusaha memahami  kebutuhan dasar umatnya. Kita memenuhi kebutuhan rohani mereka melalui pewartaan sabda dan penerimaan sakramen-sakramen.

Bulan Juli 2022 saya meneguhkan pernikahan pasangan penderita cacat fisik: Martin dan Claudia. Keduanya seperti orang stroke, kaki dan tangannya bengkok, jalan miring-miring.

Usia mereka ketika itu 62 dan 61 tahun. Saya sempat ragu-ragu, apakah mereka bisa menjalani hidup berkeluarga. Martin meyakinkan saya: “Stefan, kami memang cacat fisik, tetapi tidak cacat hati dan cinta. Kami punya hak untuk melakukan sesuatu yang bernilai, mencari menemukan sukacita batin dan kebahagiaan bersama. Ketika anda berfokus pada cacat kami, anda akan mengabaikan kemampuan, keindahan dan keunikan kami. Begitu anda belajar untuk menerima dan mencintai kami apa adanya, anda secara tidak sadar belajar untuk mencintai diri sendiri tanpa syarat”. Saya waktu itu diam, malu. Untuk menutup rasa malu, saya ucapkan terima kasih dan apresiasi untuk mereka.

Seorang gembala memiliki keberanian melawan serigala(Yohanes 10, 12). Sementara seorang upahan lari meninggalkan domba-dombanya. Seorang pemimpin mesti berani membela domba-dombanya. Kita membela domba yang lemah, yang hak-haknya dirampas, terkena KDRT, difitnah dan ditindas. Kita mengajak mereka yang tersesat kembali melalui jalan dan cara yang benar.

Seorang pemimpin memiliki tongkat yang menghibur. Mazmur 23, 4 menulis “GadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku”. Tongkat digunakan seorang gembala untuk menopang tubuh saat berjalan, menuntun domba dan melindungi ternak dari bahaya. Tongkat itu lambang otoritas, kekuasaan dan wibawa seorang Gembala.

Ketika Vatikan mengumumkan RD. Roni Pakaenoni menjadi Uskup Agung Kupang, kami teman-teman TOR 89 sepakat menghadiahkan Baculum Pastoralis, tongkat Uskup. Tongkat itu simbol pemeliharaan Illahi. Tuhan yang menuntun dan menghibur.

Kami berharap semoga tongkat Uskup Roni, seperti tongkat Harun yang bertunas sebagai tanda pilihan Tuhan.

Seorang gembala yang baik merayakan pesta kehidupan di hadapan lawan. Mazmur 23, 5 menulis: “Engkau menyediakan hidangan di hadapanku, di depan lawanku”. Kita harus tetap bersyukur dan merayakan ekaristi. Terutama ketika ada masalah, ada yang memusuhi kita, krisis atau tantangan yang bertubi. Situasi krisis menuntut kita merayakan misa lebih meriah. Dalam semangat sebagai gembala yang baik, kita imam  menjaga dan menghidupkan api pengharapan. Juga membangkitkan optimisme umat  dalam kehidupan pribadi dan hidup menggereja.

Ketiga, kepemimpinan bercorak Pontifex atau membangun jembatan persekutuan. Corak kepemimpinan membangun jembatan pada diri seorang imam mempunyai beberapa dimensi.

Dimensi vertikal, membangun jembatan antara Allah dan umatNya. Kita imam adalah penyalur berkat bagi umat melalui pelayanan sakramen-sakramen, terutama ekaristi dan pengampunan dosa. Juga melalui doa brevir, doa gereja yang dilaksanakan para imam mewakili umatnya. Kita berdoa untuk siapapun, termasuk para pemimpin politik dan wakil rakyat.

Saya ingat kata-kata Albert Schweitzer, teolog Lutheran, Filsuf dan musikus Jerman(1875-1965. Dia menulis: “Die Gebete veraendern nicht die Welt. Die Gebete veraendern die Menschen und die Menschen veraendern die Welt. Artinya doa-doa tidak mengubah dunia. Doa-doa mengubah manusia. Manusia-manusia yang kita doakan itulah diharapkan mengubah dunia”.

