Rangkuman Evaluasi Sesi Persidangan II Sore Hari selasa, 04/08/2026

Rangkuman Evaluasi Sesi Persidangan II

Panel Kulababong     : Manajemen Pastoral dan Pengembangan KBG

Moderator                 : RD. Ferer

Narasumber               : RD. Yoris dan RD. Fancy

Waktu                        : 15.45 – 17.15

Pada sesi ini, para peserta akan berdiskusi, membagi ide-ide cemerlang untuk menjawabi pertanyaan penuntun terkait persoalan pastoral, khususnya tentang manajemen pastoral dan pemberdayaan KBG. Peserta akan dituntun oleh pertanyaan penuntun dan kemudian memberikan pendapat sesuai dengan pengalaman yang dialami di KBG masing-masing.

Pertanyaan No. 1: Bagaimana menyikapi masalah pokok pelayan pastoral (komitmen, koordinasi, komunikasi, wawasan, dan skill) yang menjadi alasan klasik program gagal/kurang berhasil?

  1. Bapak Martin (Kloangpopot): Menurut saya, kualitas SDM dari pengurus KBG masih rendah dan perlu ditingkatkan. Banyak dari mereka hanya mahir dalam memimpin doa rosario, sedangkan dalam urusan administrasi dan pengolahan data BIDUK masih lemah dan perlu diperhatikan.
  2. Romo Kanis Mbani: Saya berbicara dari pengalaman pribadi. Masalah ini selalu ada baik dalam evaluasi tengah tahun maupun akhir tahun, dan semuanya selalu kembali ke komunikasi antara Pastor paroki dan pelayan pastoral awam. Pastor paroki tidak mengingatkan. Maka, Para Pastor harus menilai diri sendiri yang kurang komunikatif atau tidak mengingatkan. Pastinya Paroki harus jadi titik api. Hal ini juga dipengaruhi oleh masih rendahnya kesediaan umat untuk mengambil tanggung jawab bersama.
  3. Romo Felix Jawa: Menurut saya, satu hal menarik adalah bahwa para pengurus KBG, khususnya ketua KBG, adalah orang-orang yang memiliki kualitas SDM yang relatif rendah. Dan hari ini Gereja merayakan peringatan wajib St. Yohanes Maria Vianey. Pertanyaannya, mengapa dia menjabat sebagai Pastor Paroki? Jadi, bukan soal pintar atau cerdas, melainkan soal iman. Karena misi kita adalah menarik orang semakin dekat kepada Allah.
  4. Pater Jimi (Pastor Paroki Wolonmaget): Berdasarkan pengalaman kami di Paroki Wolonmaget, kami sudah membuat koordinasi yang baik. Setiap kegiatan selalu diumumkan dua minggu sebelumnya. Saya kurang setuju dengan apa yang disampaikan oleh Romo Kanis. Hal yang lemah bukan koordinasi, melainkan komitmen dan kesadaran dari para pengurus. Soal koordinasi setiap paroki selalu ada, namun soal komitmen masih perlu ditingkatkan dan diperhatikan secara saksama.
  5. Bapa Rovinus: Beliau menyampaikan bahwa, koordinasi dan kerja sama dengan para stakeholder masih lemah. Dia menganjurkan untuk memperkuat sinergi tiga tungku, yaitu gereja, adat, dan pemerintah melalui pendekatan budaya.
  6. Romo Datus: Saya membagikan pengalaman pastoral kami. Di paroki Misir, kami sudah membuat tim pastoral terpadu. Berkaitan dengan 7 program pastoral, kami telah membuatnya dan memasukkannya ke dalam kalenderium paroki dan diumumkan setiap bulan. Dalam kenyataannya, koordinasi, komunikasi, keterampilan dan lain-lain berjalan dengan baik. Akan tetapi, hal utama yang masih kurang adalah soal komitmen. Kurangnya kesetiaan dalam menjalankan tugas menjadi salah satu faktor penghambat berjalannya program pastoral. Komitmen dan semangat berkorban masih rendah dalam melakukan pelayanan. Solusi yang dilakukan adalah kunjungan rumah. Harapannya, setelah dikunjungi, sekurang-kurangnya ada sesuatu yang berubah dalam keluarga-keluarga. Setelah kunjungan tersebut, terjadi peningkatan dalam kesetiaan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab pelayan. Sehingga saya lebih menekankan komitmen dan kerelaan untuk memberi diri.
  7. Pater Goris: Pater menjelaskan bahwa soal Tiga K, koordinasi, komitmen, dan komunikasi, sudah mulai berjalan dengan baik. Tetapi yang masih perlu ditekankan adalah soal komitmen. Komitmen mesti berakar pada iman. Juga hal yang perlu ditingkatkan adalah wawasan dan skill para pelayan pastoral.
  8. Romo Wens Edi (Pastor Vikaris Paroki Bola): Romo mengusulkan bahwa: menyambung tentang iman dan komitmen, saya menawarkan adanya kursus evangelisasi. Kita bisa mengirim pelayan pastoral. Akan ada banyak formasi iman para pelayan pastoral. Di sisi lain, ada seseorang yang menyampaikan bahwa perlu mengirim para pelayan pastoral untuk mengikuti kursus atau pelatihan di tingkat TPAPT, stasi, lingkungan, dan KBG.
  9. Ibu Yane: Ibu menjelaskan bahwa, pelayan pastoral perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan pastoral., sehingga mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap pelaksanaan program. Juga perlu ada satu orang khusus dari DPP yang berperan sebagai pengingat dan pengawal pelaksanaan program. Perlu ditingkatkan juga soal koordinasi dan komunikasi antarpihak. Selanjutnya, ada seorang bapak yang menyampaikan bahwa ketika kita merangkum seluruh evaluasi di seluruh Paroki, memang selalu kurang koordinasi, komunikasi, dll. Untuk itu, mesti ada koordinator program paroki agar bisa menyiapkan segala sesuatu yang akan dijalankan.
  10.  Ibu Eros: Ibu mengatakan bahwa, awam aktif mesti memanggil awam yang tidur, yang kadang tidak tahu bahwa dia punya potensi. Dan itu butuh kepekaan untuk membangkitkan potensi awam. Kedua beri apresiasi. Meski cuma hal kecil, kita mesti beri apresiasi karena hal kecil bisa jadi besar. Berikut terus beri penguatan, jangan putus asa. Karena bisa sambil membangun. Berikut terima mereka sebagai aset bukan pesaing.

