Moderator: RD. Doni Migo
Narasumber: Mgr. Edwaldus Martinus Sedu
selasa, 05/08/2026 (Pkl. 17:30-18;15)
Pada sesi ini, Yang Terkasih Bapa Uskup tampil untuk memberikan sedikit gambaran sekaligus arahan yang mendalam mengenai harapan dan cita-cita bersama sebagai satu keluarga besar Gereja Lokal Keukupan Maumere. Pada tempat yang pertama, Bapa Uskup menyampaikan apresiasi dan ucapan terimah kasih kepada seluruh imam, baik yang berkarya di Paroki maupun Lembaga-Lembaga, Para utusan awam, Anggota Dewan Pastoral Paroki, Para Pengurus Komisi Biro Lembaga Paroki, dan para pemimpin kongregasi religious, Para Diakon, dan Diarwan/Biarawati, serta semua yang berkehendak baik dalam seluruh kegiatan evaluasi kegiatan pastoral tengah tahun dan terkhusus pada sesi “dari hati ke hati”. Bapa Uskup menegaskan bahwa pertemuan saat ini bukan sekadar ruang curhat semata tetapi menjadi ruang perjumpaan, dimana ada dialog dari hati ke hati dan saling komunikasi bersama di antara kita untuk seling meneguhkan semangat bersama. Selain itu, momentum ini juga sekaligus mendorong persekutuan, memperkuat partisipasi, serta memperbaharui komitmen bersama di Keukupan Maumere ini untuk kemudian melayani umat Keuskupan Maumere dengan hati yang terbuka.
Adapun semangat sinodalitas yang digaungkan secara gencar dalam sidang KWI 2026 periode pertama ini menjadi momentum untuk semakin memperokokoh kolaborasi semua pelayan pastoral demi menghadirkan Gereja Keukupan Maumere yang semakin relevan, transformative dan menjadi tanda harapan bagi seluruh umat yang sejalan dengan visi bersama: Keuskupan Maumere beriman, sejatra, solider, dan membebaskan dalam terang sabda Allah. dengan demikian Bapa Uskup memberikan penegasan bahwa pertemuan ini menjadi ruang untuk membangun jembatan pastoral sinodal, saling mendengarkan, dan meneguhkan ketakwaan bagi perjalanan pastoral Gereja keuskupan Maumere. Inilah makna sejati Gereja yang berjalan bersama yakni Gereja yang berkarya, pelayan pastoral baik itu Uskup, Imam, Biarawan-biarawati, dan umat untuk senantiasa mendengarkan, berbicara melalui pengalaman, perbuatan, kebijaksanaan, dan mendengarkan harapan seluruh umat. Tema ini lahir dari kenyataan pastoral yang kita alami bersama melalui evaluasi di tingkat KBG, Stasi, Paroki, hingga tingkat Keuskupan. Kita menyadari bahwa ada begitu banyak tantangan pelayanan pastoral yang semakin kompleks entah itu perubahan sosial dan sebagainya. Karena itu, Gereja Keuskupan Maumere dipanggil untuk menjadi pembangun jembatan: jembatan yang menghubungkan imam dengan umat, Paroki dengan Stasi, Stasi dengan KBG, KBG dengan keluarga, generasi tua dengan generasi muda. Jembatan itu hanya dapat dibangun apabila setiap orang mengalami pertobatan personal yakni keberanian untuk membiarkan Roh Kudus mengubah hati kita dari sikap yang tertutup kepada diri sendiri menjadi hati dan cara hidup yang terbuka untuk mendengarkan, dialog dan berjalan bersama.
Selain itu, bapa uskup juga mengingatkan bahwa tradisi evaluasi pastoral bukanlah sesuatu yang baru bagi keuskupan kita bahwa sejak awal berdirinya, keuskupan kita telah membangun budaya merencanakan, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi karya pastoral secara bersama. Budaya baik ini perlu terus dipelihara, diperkuat, bahkan diperluas hingga ke tingkat komunitas basis gerejawi. Dengan demikian, evaluasi pastoral tengah tahun yang baru dilaksanakan ini hendaknya dipahami sebagai kessempatan belajar, dan melihat sejauh mana pelayanan yang telah dijalankan sungguh menjawab kebutuhan umat serta menghadirkan perubahan dalam kehidupan mereka.
