Festival BKSN 2026 TPAPT Kota-Keuskupan Maumere: Ketika Kitab Suci Menjadi Suara, Lagu, Cerita, dan Kebersamaan

MAUMERE, 30 September 2026 — Perhelatan Festival Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Tingkat TPAPT Kota Keuskupan Maumere resmi berakhir. Selama dua hari, 29–30 September 2026, pelataran Gereja St. Thomas Morus Maumere berubah menjadi ruang perjumpaan umat dengan Kitab Suci—bukan hanya melalui perlombaan, tetapi melalui cerita, suara, lagu, pengetahuan, kreativitas, dan kebersamaan.

Festival yang diselenggarakan oleh Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Maumere ini mempertemukan peserta terbaik dari enam paroki dalam wilayah TPAPT Kota: Paroki St. Yosep – Katedral, St. Thomas Morus, Spiritu Santo Misir, St. Gabriel – Waioti, Kristus Raja – Wolonmaget, dan St. Maria Magdalena – Nangahure.

Empat kategori diperlombakan, yakni Tutur Kitab Suci kategori anak, Baca Kitab Suci kategori remaja, Mazmur Putra dan Putri kategori orang muda, serta Kuis Kitab Suci kategori keluarga.

Namun, festival ini sesungguhnya tidak dimulai pada 29 September.

Ia telah dimulai jauh sebelumnya—di KBG, lingkungan-lingkungan, dan paroki-paroki. Setiap paroki terlebih dahulu menyelenggarakan perlombaan internal yang melibatkan umat dari berbagai KBG dan lingkungan. Peserta terbaik kemudian dipercaya membawa nama paroki ke tingkat TPAPT Kota.

Dengan demikian, panggung festival bukan sekadar tempat mempertontonkan siapa yang paling unggul. Ia menjadi puncak dari sebuah proses panjang: umat membaca, mendengar, mempelajari, menghafal, memahami, dan berani menyuarakan Sabda Allah.

Dari rumah menuju panggung

Antusiasme peserta menjadi salah satu wajah paling menarik dari festival ini.

Bagi sebagian peserta, persiapan lomba justru menjadi kesempatan untuk kembali membuka Kitab Suci di rumah. Anak-anak berlatih tutur bersama orang tua. Remaja berulang kali membaca teks untuk menemukan intonasi dan penghayatan yang tepat. Orang muda berlatih menyanyikan mazmur. Sementara keluarga mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Kitab Suci.

Kompetisi akhirnya melahirkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kemenangan: kebiasaan berjumpa dengan Kitab Suci.

Sejumlah peserta mengaku merasa tertantang mengikuti festival ini. Tantangan itu bukan hanya untuk tampil di depan penonton, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat teks Kitab Suci yang mereka bawakan.

Di sinilah festival menemukan maknanya. Kitab Suci tidak berhenti sebagai buku yang tersimpan di rak rumah atau dibacakan saat perayaan liturgi. Sabda itu bergerak—masuk ke ruang keluarga, menjadi bahan latihan, percakapan, doa, bahkan menjadi sumber kreativitas anak-anak dan orang muda.

Ketika Sabda dituturkan dengan kreativitas

Kategori Tutur Kitab Suci menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian penonton. Anak-anak tampil dengan berbagai gaya: sebagai pencerita, reporter, presenter, orator hingga pembawa acara.

Menurut salah seorang juri, Romo Rolly da Vinci, pengalaman festival memperlihatkan bahwa Kitab Suci dapat disampaikan dengan cara yang kreatif dan segar tanpa kehilangan pesan utamanya.

“Kitab Suci ternyata indah jika disampaikan dalam gaya tutur seorang MC, reporter, presenter, orator atau pencerita.”

Aldersy Mari, siswi kelas V SDI Wairklau dari Aimitak, Paroki Nangahure, menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian melalui kemampuannya mengombinasikan berbagai gaya tutur.