Penegasan Romo Yoris:

            Romo mengatakan bahwa keterbukaan untuk berkorban merupakan wujud nyata dari iman, dan hal itu bisa ditunjukkan melalui kunjungan kepada umat. Salah satu paroki yang sudah menjalankan program ini adalah Paroki Watublapi yang setiap Sabtu dan Minggu terjun ke rumah umat. Belian mengatakan bahwa, saya mungkin akan lupa bahwa saya pernah tidur di rumah kalian, tetapi saya yakin kalian tidak akan lupa bahwa saya pernah tidur di rumah kalian. Romo juga menegaskan bahwa keterampilan para pelayan pastoral mesti ditingkatkan melalui kursus. Juga koordinator pastoral yang utama adalah pastor paroki, dan kaum awam akan dilatih.

            Di akhir sesi, Bapak Uskup memberikan catatan dan penegasan terkait pertanyaan nomor satu (1). Beliau mengatakan bahwa, mesti ada pertobatan personal, pertobatan institusional, lalu pertobatan sinodal. Komunikasi merupakan poin penting dalam melakukan pelayanan pastoral. Lalu, yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan pastoral adalah pastor. Kita ditabiskan untuk tugas tersebut. Kita mesti berinisiatif untuk setiap kegiatan pastoral. Teman-teman pelayan pastoral awam mengambil bagian; yang utama itu adalah kita sendiri. Dengan seluruh yang ada pada kita, mesti kita wujudnyatakan. Tidak bisa hanya mengandalkan hp. Bapa menekankan komunikasi, baik awam dgn imam, imam dengan awam. Dan semuanya kembali ke pribadi, bukan sistem.