Kegiatan evaluasi juga tidak hanya menyoroti berbagai keberhasilan dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan, tetapi juga mencakup dampak perubahan yang nyata dalam kehidupan umat. Dalam hal ini, transformasi dibangun melalui program pastoral yang sistematis dan berfokus pada pengembangan KBG untuk semakin efektif, relevan, dan berbuah dalam mewujudkan persekutuan, partisipasi, dan misi gereja. Berkaitan dengan itu, Bapa Uskup ingin menggarisbawahi tiga poin berikut, pertama, pengembangan komunitas basis gerejawi sebagai fokus utama, di mana umat merayakan doa bersama, saling mengenal, saling memperhatikan, berbagi beban hidup, dan bertumbuh sebagai murid-murid serta memerlukan pelayan-pelayan pastoral. Kedua, regenerasi pelayan pastoral. Dalam hal ini keterlibatan orang muda untuk tugas pelayanan pastoral yang dimulai dari tingkat KBG sangatlah penting. Regenerasi tidak boleh dimulai ketika pengurus lama berhenti, tetapi harus dibangun dan dibimbing secara berkelanjutan seperti perlu adanya keterlibatan anak-anak maupun orang muda secara bertahap dalam kehidupan KBG dan juga kehidupan Paroki, Keuskupan, agar mereka mengalami proses belajar, bertumbuh, dan akhirnya siap menjadi pelayan pastoral di masa depan. Dengan demikian, KBG sungguh menjadi sekolah iman sekaligus sekolah kepemimpinan Gereja. Rumah pastoran juga harus menjadi rumah tempat bermain mereka juga. Ketiga, berkaitan dengan keuangan Gereja yang harus dikelola secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan rencana anggaran yang telah disepakati bersama. Bapa Uskup mengingatkan agar Para Imam tidak secara sepihak mengatur segalanya tentang uang tetapi sebaliknya melibatkan dewan keungan dalam Paroki untuk bekerja sama dalam mengolah keungan tersebut.
Dalam kesempatan ini Bapa Uskup juga menyampaikan seruan kepedulian terhadap lingkungan hidup disekitar kita. Dengan bertolak dari hasil sidang KWI pada tanggal 27- 31 Juli yang lalu dengan tema “Membangun Ekonomi dan Rumah Bersama yang Berkelanjutan” menjadi semangat bersama untuk membangun perhatian yang serius terhadap lingkungan hidup sebagai bagian integral dari karya evangelisasi. Karena itu, bapa uskup mengingatkan agar bisa mengintegralkandi mensi ekologis ke dalam seluruh perencanaan pastoral ke depannya. Setiap Paroki, Komunitas Religius, Sekolah dan keluarga diharapkan menjadi pelopor pelestarian lingkungan hidup.
Dalam kesempatan ini, ada para peserta yang hadir menyampaikan sedikit harapan, tanggapan pastoral dan kisah-kisah menarik kepada Bapa Uskup tentang segala situasi yang mereka alami salami ini. Romo Alo Ndate yang menyoroti tentang masalah kemiskinan, di mana ada begitu banyak umat yang belum mampu mengolah keuangan dengan baik bagi kesejatraan keluarganya. Selain itu ada begitu banyak anak-anak muda yang belum mendapatkan pekerjaan hingga saat ini. Karena itu, beliau menyarankan agar setiap anak-anak atau orang muda untuk bergabung ke kampus Cristore Maumere. Menurut beliau, kampus ini memiliki kualitas yang bagus dan mampu menghasilkan orang-orang yang hebat serta mampu menekan angka pengangguran di Keuskupan ini. Bapak Roby yang menyoroti tentang dana solidaritas Pendidikan. Dalam realitanya semangat untuk bersolider dengan mengumpulkan uang geser sangatlah tinggi namun berbanding terbalik dengan jumlah murid yang bersekolah di Sekolah Katolik. Hal ini juga kemudian berdampak pada pemberian upah kerja bagi para guru di Sekolah Katolik. Beliau juga menambahkan solusi untuk melakukan pembaharuan visi dalam Sekolah Katolik dalam Keuskupan sehingga memberikan memberikan dampak positif terhadap pengembangan Pendidikan di Kesukupan ini.