Pagi Hari Rabu, 05/08/2026
Sesi Persidangan IV Refleksi Biblis
Sesi I : Pengantar Refleksi Biblis
Moderator : Ibu Yansi
Pemateri/Narasumber : RP. Itho Dhogo, SVD
Waktu : 08:30 – 09:00
Pada sesi pendalaman refleksi biblis, peserta diajak untuk merenungkan Sabda Tuhan sebagai dasar dalam melihat dan menanggapi berbagai realitas kegiatan pastoral yang telah terjadi. Refleksi biblis ini juga bertolak dari tema umum dalam Evaluasi Kegiatan Pastoral Tengah Tahun 2026, yakni membangun jembatan pastoral sinodal. Sehubungan dengan itu, maka arah refleksi kegiatan pastoral mesti berawal dari komunitas kecil seperti KBG yang meliputi aspek personalia, komitmen pastoral, wawasan/skill serta spiritualitas. Pater Itho Dhogo, SVD menekankan adanya transformasi di dalam KBG.
Dalam pembahasan ini, Pater Itho membagikan teks-teks Kitab Suci untuk membantu merenungkan realitas pastoral yang telah terjadi dan karena berbicara tentang sabda Allah maka fokus utamanya mengarah pada spiritualitas. Spritualitas menjadi hal penting untuk menggerakan para pelayan pastoral dalam melaksanakan tugas pelayanannya. Spirit inilah yang membuat orang bekerja tanpa memperhitungkan balasan dan bahkan memberi lebih untuk Gereja. Dalam konteks refleksi biblis, Pater Itho tidak menekankan pada sebuah kerohanian transformatif tetapi berfokus pada spiritualitas transformatif. Ada perbedaan antara kedua aspek ini, yakni pada aspek kerohanian berkaitan kehidupan doa pribadi sedangkan spiritualitas jauh lebih militian dari kerohanian. “Sebab bisa jadi umat kita memiliki kerohanian yang tinggi, tetapi tidak memiliki spiritualitas yang kuat”, tandas Pater Itho. Oleh karena itu, berhadapan dengan situasi pastoral saat ini, Pater Itho menekankan tentang pentingnya transformasi spiritualitas dalam diri para pelayan pastoral.
Terdapat empat masalah pokok yang menjadi perhatian utama dalam proses pendalaman biblis kali ini.
- Manajemen pastoral
Hal ini bukan lagi hanya menyangkut distribusi, tetapi juga sudah menyangkut formasi iman. formasi iman terutama bagi para pelayan pastoral harus dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan. untuk itu fokus utama yang perlu kita lihat disini adalah pertobatan paling pertama dan terutama untuk para imam sebagai pelayan pastoral. Pertobatan yang dimaksud di sini adalah sebagaimana yang ditekanan oleh Bapa Uskup pada pertemuan kemarin yakni pertobatan personal, pertobatan komunal, dan pertobatan institusional.
- Tata kelola keuangan Gereja
Pada bagian ini berbicara khusus tentang pengunaan keuangan Gereja (Paroki-Keuskupan) berdasarkan pada basis perencanaan yang jelas.
- Badan Solidaritas KUM
Perlu dilakukan penguatan peran Badan Solidaritas KUM melalui kesedian memberi aksi solidaritas pendidikan dan solidaritas pembangunan.
- PSE- Caritas
Peluang penggunaan sumber dana untuk usaha-usaha produktif telah disiapkan Gereja demi menghindari jebakan pinjaman koperasi harian dan pinjol.
Selanjutnya dilakukan pembagian kelompok pendalaman Kitab Suci berdasarkan empat masalah pokok di atas. Dalam hal ini setiap Paroki yang terdiri dari TPAPT dibagi dalam 8 kelompok dengan masing-masing dua kelompok membahas satu masalah yang sama. Selain itu, fokus pembahasan pada teks Kitab Suci bertujuan untuk membawa setiap orang kepada transformasi yang kemudian membentuk spirit baru dalam pelayanan pastoral.
Sesi II : Pendalaman Refleksi Biblis
Tema I: Untuk Kelompok I dan II
“Manajemen Pastoral: Formasi iman bagi para Pelayan Pastoral dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan”
Kelompok 1 : Fr. Angga Da Cunha
Teks perikop yang dipilih: 2 Timotius 4:1-8
Alasan pemilihan teks: karena ketika berbicara tentang karya pastoral, seorang pelayan pastoral pertama-tama harus mampu memformasi diri teristimewa formasi iman. inti dari fondasi yang kokoh adalah Allah sendiri.
