
Samosir, 17 September 2026 – Hari keempat Musyawarah Nasional (Munas) UNINDO XV diisi dengan kegiatan outing dan ziarah ke Pulau Samosir. Setelah beberapa hari mengikuti rangkaian persidangan dan agenda pertemuan, para peserta meninggalkan ruang sidang untuk menikmati kebersamaan, kekayaan alam, budaya, sekaligus pengalaman rohani di kawasan Danau Toba.
Rombongan bertolak dari Pematangsiantar menuju kawasan Danau Toba sebelum menyeberang ke Pulau Samosir. Perjalanan melintasi danau menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi para peserta. Hamparan Danau Toba yang luas dan tenang menghadirkan suasana berbeda dari kegiatan-kegiatan sebelumnya.
Selama perjalanan dengan kapal penyeberangan, suasana berlangsung penuh keakraban. Para peserta menikmati panorama Danau Toba sambil mengabadikan berbagai momen kebersamaan. Perjalanan juga diwarnai dengan penampilan tarian Batak oleh anak-anak muda serta penjelasan dari pemandu lokal mengenai alam, budaya, dan kehidupan masyarakat di kawasan Samosir.
Salah satu tujuan utama perjalanan adalah Patung Yesus Kristus di Bukit Sibea-bea. Dari kawasan ini, para peserta dapat menyaksikan panorama Danau Toba yang terbentang luas dengan perbukitan yang mengelilinginya.
Kunjungan ke Sibea-bea tidak hanya menjadi kesempatan untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi sebuah pengalaman ziarah. Sejumlah peserta menggunakan kesempatan tersebut untuk berdoa dan menyalakan lilin di hadapan Patung Kristus.
Dalam suasana itu, perjalanan outing memperoleh makna rohani yang lebih dalam. Para imam diajak kembali merefleksikan panggilan dan pelayanan imamat mereka: agar tetap menjadi cahaya yang setia di tengah kehidupan umat, bukan karena popularitas atau pengakuan, melainkan karena Kristus semakin nyata melalui pelayanan yang dijalankan.
Rangkaian perjalanan kemudian dilanjutkan ke Gereja Katolik Paroki Pangururan. Di tempat ini para peserta mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX, Uskup Padang. Perayaan Ekaristi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hari itu, sekaligus menegaskan bahwa kegiatan menikmati alam dan mengenal budaya tetap menemukan pusatnya dalam perjumpaan dengan Kristus.

Usai perayaan Ekaristi, rombongan mendapat sambutan dan jamuan dari umat setempat. Kebersamaan di sekitar meja makan memperkuat suasana persaudaraan yang telah terbangun selama perjalanan.
Sepanjang perjalanan di Pulau Samosir, para peserta juga menyaksikan berbagai kekhasan budaya Batak. Salah satunya adalah keberadaan makam-makam keluarga yang berada tidak jauh dari pemukiman dan jalan utama. Tradisi tersebut menjadi gambaran kuatnya hubungan kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Batak, di mana ikatan keluarga tetap memperoleh tempat penting bahkan setelah kematian.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Huta Siallagan, salah satu kawasan budaya Batak yang terkenal dengan rumah-rumah adat dan berbagai peninggalan sejarahnya. Di tempat tersebut, peserta mengenal lebih dekat arsitektur tradisional, sejarah, serta kehidupan masyarakat Batak.
Kesempatan itu juga dimanfaatkan para peserta untuk membeli berbagai kerajinan dan cenderamata khas sebagai kenangan dari perjalanan di Pulau Samosir.
Kegiatan outing hari keempat menjadi bagian yang berbeda dari rangkaian Munas UNINDO XV. Jika hari-hari sebelumnya banyak diisi dengan persidangan, diskusi dan pembicaraan mengenai kehidupan serta pelayanan para imam, perjalanan ke Samosir menghadirkan ruang bagi peserta untuk membangun persaudaraan dalam suasana yang lebih santai.
Keindahan Danau Toba, kekayaan budaya Batak, ziarah di Sibea-bea, Ekaristi, serta kebersamaan sepanjang perjalanan akhirnya menjadikan outing ini bukan sekadar kegiatan rekreasi, tetapi juga perjalanan persaudaraan dan penyegaran rohani bagi para imam peserta Munas UNINDO XV.