Pertanyaan no. 2: Apa solusi kita terhadap kenyataan bahwa masih ada paroki yang belum memiliki Fasilitator Program Pastoral yang terampil dan penanggung jawab (Admin) BIDUK?

Jawaban Forum:

  1. Bapak Ignas: Saya mengusulkan perlu ada koordinator dari setiap program pastoral. Jika kita telah membuat program yang bagus, tetapi tanpa adanya koordinator, maka kita akan berakhir pada kegagalan. Jadi, hal ini cukup bagus untuk diterapkan karena sangat penting. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk melihat apakah program itu sudah berjalan atau tidak.
  2. Bapak Marselus: Menurut saya, setiap paroki perlu mempunyai operator biduk yang andal dan diperlukan pelatihan bagi para operator dari setiap Paroki. Paroki juga perlu memberikan fasilitas seperti jaringan internet dan sarana lainnya dalam mendukung berjalannya penginputan data.
  3. Frater Fransisko: Beliau menjelaskan bahwa, perlu adanya koordinasi Paroki dengan biduk di keuskupan. Adapun tantangan yang ada di lapangan seperti, berkas tidak mencukupi, umat yang nomaden, administrasi yang kurang lengkap. Yang ditekankan adalah koordinasi dengan setiap pihak. Baik dengan umat maupun dengan Bapak Biduk di keuskupan.
  4. Bapak Geri: Dalam pikiran saya, yang perlu diperhatikan adalah soal kemauan dan kesediaan setiap pribadi untuk bekerja. Kita mesti juga memanfaatkan setiap fasilitas yang ada untuk mendukung penginputan BIDUK, seperti OMK. Kita juga bisa mencoba untuk membentuk OMK dari tingkat stasi, lingkungan, dan KBG.
  5. Bapak Rian: Saya menganjurkan untuk membentuk tim biduk dari tingkat stasi, dan bukan hanya mengharapkan satu tim di paroki.

Pertanyaan No. 3: Seperti apa komitmen pembenahan kepengurusan KBG dan finalisasi data KBG?

Pertanyaan No. 4: Bagaimana upaya menarik minat generasi muda terdidik untuk terlibat dalam kepengurusan KBG?

Jawaban Forum:

  1. Bapak Stef: Saya menyarankan agar sesi KP3 menerbitkan buku panduan. Untuk memberikan gairah kepada anak muda, ada pembimbing yang cocok dengan selera mereka. Ketika mereka merasa pembimbing sejalan dengan kehidupan mereka, akan banyak anggota OMK yang aktif. Jika tidak, maka keaktifan semakin menurun.
  2. Bapak Leksi: Menurut pengamatan saya, yang terjadi akhir-akhir ini adalah telah terjadi pergeseran paradigma. Orang-orang di kota semakin semangat dan aktif dalam pelayanan pastoral, sedangkan di kampung semangatnya menurun. Maka, perlu ada upaya untuk membangun kembali kerelaan umat untuk menjadi pelayan pastoral.

Selanjutnya, ada seorang bapa dari Paroki Nangahure yang mengatakan bahwa, perlu dibuat panduan dan struktur pelayanan yang jelas di tingkat Paroki. Dan pendampingan kaum muda harus sesuai dengan minat mereka. Anak muda akan aktif jika kegiatan pastoral relevan dan menarik bagi mereka.

  • Bapak Arka: Ketika terjadi pelantikan di tingkat Paroki, semua pelayan pastoran datang dan mengikutinya, sehingga mereka berharap adanya kunjungan ke KBG untuk melakukan pengukuhan di tingkat KBG agar mereka semakin sadar akan tugas dan tanggung jawab.
  • Romo Agus Beda: Menurut saya, paroki mesti membuat pemetaan wilayah, supaya KBG-nya lebih kecil. Semakin kecil KBG, semakin muncul potensi umat yang bisa diajak bekerja sama.

Seorang bapak dari Wolonmaget kemudian mengatakan bahwa kaum muda kurang pasti karena mereka sering berpindah-pindah.