Dimensi horizontal, membangun jembatan antar manusia yang berbeda suku, adat istiadat dan bahasa. Supaya mereka mampu hidup sesuai semangat injil. Setia membangun persekutuan dan  citarasa iman dengan gereja lokal atau keuskupan. Imam membangun persaudaraan mistik, ikatan spiritual yang kuat antar kita. Atau persaudaraan kontemplatif, sebuah cara hidup bersama yang bersumber pada relasi dengan Tuhan.

Para imam sebagai pemimpin, mengarahkan umatnya agar mahir, mampu memelihara persekutuan dan mempraktikan spiritualitas persekutuan. Imam itu saksi sekaligus perancang bangun rencana kesatuan, yang memahkotai sejarah manusia menurut rencana Allah.

Kita imam itu Pontifex tertinggi tingkat paroki atau lembaga. Para Uskup, Pontifex tertinggi tingkat keuskupan. Dan Paus Pontifex Maximus, jembatan yang paling agung. Tanggal 6 Mei 2025, saya berkesempatan merayakan ekaristi di Kapela Garda Swiss Vatikan. Saya sempat ngobrol dengan Kolonel Lorenz Keutsch, komandan Garda Swiss yang mengawal Paus ke Indonesia, September 2024.

Saya tanya, Lorens mengapa kamu mau menjadi pengawal Paus? Gajinya kecil dan pas-pas. Lebih baik kerja di Swiss. Kamu bisa memperoleh gaji yang layak. Lorens menjawab: “Kami menjaga Pontifex Maximus. Kami mengawal jembatan yang agung. Paus adalah pilihan Tuhan. Dia menjembatani bangsa, agama, benua, suku, ras dan bahasa. Upah kami bukan lagi Euro atau Franken Swiss, tapi sukacita batin karena setia pada sumpah sebagai pengawal Pontifex Maximus”.

Keempat, kepemimpinan bercorak kenabian atau kepemimpinan profetis. Ada beberapa unsur yang dimiliki oleh pemimpin profetis. Mereka dipanggil oleh Allah. Tidak mencalonkan diri atau mendaftarkan diri. Ada yang dipanggil sejak dalam kandungan. “Sebelum aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, aku telah mengenal engkau….

Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Kemanapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi”. Yeremia 1, 4-8.  Para nabi melihat segala hal dari sudut pandang Allah. Allah memberi mereka kemampuan untuk mengamati jaman. Mereka hidup, mengalami dan menafsirkan peristiwa-peristiwa konkrit. Mereka seperti para pengawal yang berjaga pada malam hari dan merasakan datangnya fajar(Jesaya 21, 11-12).

Mereka berani melawan ketidakadilan. Pemimpin profetis tidak akan diam melihat dombanya tertindas. Mereka melihat jauh ke depan, mengingatkan potensi-potensi kehancuran yang ada di depan mata. Pemimpin profetis tegas dalam kebenaran, pikiran jernih dan bersih dari penyuapan. Para nabi juga menghadapi   tantangan dan godaan seperti Elia dan Yunus. Kita imam juga menghadapi godaan.

Kadang menjemukan dan nampaknya tidak menghasilkan buah. Ada godaan untuk melarikan diri.  Lari meninggalkan tugas sebagai nabi. Tetapi banyak nabi bertahan. Mereka mengetahui bahwa mereka tidak sendirian. Seperti pengalaman nabi Jeremia. Kita imam juga tidak sendirian. Jangan lari meninggalkan tugas kenabian kita. Tuhan hadir bersama kita melalui pimpinan, rekan imam dan umat yang setia mencintai kita.

“Janganlah takut kepada mereka, sebab aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau dari cengkeraman mereka(Jeremia 1,8).