Pesan Teologis: Pertama, formasi iman akan membentuk penguasaan diri yang baik dari seorang pelayan pastoral. Kedua, seorang pelayan pastoral harus mampu menguasai diri, setia dan sabar dalam penderitaan serta berkorban baik dan tidak baik waktunya. Ketiga, kita dipanggil untuk menunaikan tugas panggilan kita akan Allah.
Kelompok 2: Fr Ringgo
Teks Kitab Suci: Yohanes 15:1-8. Kelompok memilih perikop ini dikarenakan teks ini menggambarkan Gereja yang hidup yang bersumber dan berakar dari Yesus yang mengarahkan pada transformasi. Perumpamaan Yesus tentang pokok anggur yang benar merupakan salah satu Gambaran paling kaya mengenai kehidupan Gereja.
Pesan Teologis: Kristus merupakan satu-satunya sumber hidup dan buah pelayanan, supaya kamu berbuah banyak dan menjadi murid-Ku. Berakar dalam Kristus dan berbuah dalam kasih.
Dari tema di atas, ada beberapa peserta sidang yang kembali menegaskan sebagai berikut:
Pertama, suster menegaskan bahwa kedua kelompok tersebut melihat Yesus sebagai arah dan tujuan utama seluruh kehidupan dan pelayanan. Bahwasannya, setiap proses pembinaan, pendampingan dan karya pastoral hendaknya bermuara pada perjumpaan dengan Kristus yang menggerakan setiap orang kepada pertobatan sejati.
Kedua, Pater Itho menegaskan bahwa formasi iman bagi pelayanan pastoral. Karena itu, setiap pelayan pastoral perlu terus membina dan memperdalam imannya agar pelayanan yang dijalankan tidak sekadar rutinitas, tetapi sungguh berakar pada relasi yang mendalam dengan Kristus.
Ketiga, Romo. Lorens Noi berbicara tentang kasih. Beliau menekankan tentang kasih sebagai materi energi. Dan karena itu, kepada tim dituntut untuk melaksanakan sosialisasi dengan semangat pewartaan agar kesadaran solidaritas bertumbuh menjadi lebih baik.
Keempat. Romo. Dus Upi; menegaskan bahwa setiap tindakan memberi harus dilandasi oleh kasih yang melahirkan semangat solidaritas. Selama ini, aksi solidaritas belum sepenuhnya menjadi kesadaran bersama sehingga sebagian orang masih memberi sebatas kewajiban, bukan sebagai ungkapan kasih. Menurut beliau, aksi geser juga belum menjadi budaya yang hidup di tengah umat karena masih kurang didukung oleh semangat spiritual.
Kelima, Romo Felix: kerana menemukan banyak keyataan pastoral secara khusus para pelayan pastoral yang perlu diformasi. Dan ketika orang berangkat pada yesus, ia berangkat dari sabda Allah dan ketika orang berangkat dari sabda Allah ia akan bertransformasi.
Keenam, Bapak Sipri: ada dana tapi tidak diakases. Kalau dana ini dimanfaatkan maka akan berdampak pada pengurangan peminjaman online dan sebagainya. Perluas selaian untuk jenis kegiatannya. Tidak dengan mudah kita mengakses dana dapat mengurangi pinjman online.
Ketujuh, Pater Tomi: satau hal yang dapat dilakukan ialah dengan kegiatan rekoleksi bagi tim pelayan pastoral agar dapat dilakukan penyegaran sehingga mampu memberikan semangat baru.
Kelompok III: Fr. Rigo Djawa
Tema II: Pokok-pokok refleksi atas situasi pastoral: Tata Kelola keuangan Gereja (Keuskupan-Paroki): Penggunaan keuangan Gereja (Keuskupan-Paroki) berdasarkan perencanaan
Teks yang dipilih: Lukas 14:28-30
Alasannya: Karena teks ini memiliki relevan dengan masalah tata kelola keuangan Gereja.
Pesan Teologis: untuk mengikuti Yesus, harus memiliki komitmen, dan punya perencanaan yang matang, jujur dan disiplin, berkualitas, transparansi serta punya kemampuan dalam mengelolah keuangan.