  • Saudari Vika: Dia mengatakan, berbicara tentang OMK, untuk terlibat dalam kepengurusan KBG, diupayakan untuk membuat relevansi antara KBG dan kehidupan kaum muda. Karena kebanyakan suara orang muda tidak didengar. Jadi, kalau bisa, libatkan mereka dalam setiap pengambilan keputusan; bisa berkolaborasi antara orang tua dan orang muda. Juga selalu mengapresiasi segala usaha orang muda.
  • Yance: Dia menganjurkan agar pastor harus dilengkapi dengan keterampilan yang bisa merangkul semua kalangan, baik orang tua, kaum muda, maupun anak-anak.
  • Tesa: Menurutnya, kaum muda mesti mendapat pendampingan dari orang-orang senior dalam membuat program pastoral.

Setelah sekian banyak jawaban diberikan, moderator memberikan satu pertanyaan baru, Bagaimana orang muda menarik orang muda laki-laki untuk bergabung dalam kegiatan paroki dan KBG?

Ada seseorang yang menjawab: Sesuai dengan pengalaman saya, pelayan pastoral mesti melihat bakat dan potensi dari anak muda, lalu mulai mengusahakan sarana dan prasarana untuk memenuhi bakat mereka, lalu perlahan mengajak mereka untuk latihan koor bersama. Akibatnya, mereka mulai terlibat dalam kegiatan pastoral sampai saat ini. Kita mesti melihat potensi anak muda lalu memberikan dukungan. Sebaiknya, jangan marah kepada mereka.

Di sisi depan ruangan, Romo Epi membantah argumen bahwa generasi muda laki-laki tidak terlibat. Dilihat dari kegiatan NYD. Maka, pengurus KBG mesti melibatkan orang muda.

            Di sisi depan sebelah kanan, Pater Vikjen menyampaikan bahwa, sebelum melibatkan, perlu mempersiapkan. Setelah melibatkan, perlu mendampingi. Contohnya, diadakan temu legio orang muda untuk meregenerasi legio orang tua.

            Di akhir sesi, Romo Yoris memberikan pendapat bahwa di setiap paroki sudah tersedia panduan. Silakan gunakan panduan untuk mengembangkan KBG. Lalu, setiap program pastoral mesti menjawab kebutuhan orang muda.

Panel Kulababong     : Keuangan Paroki dan Keuskupan

Moderator                 : RD. Ferer

Narasumber               : RD. Fancy

Waktu                        : 15.45 – 17.15

Pada sesi ini, disajikan beberapa pertanyaan penuntun terkait keuangan paroki dan keuskupan untuk didiskusikan lebih lanjut dalam forum. Beberapa pertanyaan penuntun yang diberikan kepada forum adalah sebagai berikut:

  1. Dalam laporan keuangan, ada pengelompokan paroki-paroki dalam tiga prosentase capaian penerimaan – pengeluaran (0% – 50%, 50% – 75%, 75% – 100%).
  2. Bagaimana mekanisme laporan di paroki sehingga terdapat capaian penerimaan dan pengeluaran di bawah 50% dan di atas 100%?
  3. Apa saja hambatan yg dialami paroki-paroki dalam pelaksanaan anggaran tahun 2026?
  4. Bagaimana dukungan anggaran untuk pelaksanaan program pastoral (P1-P7) di paroki-paroki?

Pertanyaan-pertanyaan penuntun di atas kemudian dijawab oleh forum berdasarkan pengalaman-pengalaman pastoral yang dialami di paroki masing-masing. Berikut adalah beberapa rangkuman jawaban yang diberikan oleh peserta:

  1. RP. Remi, CJD (Pastor Paroki Lei):

Menanggapi pertanyaan nomor 1, Pater Remi mengakui bahwa di Paroki Lei – Palue, mereka memasang target pencapaian terlalu tinggi, sehingga hal tersebut berpengaruh pada capaian penerimaan di bawah 50%. Sedangkan, hambatan yang dialami di paroki mereka ialah mereka sulit memprediksi keadaan keuangan umat karena pendapatan umat bergantung pada hasil alam. Hal inilah yang mempengaruhi penerimaan keuangan di Paroki Lei – Palue.