Namun, berdasarkan penilaian Dewan Juri, Juara I Tutur Kitab Suci diraih Gabriela Cerita Valentina dari Paroki St. Thomas Morus.

Sementara itu, Kuis Kitab Suci kategori keluarga memperlihatkan wajah lain dari festival: Kitab Suci menjadi urusan seluruh keluarga.

Juara I diraih keluarga Yanuarius Padi Rada sebagai ayah, Vinsensia Gaudensia Palloti sebagai ibu, dan Ignasia Venesia Wonga Rada sebagai anak dari Paroki St. Gabriel Waioti.

Pada kategori Mazmur, Dominikus Moa Paceli dari Paroki St. Thomas Morus meraih Juara I Mazmur Putra, sedangkan Maria Eka Yeremia dari Paroki St. Thomas Morus meraih Juara I Mazmur Putri.

Untuk kategori Baca Kitab Suci, Veronika Keli Andriana Mude dari Paroki Wolonmaget tampil sebagai Juara I.

Thomas Morus Juara Umum

Dari seluruh kategori yang diperlombakan, Paroki St. Thomas Morus keluar sebagai Juara Umum Festival BKSN 2026 Tingkat TPAPT Kota, sekaligus membawa pulang Piala Bergilir.

Namun, piala bukanlah akhir dari seluruh cerita.

Di balik setiap juara terdapat peserta lain yang telah berani berdiri di panggung, melawan rasa gugup, mempersiapkan diri, dan membawa Sabda Allah kepada orang lain.

Karena itu, kemenangan terbesar festival ini barangkali bukan milik satu paroki.

Kemenangan terbesar adalah ketika seorang anak mulai mencintai Kitab Suci, seorang remaja menemukan makna dalam Sabda, orang muda menyanyikan mazmur dengan penghayatan, dan sebuah keluarga kembali duduk bersama untuk membaca Kitab Suci.

Penonton pun menjadi bagian dari festival

Antusiasme tidak hanya datang dari para peserta. Ratusan penonton hadir memberikan dukungan kepada kontestan dari paroki masing-masing.

Tepuk tangan, sorakan dukungan, dan perhatian penonton membuat pelataran Gereja St. Thomas Morus selama dua hari terasa hidup.

Banyak yang berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda BKSN 2026, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan tahunan tingkat TPAPT Kota bahkan di tingkat keuskupan.

Harapan itu menunjukkan bahwa festival telah menemukan tempat di hati umat. Sebab, ketika umat meminta sebuah kegiatan untuk terus dilaksanakan, yang mereka rindukan sesungguhnya bukan sekadar perlombaannya, tetapi ruang untuk berkumpul, belajar, dan bertumbuh bersama dalam Sabda.

Bukan tentang siapa yang juara

Festival BKSN 2026 TPAPT Kota pada akhirnya mengingatkan kembali bahwa Kitab Suci tidak diberikan kepada Gereja untuk sekadar dipajang, dihafalkan, atau diperlombakan.

Kitab Suci harus dihidupi.

St. Hieronimus pernah mengingatkan:

“Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est.”
“Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”

Karena itu, festival ini dapat dibaca lebih dalam sebagai sebuah gerakan pastoral: mengajak umat untuk kembali mengenal Kristus melalui Sabda-Nya.

Panggung boleh dibongkar. Spanduk boleh diturunkan. Piala boleh berpindah tangan.

Tetapi proses yang telah dimulai di lingkungan, keluarga dan paroki diharapkan terus berjalan.

Sebab, pada akhirnya Festival Kitab Suci bukan terutama tentang siapa yang menjadi juara, melainkan tentang berapa banyak orang yang semakin dekat dengan Sabda Allah setelah festival berakhir.

Dan mungkin, di situlah kemenangan yang sesungguhnya.

Ivana Gaharpung
Staf Puspas KUM

Scroll to Top