Kelompok IV: Fr. Efron
Teks yang dipilih: Lukas 14:25-28
Alasannya: Karena teks ini berbicara tentang komitmen untuk mengikuti Yesus dan relevan dengan masalah pastoral yang ada di Keuskupan Maumere, dimana pastoran Keuskupan kita sejak awal telah menetapkan perencanaan pastoral berbasis anggaran, maka komitmen berbasis anggaran itu adalah hal yang wajib.
Pesan Teologis: panggilan Allah membutuhkan respons dan tanggung jawab dari kita semua sebagai pelayan pastoral. komitmen yang mutlak untuk mengikuti Tuhan dan melaksanakan karya pastoral sesuai dengan perancanaan.
Tanggapan dan Pendalaman Kelompok III dan IV
Pertama, suster menjelaskan bahwa teks Injil tersebut berbicara tentang ajaran Yesus mengenai kemuridan. Latar belakang perikop ini merupakan bagian dari gagasan besar Injil Lukas tentang panggilan menjadi Murid Kristus.
Kedua, ditegaskan bahwa kemuridan berkaitan erat dengan komitmen untuk mengikuti Kristus. Melalui kisah ini, Lukas menggambarkan panggilan dan syarat-syarat menjadi murid Yesus. Penggunaan kata “sebab” dalam perikop tersebut menunjukkan penegasan bahwa ketiga ayat itu mengajak setiap orang untuk memiliki komitmen yang sungguh dalam mengikuti Kristus.
Ketiga, Pater Itho menegaskan bahwa pesan utama teks ini adalah semangat kemuridan. Oleh karena itu, dalam konteks kehidupan Gereja saat ini, setiap perencanaan dan pelaksanaan pelayanan pastoral hendaknya selalu berlandaskan dan kembali pada semangat kemuridan, sehingga seluruh karya pastoral tetap berpusat pada panggilan untuk mengikuti Kristus dengan setia.
Tema III: Badan Solidaritas KUM: Semangat Solidaritas terungkap dalam kesediaan memberi aksi solidaritas pendidikan dan solidaritas Pembangunan
Kelompok V: Bapak Matheus Dedu Dewa
Teks yang dipilih: 2 korintus 8:1-4
Alasannya: Berbicara tentang solidaritas berarti semangat untuk memberi. Dalam konteks ini berarti bahwa memberi dari keterbatasan dan memberi dengan penuh sukacita. selain itu, memberi secara total dan tidak mengharapkan imbalan.
Pesan Teologis: Tuhan menggerakan kita untuk mampu merasakan penderitaan orang lain agar mau memberi dengan sukacita.
Kelompok VI: Masry Soge
Teks yang dipilih: 2 korintus 8:1-4
Alasannya: Dengan spirit kasih, ada kerelaan dalam memberi, karena kaya dalam kemurahan Tuhan. Selain itu, memberi dengan kasih lebih menggambarkan spirit solidaritas
Pesan Teologis: Kasih karunia Allah membangkitkan kemurahan. sebab Tuhan itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. oleh karena itu, kemiskinan bukan menjadi penghalang untuk berbuat kasih.
Tanggapan dan Pendalamaan
Pater Itho: Berdasarkan pendalaman atas 2 korintus 8:1-4 tampak bahwa solidaritas kristiani bukan sekadar tindakan memberi, melainkan ungkapan kasih yang lahir dari iman kepada Kristus. Jemaat Makedonia menjadi teladan karena mereka tetap bermurah hati meskipun hidup dalam berbagai kesulitan dan kemiskinan. Mereka memberi dengan sukacita, secara tulus, bahkan melampaui kemampuan mereka tanpa mengharapkan balasan. Selain itu, pater itho juga menunjukkan peta dan menjelaskan bahwa di wilayah Korintus Paulus bukan hanya berada dalam penderitaan fisik tetapi juga penderitaan iman di tengah pengaruh budaya Yunani Romawi di Korintus yang syarat dengan penyembahan berhala, perpecahan, dan ketimpangan sosial. Dalam situasi tersebut, Paulus mengajak jemaat untuk meneladani gereja-gereja di Makedonia yang tetap setia, murah hati, dan penuh sukacita dalam berbagi meskipun hidup dalam keterbatasan.