  • RD. Epi Rimo (Pastor Paroki Katedral):

Menjawabi pertanyaan nomor 1, Romo Epi menjelaskan bahwa di Paroki Katedral, mereka merencanakan penerimaan yang akan mereka peroleh sepanjang tahun 2026 adalah 1 miliar lebih. Hal ini bertolak dari pendapatan yang mereka terima pada tahun 2025. Dengan demikian, di tahun 2026 mereka menaikan 1% untuk memperkirakan pendapatan yang akan mereka terima.

  • Ibu Indra (Paroki Misir):

Menanggapi pertanyaan nomor 1, Ibu Indra dari Paroki Misir mensharingkan pengalaman mengenai mekanisme pelaporan keuangan dan hambatan yang dialami di Paroki Misir. Mekenisme pelaporan keuangan yang mereka gunakan adalah mayob. Sedangkan, hambatan yang mereka alami adalah kolekte umat menurun pasca pesta sambut baru/syukuran Komuni Suci I. Akan tetapi, ia menjelaskan bahwa setelah Pastor Paroki dan Pastor Vikaris melakukan kunjungan-kunjungan KBG, pemasukan atau pendapatan paroki lumayan baik. Namun, penerimaan dalam kurun waktu satu bulan terakhir sangat menurun di Paroki Misir.

  • RD. Anis Satu (Pastor Paroki Bola):

Menjawabi pertanyaan nomor 1, Romo Anis menjelaskan bahwa mekanisme laporan keuangan yang terjadi di Paroki Bola selalu dibuat tepat waktu dan selalu diumumkan kepada umat. Selain itu, pada setiap bulan dan di akhir tahun juga selalu dibuat laporan keuangan. Sedangkan penerimaan untuk tahun ini cukup menurun. Hal ini terjadi karena adanya hambatan, yang dalam hal ini adalah proses pembangunan Gereja yang sedang berlangsung di Bola, sehingga konsentrasi penuh diprioritaskan dan ditujukan untuk pembangunan Gereja.

  • Sr. Uci (Bendahara Paroki Habi):

Menaggapi pertanyaan nomor 2, Sr. Uci menjelaskan bahwa anggaran yang disiapkan Paroki Habi untuk mendukung pelaksanaan program pastoral (P1-P7), khususnya program-program yang berkenaan dengan pembangunan biasanya dianggarkan lebih tinggi atau lebih besar dari biasanya. Hal tersebut dibuat untuk mencegah selisih antara rencana penerimaan dan realisasinya. Dengan demikian, Sr. Uci menjelaskan bahwa prosentase target penerimaan dan realisasi di Paroki Habi selama beberapa tahun terakhir tidak pernah berada di bawah 40%.

  • RD. Kanis (Pastor Paroki Wairita):

Menanggapi pertanyaan nomor 2, Romo Kanis menjelaskan bahwa di Paroki Wairita, kegiatan-kegiatan atau program-program pastoral (P1-P7) selalu dibuat anggaran dan direalisasikan. Namun, dalam presentasi keuangan pada sesi sebelumnya tidak ditampilkan. Romo Kanis akhirnya meminta konfirmasi lebih lanjut dari Tim Ekonomat KUM.

  • Ibu Eros (Paroki Misir):

Menanggapi pertanyaan nomor 1, Ibu Eros mensharingkan bahwa di Paroki Misir, dukungan anggaran untuk pelaksanaan program pastoral (P1-P7) dibuatkan satu pos khusus. Pos tersebut diperuntukkan bagi segala bentuk pengeluaran yang tidak terduga, sehingga hal ini tidak menghambat pelaksanaan anggaran di tahun 2026.

