Boganatar, Sabtu, 27 Juni 2026 – Musik liturgi bukan sekadar mengisi keheningan dalam Perayaan Ekaristi, tetapi menjadi doa yang dinyanyikan dan bagian utuh dari liturgi Gereja. Kesadaran inilah yang menjadi semangat dalam Kegiatan Penyegaran Musik Liturgi bagi para dirigen dan utusan dari delapan stasi di Paroki Boganatar yang berlangsung dengan penuh antusias.
Sekitar 20 peserta mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk pembinaan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan dalam pelayanan musik liturgi. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki yang mengajak seluruh peserta untuk terus mengembangkan kompetensi dan spiritualitas sebagai pelayan liturgi.
Sebagai narasumber, hadir Tim Komisi Liturgi Keuskupan Maumere, yakni Bapak Geradus Paga dan Bapak Ignasius Novendi Londa, yang membawakan materi secara komunikatif, diselingi praktik dan diskusi sehingga suasana pelatihan berlangsung dinamis.
Materi yang diberikan dimulai dengan pengantar liturgi sebagai dasar memahami hakikat perayaan Gereja. Selanjutnya peserta diajak mendalami peran nyanyian dalam liturgi, bahwa setiap lagu memiliki fungsi liturgis yang membantu umat menghayati misteri iman, bukan sekadar memperindah suasana.
Narasumber juga menjelaskan arti dan maksud setiap nyanyian dalam Perayaan Ekaristi, mulai dari lagu pembuka, Tuhan Kasihanilah Kami, Kemuliaan, Mazmur Tanggapan, Bait Pengantar Injil, Persembahan, Kudus, Anak Domba Allah, Komuni hingga lagu penutup. Dengan pemahaman tersebut, para peserta diajak untuk semakin cermat dalam memilih lagu yang sesuai dengan masa liturgi, tema perayaan, dan bagian-bagian Misa.
Tidak hanya itu, peserta memperoleh pembekalan mengenai tanda-tanda birama beserta penerapannya dalam lagu-lagu liturgi. Melalui contoh-contoh yang dipraktikkan bersama, para peserta belajar memahami pola irama agar mampu memimpin umat bernyanyi dengan lebih baik. Sesi berikutnya diisi dengan pelatihan teknik memberi aba-aba, sebuah keterampilan penting bagi seorang dirigen agar koor maupun umat dapat bernyanyi secara kompak, teratur, dan penuh penghayatan.
Pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, dan mengikuti setiap sesi praktik. Mereka secara bergantian mencoba memimpin nyanyian, membaca pola birama, serta mempraktikkan teknik aba-aba di bawah bimbingan langsung para narasumber. Suasana penuh semangat ini menunjukkan besarnya kerinduan para pelayan musik liturgi untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas pelayanan mereka.
Pada penutupan kegiatan, Pastor Paroki menyampaikan apresiasi kepada Tim Komisi Liturgi Keuskupan Maumere atas kesediaannya berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta yang telah mengikuti pembinaan dengan semangat dan keterbukaan.
Melalui penyegaran ini diharapkan para dirigen dan utusan dari setiap stasi semakin memahami bahwa pelayanan musik liturgi bukan hanya soal kemampuan bernyanyi atau memimpin lagu, tetapi merupakan sebuah pelayanan iman yang menuntut kesiapan rohani, pengetahuan liturgi, dan keterampilan musikal. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu menjadi penggerak pembinaan musik liturgi di stasi masing-masing sehingga setiap Perayaan Ekaristi dapat berlangsung semakin khidmat, aktif, dan membantu umat mengalami perjumpaan yang lebih mendalam dengan Tuhan melalui nyanyian Gereja.
Ivana Gaharpung
Staff Puspas