Kelima, kepemimpinan yang bercorak melayani(Servant Leader). Seorang imam ditahbiskan untuk melayani umat. Ada aneka ragam situasi kehidupan umat. Ada laki-laki, perempuan yang kehilangan harapan. Keluarga-keluarga yang berada dalam kesulitan. Anak-anak yang dibuang. Orang-orang muda tanpa masa depan. Orang-orang lanjut usia yang miskin perhatian anak-anaknya. Mereka yang sakit dan disingkirkan. Ada yang bergelimang harta duniawi tetapi miskin batinnya. Laki-laki dan perempuan yang mencari tujuan hidup dan haus akan keilahian.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita memerlukan kepemimpinan servant leader. Imam yang servant leader memiliki kualitas-kualitas ini. Imam datang untuk mendengar dahulu. Sebagai pelayan dia mendengar apa yang dibutuhkan umatnya. Berempati – ikut serta merasakan derita, perjuangan umatnya. Mengutamakan penyembuhan, dari pada menghukum. Otoritasnya dipakai untuk memulihkan dan menyembuhkan. Bukan untuk mempermalukan. Selalu memiliki satu kesadaran diri. Bahwa kuasa imamat bukanlah sesuatu yang digunakan untuk kekuasaan, tetapi untuk melayani. Memiliki komitmen untuk membesarkan orang: kaderisasi, delegasi tugas dan kepercayaan pada orang lain.

Keenam. Kepemimpinan bercorak bapak spiritual atau spiritual father. Seorang imam disebut bapak spiritual karena  oleh sakramen imamat dia berpartisipasi dalam kebapaan Allah, untuk melahirkan, merawat dan mendewasakan anak-anak Allah sampai menjadi dewasa dalam Kristus(Efesus 4, 13).

Bersumber pada dokumen Presbyterorum Ordinis, serta beberapa sumber ajaran gereja katolik, seperti Katekismus Gereja Katolik, KHK serta Pastores Dabo Vobis, ada lima tugas pemimpin yang bercorak bapak spiritual pada diri seorang imam.

Melahirkan anak melalui pemberian sakramen babtis, tobat dan ekaristi. Presbyterorum Ordinis menegaskan bahwa imam “melahirkan umat Allah”. Maka seorang imam perlu terlibat dalam mempersiapkan katekumen dengan kasih, serta rayakan babtisan dewasa seperti kelahiran anak sendiri.

Kesediaan memberi makan. Seorang bapak rohani tidak akan membiarkan anaknya lapar. Iya menyuburkan hidup umatNya dengan ekaristi, sabda injil serta bimbingan rohani lainnya. KHK 893 meningatkan imam akan tugas menguduskan umat. Pastoral orang sakit ditingkatkan. Salah satu tugas utama saat di Swiss itu mengunjungi orang sakit dan jompo. Bawa bunga saat ulang tahun. Menyanyi menghibur mereka. Kita juga menyiapkan homili yang baik. Harus disiapkan sungguh kaarena homili itu salah satu bahan makanan rohani bagi umat. Paus Fransiskus memberi perhatian khusus untuk pemberian makanan rohani melalui kotbah atau homili.

Itu terdapat dalam Evangelii Gaudium nomor 135-151: “Marilah sekarang memikirkan khotbah dalam liturgi, yang memerlukan pertimbangan serius dari para pastor. Homili adalah alat uji untuk menilai kedekatan dan kemampuan pastor untuk berkomunikasi dengan umatnya. Homili memiliki arti penting yang istimewa karena konteks ekaristisnya(EG 137). Kesiapan mendidik: imam mendidik umatnya menuju kedewasaan Kristen(PO 6).

Melindungi umatnya dari ajaran sesat, dari segala bahaya perpecahan, hoaks, dosa. Kisah 20, 28-29: “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah anakNya sendiri”.

Memberi berkat kepada umatnya dan mengutus mereka untuk membawa berkat bagi orang lain. Yesus memberkati murid-muridNya. Ia mengutus mereka lalu terangkat naik ke surga(Lukas 24, 50). Ritus berkat penutup perlu diperhatikan sungguh-sungguh agar umat merasakan kebapaan seorang imam. Dan mereka merasa siap diutus oleh Bapanya untuk mewartakan kebaikan Tuhan. Amin. 

Scroll to Top