Hari Ketiga Munas XV Unio Indonesia: Dari LPJ dan Pemilihan Pengurus hingga Pertemuan dengan Nuntio

PEMATANGSIANTAR — Hari ketiga Musyawarah Nasional (Munas) XV Unio Indonesia, Rabu, 16 September 2026, berlangsung dengan sejumlah penyesuaian agenda menyusul kedatangan Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì.

Agenda yang sebelumnya telah disusun mengalami pergeseran, khususnya sesi presentasi hasil diskusi kelompok malam sebelumnya. Sesi tersebut ditiadakan untuk memberi ruang bagi penyambutan dan pertemuan bersama Nuntio Apostolik. Hasil diskusi kelompok tetap diserahkan kepada panitia sebagai bagian dari proses Munas.

Rangkaian kegiatan hari ketiga dimulai dengan ibadat pagi, dilanjutkan dengan sarapan bersama. Setelah itu, peserta memasuki agenda pembahasan rekomendasi Munas XV Unio Indonesia, sebelum melanjutkan ke laporan pertanggungjawaban kepengurusan dan pemilihan pengurus baru.

LPJ Pengurus Unio Indonesia Periode 2023–2026

Salah satu agenda penting pada hari ketiga adalah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Unio Indonesia periode 2023–2026.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Unio Indonesia, RD. Florens Maxi Un Bria, bersama jajaran pengurus menyampaikan perjalanan kepengurusan selama tiga tahun terakhir. Laporan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan terima kasih kepada para uskup, para imam, pengurus, serta berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan dan program-program Unio Indonesia.

Persaudaraan para imam diosesan kembali menjadi salah satu penekanan penting dalam laporan tersebut. Unio tidak dipahami semata-mata sebagai sebuah organisasi, tetapi sebagai ruang persekutuan dan persaudaraan yang menopang perjalanan panggilan serta pelayanan para imam.

Semangat itu antara lain dirangkum dalam ungkapan khas para Imam Projo Keuskupan Agung Kupang, “Menjadi Imam Projo — Bersaudara sampai Mati.” Persaudaraan dipahami bukan sekadar tambahan dalam kehidupan imam, tetapi sebagai komitmen yang terus dipelihara sepanjang perjalanan panggilan dan pelayanan.

RD. Florens Maxi Un Bria Kembali Terpilih

Setelah penyampaian LPJ, Munas dilanjutkan dengan pemilihan Pengurus Unio Indonesia periode 2026–2029.

Dalam proses pemilihan yang berlangsung secara demokratis, RD. Florens Maxi Un Bria kembali terpilih sebagai Ketua Unio Indonesia dengan memperoleh 86 suara.

Pemungutan suara diikuti oleh 107 imam diosesan peserta Munas XV, sedangkan RD. Herman Yosep Singgih Utoro terpilih menjadi Wakil Ketua Unio Indonesia.

Terpilihnya kembali RD. Maxi menjadi awal bagi kepengurusan baru Unio Indonesia periode 2026–2029.

Dalam arah kepemimpinannya, ia menegaskan semangat “bercommunio dan berprogresio.” Communio menempatkan persaudaraan dan persekutuan sebagai dasar perjalanan bersama, sedangkan progresio mendorong Unio Indonesia untuk terus berkembang dan menjawab kebutuhan pelayanan para imam diosesan di tengah perubahan Gereja dan masyarakat.

Kepengurusan baru juga diarahkan untuk semakin memperkuat persaudaraan lintas etnik, daerah, dan keuskupan, sekaligus mengembangkan ongoing formation sebagai bagian penting dari pembinaan berkelanjutan para imam diosesan.

KETUA DAN WAKIL KETUA UNIO – Pembina Unio Indonesia, Mgr. Robertus Rubiatmoko (tengah) bersama Ketua Unio Indonesia, RD. Florens Maxi Un Bria (kanan) dan Wakil Ketua Unio Indonesia, RD Herman Yoseph Singgih Utoro.

Nuntio Apostolik Bertemu Para Imam

Agenda hari ketiga kemudian mendapat warna khusus dengan kedatangan Nunsius Apostolik untuk Indonesia, Mgr. Walter Erbì.

Kehadiran Nuntio membuat sebagian jadwal pagi dan siang mengalami penyesuaian. Setelah penyambutan, dilaksanakan tatap muka antara Nuntio Apostolik dengan para uskup dan imam peserta Munas XV.

