Seri Katekese Liturgi: Liturgi dan Devosi – Puncak dan Tangga

Para Romo, Pater, Diakon dan Frater. berbicara tentang liturgi dan devosi akan selalu hangat. Benang merahnya adalah bahwa umat lebih mencintai devosi ketimbang liturgi. Misalnya, saat perarakan patung semua umat ikut, sementara saat Misa cuma sebagian umat yg hadir.

Bapa bapa Gereja memberi analogi begini:

Liturgi itu seperti PUNCAK. Devosi itu seperti TANGGA menuju puncak.

  1. Puncaknya adalah liturgi. