Panduan Praktis bagi Lektor, Lektris, dan Pemazmur
Berikut beberapa hal praktis yang perlu kita perhatikan dan bagikan kepada umat kita sebagai panduan dalam menjalankan tugas sebagai lektor, lektris dan pemazmur.
- Lektor/lektris dan pemazmur adalah delegasi atau juru bicara Allah. Ketika seorang lektor sedang membacakan bacaan bacaan suci dalam liturgi, ia sedang menghadirkan Allah yang sedang berbicara kepada umatNya. Bibir dan mulut seorang lektor sedang dipakai Allah untuk menyampaikan pesan kepada umatNya. Karena itu seorang lektor harus benar benar menyiapkan dirinya sebelum bertugas.
- Persiapan diri: baik di rumah dan sebelum bertugas. Lektor harus membaca lebih dulu, baca berulang ulang dan coba pahami isi bacaan. Sangat keliru jika seorang lektor baru melihat bacaan 5 menit sebelum misa, itu artinya dia menganggap remeh Sabda Tuhan yang akan ia sampaikan, apalagi pada misa hari Minggu dan Hari Raya.
- Sikap tubuh yang benar. Berjalan dengan tenang, tegak dan tidak menyeret alas kaki. Membungkuk di depan altar sebelum naik ke panti imam dan setelah selesai baca. Saat sudah di mimbar sebelum dan sesudah baca tidak perlu membungkuk lagi.
- Saat hening. Sebelum misa dimulai lektor atau pemazmur harus datang lebih dahulu, duduk tenang dan berdoa pribadi. Mengambil sikap hening sebelum perayaan dimulai adalah sikap liturgis yang dulu sangat diperhatikan namun saat ini menjadi sangat longgar.
- Tangan memegang tepi mimbar atau pinggiran buku. Saat membacakan bacaan suci tangan lektor harus memegang tepi mimbar atau pinggiran buku agar tercipat kesatuan antar lekkor dan bacaan.
- Kontak dengan umat. Sebelum membaca dan beberapa kali saat membaca lektor harus membangun kontak dengan umat dengan tatapan mata. Ini penting untuk membangun komunikasi antara pembaca dengan umat.
- Ada saat hening. Setelah menyebutkan sumber bacaan lektor tidak boleh langsung membaca, tetapi ada sedikit waktu hening. Hal yang sama juga sebelum ‘demikianlah sabda Tuhan harus ada saat hening. Setelah bacaan pertama (sebelum mazmur tanggapan) harus ada saat hening.
- Sesuaikan posisi mic. Jika posisi mic terlalu tinggi atau rendah maka sebelum membaca lektor atau peazmur harus menyesuaikannya. Dilarang mengetuk mic untuk tes apakah bunyi atau tidak.
- Wajah yang penuh sukacita. Seorang lektor adalah seorang pewarta kabar sukacita, karena itu wajahnya harus gembira, penuh sukacita dan tersenyum. Apapun beban hidup yang sedang dipikul pada saat menjalankan tugas janganlah menampilkan wajah yang cemberut atau berduka.
- Pengucapan yang benar. Awali bacaan dengan mengatakan, “Bacaan dari…” (bukan “Pembacaan dari…”). Ucapkan judul bacaan dengan jelas, lalu beri jeda sekitar 2-3 detik sebelum mulai membaca isi bacaan.
- Penutup yang berwibawa: Setelah selesai membaca teks, beri jeda sekitar 3 detik, lalu katakan, “Demikianlah Sabda Tuhan.” dan tatap umat saat mereka menjawab dengan ‘Syukur kepada Allah’.
- Pakaian yang rapi bersih dan layak untuk Ekaristi. Jika tidak ada alba maka saat bertugas seorang lektor harus tampil sederhana, asli namun anggun. Saat bertugas tidak perlu pakaian baru tetapi intinya hati yang baru, hati yang penuh sukacita.
- Baca dengan tenang tetapi bukan lambat dan ditarik tarik. Saat membaca perhatikan tempo, intonasi, titik, koma, dan tanda tanda baca lainnya. Baca dengan tempo yang pas: jangan terlalu cepat, jangan pula terlalu lambat.
- Khusus untuk pemazmur. Satu atau dua minggu sebelum bertugas harus latih benar benar. Hindari minum yang dingin dingin atau minuman berakohol. Datang lebih awal dan cocokkan nada dengan organis.
- Minta bimbingan pada lektor dan pemazmur senior atau mereka yang sudah lebih berpengalaman. Khusus untuk para lektor dan pemazmur baru sangat baik untuk meminta bimbingan atau bantuan dari lektor dan pemazmur senior. Jangan malu bertanya dan minta bantuan. Malu bertanya sesat di mimbar saat bertugas.
- Minta bimbingan Tuhan. Menjadi lektor dan pemazmur adalah mewartakan Sabda Tuhan. Karena itu dia mesti minta bimbingan Tuhan sebelum bertugas. Berdoa minta terang Roh Kudus agar apa yang dibacakan dilantunkan dapat didengar, dipahami dan diamalkan oleh umat beriman.
Demikian beberapa hal yang dapat kita perhatikan dalam menjalankan tugas dan pelayanan sebagai lektor, lektris dan pemazmur. Semoga Tuhan menolong kita.
P. Yanto Ndona, OCarm