  • P. Wilem (Pastor Paroki Nangahure):

Menaggapi pertanyaan nomor 1 dan 2, Pater Wilem mensharingkan pengalamannya sebagai Pastor Paroki di Paroki Nangahure. Ia menjelaskan bahwa Paroki Nangahure tidak mengalami kendala atau hambatan dalam pengelolaan keuangan Paroki, baik itu mekanisme laporan keuangan di Paroki, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan anggaran di tahun 2026, maupun dukungan anggaran untuk pelaksanaan program pastoral (P1-P7). Semua hal tersebut dijalankan dengan baik dan semua pembiayaan yang terjadi di Paroki Nangahure diambil dari bunga deposito, sehingga tidak menghambat segala urusan paroki yang berhubungan dengan keuangan.

  • RD. Lorens Noi (Pastor Paroki Waioti):

Menanggapi pertanyaan nomor 1 dan 2, Romo Lorens Noi mensharingkan pengalaman pengelolaan keuangan yang terjadi di Paroki Waioti. Hematnya, Paroki Waioti menerapkan transparansi dalam pengelolaan keuangan paroki, sehingga mereka tidak mengalami kendala dalam proses pengelolaan keuangan paroki.

Setelah forum memberikan jawaban dan juga sharing pengalaman mereka di Paroki, moderator memberikan kesempatan kepada RD. Fancy sebagai Ekonom Keuskupan Maumere untuk memberikan closing statement atau kalimat penutup. Romo Fancy menegaskan bahwa sistem keuangan yang berlaku dan telah dijalankan Keuskupan Maumere selama ini adalah sistem keuangan satu pintu. Maka, Romo Fancy selaku Ekonom KUM mengharapkan agar segala proses pengelolaan keuangan di paroki harus berdasarkan sistem keuangan satu pintu, sehingga meminimalisir penyelewengan dalam penggunaan keuangan paroki.

Romo Fancy juga menegaskan bahwa di dalam pengelolaan keuangan, terdapat sistem keuangan terikat dan tidak terikat serta sistem keuangan terikat sementara. Hal inilah yang pada akhirnya membuat item-item tertentu di dalam sistem keuangan yang semua pendapatannya harus diserahkan atau disetor ke keuskupan, seperti kolekte-kolekte wajib. Romo Fancy mengharapkan agar para bendahara paroki dan Pastor Paroki memperhatikan hal ini secara lebih serius karena ada beberapa Paroki yang memberikan statement bahwa “untuk apa uang ini disetor ke keuskupan”. Romo Fancy mengharapkan agar hal-hal demikian tidak terjadi lagi di waktu-waktu mendatang.

Panel Kulababong     : Badan Solidaritas, Caritas, dan Biduk

Moderator                 : RD. Donis

Narasumber               : RD. Kanis, RD. Kristo, dan Pa Lexi

Waktu                        : 17.30 – 19.00

BADAN SOLIDARITAS  

Pertanyaan Penuntun:

Bagaimana upaya memicu semangat serta keterlibatan umat di paroki-paroki untuk menyetor aksi solidaritas, baik Dana GESSER maupun Dana Pendidikan secara rutin, tidak hanya pada momen-momen tertentu?


           Diskusi pada sesi ini berfokus pada upaya membangun budaya solidaritas yang berkelanjutan di tengah umat. Para peserta berbagi pengalaman dan praktik baik dalam menggerakkan umat agar memiliki kesadaran untuk berpartisipasi secara rutin dalam aksi solidaritas, khususnya melalui Dana GESSER dan Dana Pendidikan. Ditekankan bahwa solidaritas bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan wujud nyata iman, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama terhadap karya pelayanan Gereja. 

Masukan dan Usulan: 

