Sambut Peserta Munas XV Unindo, Vikjen KAM: Jadikan Pematangsiantar Ruang Persaudaraan dan Jembatan Dialog

Oleh: Rm. Yudel Neno, Pr

PEMATANGSIANTAR – Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan RP Michael Manurung OFMCap mengajak para imam peserta Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia menjadikan perjumpaan di Pematangsiantar sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, membangun dialog, dan memperbarui pelayanan kepada umat.

Pesan itu disampaikan Michael dalam rangkaian pembukaan Munas XV Unindo di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Tambun Nabolon, Pematangsiantar, Senin (14/9/2026).

Sejak para uskup dan imam memasuki lokasi kegiatan, Michael bersama tuan rumah menyambut mereka dalam suasana persaudaraan.

Para peserta diterima dengan tarian penyambutan sebelum memasuki rangkaian kegiatan.

“Selamat datang di Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan,” ujar Michael dalam sapaan penerimaan.

Dalam seremoni pembukaan, ia mengatakan umat dan Gereja Keuskupan Agung Medan bersyukur karena Pematangsiantar dipercaya menjadi locus penyelenggaraan Munas XV Unio Indonesia.

Menurut dia, Munas bukan hanya agenda organisasi, melainkan sebuah peristiwa gerejawi.

Perjumpaan para imam diosesan dari berbagai keuskupan menjadi kesempatan mempererat persaudaraan dalam semangat sinodalitas dan mempersatukan kembali perjalanan pelayanan dalam Kristus.

“Munas menjadi kesempatan bagi kita untuk bersatu dalam Kristus,” demikian salah satu penekanannya.

RP. Michael juga melihat Munas sebagai kesempatan bagi para imam untuk menjadi dan membangun jembatan.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, imam tidak cukup hanya hadir dalam struktur pastoral. Imam dipanggil membangun relasi yang mendekatkan, mempertemukan, dan mendamaikan.

Menurut dia, nama Unio, yang menunjuk pada persatuan, mengandung panggilan mendalam bagi kehidupan seorang imam.

Persatuan tersebut tidak hanya bersifat organisasional, tetapi perlu terlihat dalam relasi antarimam dan dalam cara imam hadir bersama umat.

Dalam konteks tema Munas tentang spiritualitas pada era digital, Michael juga menekankan penggunaan media digital secara pastoral.

Teknologi, menurut dia, perlu digunakan sedemikian rupa sehingga pelayanan digital tidak menjauhkan imam dari manusia konkret yang dipercayakan kepadanya.

Ia mengingatkan gambaran yang kerap digunakan Paus Fransiskus tentang gembala yang memiliki “bau domba”.

Dengan demikian, kehadiran seorang imam dalam ruang digital justru seharusnya semakin memperkuat kedekatannya dengan umat, bukan menggantikannya.

RP. Michael berharap Munas XV menjadi sebuah kairos atau saat penuh rahmat bagi seluruh peserta.

Momentum tersebut diharapkan melahirkan pembaruan yang membuat imam semakin dekat dengan umat serta semakin mampu menjadi rasul yang baik dalam medan pelayanan masing-masing.

Scroll to Top