Dalam pertemuan tersebut, Mgr. Walter Erbì mengajak para imam merenungkan kembali arti sinodalitas sebagai semangat berjalan bersama.

Menurutnya, sinodalitas bukan sekadar duduk bersama, mengikuti rapat, atau mengadakan konferensi. Sinodalitas merupakan cara hidup Gereja yang menuntut kesediaan untuk keluar dari diri sendiri, merangkul sesama, dan menyesuaikan langkah agar tidak ada seorang pun yang tertinggal. Pertemuan tersebut berlangsung bersama para imam utusan dari 38 keuskupan yang mengikuti Munas XV di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Pematangsiantar.

Mgr. Erbì menggambarkan sinodalitas sebagai sebuah peziarahan. Dalam sebuah perjalanan, tidak semua orang memiliki kekuatan dan kecepatan yang sama. Karena itu, keberhasilan tidak diukur dari siapa yang tiba paling cepat, tetapi dari kemampuan untuk tetap berjalan bersama serta bersedia menunggu mereka yang tertinggal.

Pesan tersebut sangat dekat dengan semangat Unio sendiri, yakni membangun kesatuan antara imam dengan uskup, sesama imam, dan seluruh umat Allah.

Mgr. Erbì juga menyinggung tantangan kerasulan di era digital. Teknologi membuka ruang yang luas bagi pelayanan pastoral, tetapi sekaligus membawa risiko yang perlu disikapi secara bijaksana. Para imam diajak menggunakan media sosial dan teknologi secara terukur sebagai sarana pewartaan dan untuk mempererat persekutuan.

Menuju Paroki St. Yoseph Pematangsiantar

Setelah pertemuan bersama Nuntio, peserta memasuki waktu makan siang dan istirahat, kemudian berangkat menuju Paroki St. Yoseph, Pematangsiantar, untuk mengikuti rangkaian penutupan Munas XV.

Di paroki tersebut, para uskup, Nuntio Apostolik, para imam, frater, suster, seminaris, dan umat beriman berkumpul dalam Perayaan Ekaristi Penutupan Munas XV Unio Indonesia.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

Dalam Perayaan Ekaristi tersebut juga dilaksanakan pelantikan Pengurus Unio Indonesia periode 2026–2029. Pelantikan ini menjadi penanda dimulainya masa pelayanan kepengurusan baru setelah proses pemilihan yang berlangsung pada hari yang sama.

Dengan demikian, perjalanan hari ketiga tidak hanya menjadi ruang evaluasi terhadap kepengurusan sebelumnya, tetapi juga menjadi titik peralihan menuju babak baru perjalanan Unio Indonesia.

“Sebelum Menjadi Influencer, Biarkan Kristus Mempengaruhi Kita”

Dalam homili penutupan, Mgr. Kornelius Sipayung mengangkat tema:

“Dari Meditasi Menjadi Jembatan: Dipengaruhi Kristus untuk Mempengaruhi Dunia.”

Berangkat dari Injil Lukas 7:31–35, Mgr. Kornelius mengajak para imam melihat sebuah ironi: manusia dapat melihat karya Allah, mendengarkan sabda-Nya, bahkan berada sangat dekat dengan-Nya, tetapi belum tentu membiarkan dirinya diubah.

Karena itu, meditasi bagi seorang imam tidak cukup hanya dengan memandang Kristus dalam adorasi, membaca Sabda, atau masuk dalam keheningan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang berubah dalam diri saya karena setiap hari saya memandang Kristus?”

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah dunia digital, ketika perhatian manusia terus diperebutkan oleh layar, algoritma, opini, popularitas, dan budaya influencer.

Mgr. Kornelius mengajak para imam untuk tidak langsung bertanya bagaimana menjadi influencer di dunia digital, tetapi lebih dahulu mempertanyakan:

“Siapa yang sedang mempengaruhi imam?”

Apakah Kristus atau popularitas? Sabda Allah atau algoritma? Kehendak Bapa atau kebutuhan untuk disukai?

Karena itu, sebelum seorang imam membawa Kristus ke dunia digital, ia sendiri harus lebih dahulu membiarkan hidupnya dipengaruhi oleh Kristus.

Menjadi Jembatan, Bukan Membangun Tembok

Teladan Santo Kornelius dan Santo Siprianus, yang diperingati Gereja pada hari itu, kemudian menjadi salah satu titik penting dalam homili.