  1. Ka Yance (KBHTM) 
  2. Mengadakan malam wajib dengan sistem arisan sebesar Rp10.000. 
  3. Sebagian dana arisan dialokasikan untuk memenuhi kewajiban solidaritas, seperti Dana GESSER dan kebutuhan pastoral lainnya. 
  4. RP Wens 
  5. Menggalakkan katekese tentang solidaritas dan hidup sederhana 
  6. Katekese diharapkan mampu membangun kesadaran umat serta meminimalisasi pengeluaran berlebihan untuk pesta, sehingga umat lebih mampu berbagi. 
  7. RP. Yeri Boganatar 
  8. Mengusulkan dan membuat terobosan Botol Persaudaraan sebagai gerakan menabung solidaritas di keluarga atau KBG. 
  9. Beberapa KBG telah menerapkan program ini dan menunjukkan hasil yang positif. 
  10. RP. Jimi 
  11. Melakukan kunjungan dan sosialisasi ke KBG serta lingkungan agar umat memahami tujuan aksi solidaritas. 
  12. Pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan ini mendapat respons positif dari umat. 
  13. Menghadirkan intensi khusus dalam Doa Umat setiap hari Minggu bagi para donatur sebagai bentuk penghargaan dan dukungan spiritual.
  14. Paroki Waioti 
  15. Mengadakan pertemuan triwulanan bagi bendahara KBG. 
  16. Melaksanakan kunjungan ke KBG untuk sosialisasi mengenai pembangunan dan kewajiban aksi solidaritas. 
  17. Mengundang Badan Solidaritas KUM untuk memberikan pendampingan dan penguatan kepada umat. 

Rangkuman 

  • Membangun budaya solidaritas membutuhkan katekese, sosialisasi, dan pendampingan yang berkelanjutan. 
  • Program sederhana seperti arisan solidaritas dan Botol Persaudaraan dapat menjadi sarana efektif membiasakan umat memberi secara rutin. 
  • Kunjungan pastoral ke KBG dan lingkungan menjadi strategi penting untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi umat. 
  • Solidaritas perlu dipadukan dengan doa, misalnya melalui intensi khusus bagi para donatur dalam Doa Umat. 
  • Penguatan koordinasi melalui pertemuan bendahara KBG serta kerja sama dengan Badan Solidaritas KUM akan membantu menciptakan sistem pengelolaan dana solidaritas yang lebih tertib, transparan, dan berkelanjutan. 

CARITAS

Dalam diskusi ini, peserta memberikan perhatian khusus terhadap upaya pemberdayaan ekonomi umat sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga di lingkungan gereja. Berbagai pengalaman, kendala, dan usulan disampaikan guna mencari solusi yang tepat agar program-program pemberdayaan dapat berjalan secara efektif, berkelanjutan, dan benar-benar menjawab kebutuhan umat.

Pokok Pembahasan/Pertanyaan Penuntun:

Akses dana APPN dan HPSN, APP keuskupan dll masih rendah. Padahal semuanya sangat dibutuhkan untuk mendukung program pemberdayaan ekonomi. Bagaiaman solusi yang kita tawarkan agar umat KBG dapat mengakses dana-dana ini dan tidak terjebak pinjaman koperasi harian dan pinjaman online?

Tanggapan dan Usulan:

  1. Bapak Martin (Paroki Kloangpopot):

Menurut beliau, sebenarnya umat memiliki keinginan untuk mengakses dana pemberdayaan. Namun, mereka masih terbebani oleh kewajiban melunasi pinjaman dari koperasi harian maupun pinjaman lainnya. Oleh karena itu, beliau mengusulkan agar Keuskupan dapat menyediakan skema pinjaman atau bantuan modal yang memungkinkan umat melunasi utang-utang tersebut sehingga mereka dapat memulai usaha yang lebih produktif.

  • Bapak Arka (Paroki Kloangrotat):

Beliau menyampaikan bahwa Caritas telah memberikan bantuan kepada kelompok tenun di Kloangrotat sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diperluas kepada kelompok-kelompok usaha lainnya.

  • RD. Doni Migo

Beliau menekankan pentingnya adanya jaminan keberlanjutan dalam pengelolaan dana. Dana yang diberikan harus dikelola secara bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan sehingga benar-benar memberikan manfaat dan dampak positif bagi kesejahteraan umat.

  • Bapak Stef Sumandi (Paroki Halehebing):

Beliau mengusulkan agar setiap kunjungan pastoral para imam di lingkungan maupun KBG juga dimanfaatkan untuk mendampingi umat dalam menyusun proposal bantuan. Dengan demikian, kelompok-kelompok umat memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh dukungan dana. Selain itu, para petani perlu didorong untuk mulai menerapkan sistem pertanian dengan menggunakan pupuk organik sebagai upaya meningkatkan hasil pertanian yang berkelanjutan.