Kelompok VII: Fransiskus Radho
Tema: peluang penggunaan sumber dana untuk usaha-usaha produktif telah disiapkan Gereja demi menghindari jebakan pinjaman koperasi harian dan pinjol.
Teks yang di pilih: Injil Matius 25: 14-30
Alasan: pertama,menyembunyikan Mat. 25: 18, 25: kurangnya informasi dan sosialisasi dari lembaga PSE-Caritas, Pastor Paroki dan PSE Paroki tentang dana yang ada di lembaga PSE-Caritas. kedua,kurangnya pendampingan yang berkelajutan. ketiga,kapasitas, wawasan dan keterampilanumat yang kurang memadai.
Pesan Teologi: Pertama, menjalankan: PSE-Caritas harus melaksanakan sosialisasi dana yang ada sampai ke akarar rumput (KBG). Kedua,pendampingan berkelanjutan. Ketiga,penguatan kapasitan umat yang mau menerima bantuan. Keempat, setia dan bertanggungjawab.
Kelompok VIII: Ibu Yohana Marta Nening
Teks yang dipilih: Injil Matius 25:14-30
Alasan: Karena teks ini sesuai dengan pokok permasalahan yang dibicarakan yaitu menegaskan bahwa Allah telah mempercayakan kemampuan, kesempatan, dan sumber daya kepada setiap orang untuk dikembangkan secara bertanggungjawab. hal ini sejalan dengan misi PSE-Caritas yang mendorong umat untuk memanfaatkan sumber dana usaha-usaha produktif untuk menjebaki pinjaman koperasi harian dan pinjol.
Pesan Teologis: Pertama, Tuhan mau supaya kita melipatgandakan talenta. Talenta yang diberikan, kita kembangkan. (dalam hal ini dana yang kita miliki kita kembangkan agar mempunyai keuntungan untuk diri, dan hidupm kita dan sesama). Kedua, Allah yang meraja dalam hati dengan damai dan sukacita kita rasakan hingga saat ini. tanggungjawab menggunakan talenta sebaik-baiknya adalah tanggungjawab di akhirat.
Pendalaman refleksi biblis
- Pater Itho: Injil Matius ada dikatomi antar orang kaya dan orang miskin. Terdapa injil Matius ditampilkan tentang peristiwa memberi makan. Tapi dengan teks ini sudah menyatakan bahwa ada orang kaya dan ada orang-orang yang membantu.
- Apa itu talenta?: uang.
- Point utamanya ialah peluang yang besar ini tidak diambil oleh orang.
- Suster Jein : Teks ini merupakan bagian dari kotbah Yesus tentang akhir zaman. Teks ini diangkat sebagai pendasaran dalam persoalan badan PSE, dimana ada banyak peluang usaha yang ditawarkan oleh PSE tapi tidak dimanfaatkan oleh umat.
- Komitmen menjadi hal utama. Perubahan dimulai dari induvidu dan kemudian komunal.
- Tanggapan:
- Pater Pene: membahas soial caritas. Pilihan teks sebetulnya memiliki persolan besar dimana ada banyk paroki yang tidak mengakses peluang dari caritas atau PSE. persoalan muncul karena kurangnya sosilaisasi tapi juga soal mentalitas dan ketakutan untuk menerima uang dan kemudian dikelolah. ada kriteria: harus menentukan apa yang harus dibiayai, harus mengerti pengelolahannya dan manajeman keuangan,
- Diakon Oby : pertobatan personal dan komunal memang penting tetapi juga harus adanya keterlibatan dan inisiatif.
- RP. Servas : bukanya umat tidak mengakses dana itu tapi masih ada kesulitan dalam mengakses. Karena itu di setiap Paroki harus mendirikan pos yang kemudian memberikan pengarahan yang baik bagi umat.
- Romo Epi: perlunya pertobatan yang dimulai dari institusi PSE.
Pater Itho menegaskan bahwa kerajaan Allah sudah real dan tugas kita ialah menunjukan kerajaan Allah kepada mereka yang belum mengetahui itu. Jadi kita yang mendekati mereka yang belum tahu. Pemberdayaan itu ada tapi belum ada keaktifan yang baik. Kesedian untuk bertanggung jawab dan juga harus berinisiatif untuk menunjukkan Kerajaan Allah.