Keduanya hidup dalam masa ketika Gereja mengalami penganiayaan dari luar sekaligus perpecahan dari dalam. Namun mereka tidak memilih jalan yang memperbesar perpecahan. Mereka berusaha mempertahankan kebenaran sekaligus membuka ruang bagi pertobatan, belas kasih, rekonsiliasi, dan kesatuan.

Dari sana, Mgr. Kornelius mengajak para imam membangun spiritualitas persaudaraan yang konkret.

Ketika seorang saudara berhasil, jangan iri tetapi bersukacitalah. Ketika ia jatuh, jangan menjadikan kejatuhannya bahan percakapan, tetapi bantulah ia bangkit. Ketika ia dikritik, jangan segera ikut melempar batu, tetapi datang dan dengarkan. Ketika terjadi perbedaan, jangan buru-buru membangun kubu, tetapi bangunlah jembatan.

UNIO, dengan demikian, tidak cukup hanya memiliki organisasi yang sama. UNIO menjadi sungguh unio ketika para imam memiliki hati yang mampu merasakan luka, perjuangan, dan sukacita saudara sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Kasih Menjadi Ukuran

Mgr. Kornelius kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan bacaan pertama dari 1 Korintus 13.

Seorang imam dapat memiliki kemampuan berbicara yang baik, pendidikan tinggi, program pastoral yang berhasil, media sosial yang menarik, banyak pengikut, bahkan jutaan penonton. Namun tanpa kasih, semuanya dapat berubah menjadi kebisingan religius.

Karena itu, buah kehidupan rohani tidak pertama-tama diukur dari banyaknya materi yang diperoleh dari meditasi atau keberhasilan pelayanan, tetapi dari perubahan konkret dalam diri seorang imam.

Apakah ia semakin mampu mendengarkan?
Apakah semakin sedikit menghakimi?
Apakah lebih mudah mengampuni?
Apakah semakin mampu bekerja bersama?
Apakah mampu bersukacita atas keberhasilan saudaranya?

Di situlah meditasi menjadi transformasi.

Imam sebagai Influencer dan Pembangun Jembatan

Mgr. Kornelius mengingatkan bahwa setiap imam sebenarnya adalah influencer, bahkan apabila tidak memiliki akun media sosial.

Imam mempengaruhi orang lain melalui homili, keputusan pastoral, rapat, percakapan, pesan WhatsApp, cara memperlakukan staf, cara menggunakan uang, cara menerima kritik, bahkan cara berbicara mengenai saudara imam ketika orang tersebut tidak hadir.

Namun terdapat paradoks dalam pengaruh Kristiani:

Semakin besar pengaruh seorang imam, semakin ia harus mengarahkan orang bukan kepada dirinya sendiri, tetapi kepada Kristus.

Imam bukan tujuan perjalanan.

Imam adalah jembatan.

Jembatan antara altar dan kehidupan, Injil dan dunia digital, generasi tua dan muda, mereka yang berbeda pandangan, orang yang terluka dan komunitas, serta manusia dengan Kristus.

Dari Meditasi Menuju Jembatan

Menutup homilinya, Mgr. Kornelius mengajak para imam membawa pulang satu perjalanan rohani dari Munas XV:

memandang Kristus — membiarkan Kristus mempengaruhi diri — diubah oleh kasih-Nya — lalu menjadi jembatan agar orang lain dapat berjumpa dengan-Nya.

Ia berharap para imam kembali ke keuskupan masing-masing dengan mata yang tetap memandang Kristus, hati yang dipenuhi kasih, telinga yang mampu mendengarkan, hidup yang menjadi kesaksian, tangan yang membangun jembatan, serta suara yang—baik dari altar maupun dari layar—selalu menunjuk kepada Kristus.

“Dari meditasi menuju transformasi, dari transformasi menuju pewartaan, dari pewartaan menuju pengaruh, dan dari pengaruh menjadi jembatan agar dunia kembali memandang Kristus.”

Perayaan Ekaristi, yang sekaligus diisi dengan pelantikan Pengurus Unio Indonesia periode 2026–2029, menutup rangkaian utama hari ketiga Munas XV.

Hari itu mempertemukan beberapa momentum penting sekaligus: perumusan rekomendasi, pertanggungjawaban kepengurusan 2023–2026, pemilihan dan pelantikan pengurus baru, perjumpaan dengan Nuntio Apostolik, serta pembaruan panggilan para imam untuk terus membangun persaudaraan dan menjadi jembatan yang membawa orang kepada Kristus.

Munas Unindo XVI pada tahun 2029 akan terjadi di regio Papua.

Scroll to Top