  • Pater Vikjen

Beliau menyoroti persoalan pinjaman koperasi harian dan pinjaman online yang semakin membebani umat. Sebagai langkah awal, perlu dilakukan pendataan terhadap umat yang terjerat pinjaman tersebut. Setelah itu, dapat diberikan pendampingan serta bantuan modal usaha agar mereka mampu keluar dari jeratan utang dan membangun usaha yang lebih produktif.

Tanggapan balik dari RD. Kristo Lodo

Beliau menegaskan bahwa Caritas tetap terbuka bagi umat yang membutuhkan dukungan dana. Namun, PSE Caritas sangat membutuhkan peran aktif PSE Paroki yang mampu menggerakkan dan mendampingi umat untuk bekerja sama dalam mengembangkan usaha ekonomi. Selain itu, dana APPN juga dapat dialokasikan untuk kegiatan pelatihan, peningkatan keterampilan, dan pendampingan yang mendukung pemberdayaan ekonomi umat secara berkelanjutan.

Highlight Situasi Pastoral

Narasumber   : RD. Wilfrid

Waktu             : 19.00 – 19.15

Romo Wilfrid memberikan highlight situasi pastoral dengan merujuk pada tema evaluasi tengah tahun KUM, yaitu: “Membangun Jembatan Pastoral Sinodal”. Tema ini menyasar Visi KUM, yaitu: Keuskupan Maumere yang beriman, sejahtera, solider, dan membebaskan dalam terang Sabda Allah”. Visi tersebut dituangkan ke dalam tujuh (7) program pastoral unggulan Keuskupan Maumere.

Maka, untuk menjawabi mimpi atau visi Keuskupan Maumere, diterapkanlah pastoral transformatif yang meliputi organisasi transformatif dan program transformatif. Di sinilah KBG berperan penting sebagai fokus dan lokus kegiatan pastoral serta KBG juga hadir sebagai komunitas iman dan komunitas perjuangan untuk membawa hasil sinode ke dalam KBG, dalam hal ini adalah KBG membuat program-program yang sejalan dengan hasil Sinode KUM. Untuk itu, pastoral yang ditekankan adalah pastoral berbasis data dan bergerak transformatif. Transformasi akan terjadi ketika indikator yang ditetapkan dapat tercapai secara maksimal.

Dengan demikian, dari proses yang berlangsung, Romo Wilfrid memberikan poin-poin solusi dan resolusi.

Solusi:

  1. Karya pastoral: pentingnya komitmen, kenali potensi diri, skill, memberikan apresiasi, dan menjadikan awam sebagai aset.
  2. Fasilitator Renstra dan Admin BIDUK:  pelatihan lanjutan, pelatihan cara mengelola administrasi data, fasilitas dan sarana bagi admin BIDUK.
  3. KBG dan Orang Muda: kunjungan KBG, penyegaran dan pendataan pengurus, menjadikan KBG relevan untuk orang muda, membuat event-event untuk orang muda.
  4. Keuangan: ketelitian dan kecermatan dalam administrasi keuangan paroki, pemahaman tata kelola keuangan berbasis perencanaan pastoral, kunjungan pastoral untuk memberikan motivasi kepada umat untuk mendukung karya pastoral secara finansial.
  5. Solidaritas: menggunakan semua kesempatan untuk memberikan sosialisasi tentang solidaritas, kreatif menciptakan istrumen pengumpulan dana, pertemuan tim solidaritas secara berkala, dan katekese dana solidaritas.
  6. Caritas: mengakses dana solidaritas untuk pengembangan komunitas dan perlu adanya jaminan dari pengakses dana untuk menjaga keberlanjutan.

Resolusi:

  1. Rawat komitmen, api pastoral jangan sampai padam.
  2. Pertobatan personal, pertobatan institusional, dan pertobatan sinodal (evangelisasi pribadi)
  3. Komunikasi pastoral (being bridge and become bridges bulder: menjadi jembatan dan menjadi pembangun jembatan).
Scroll to Top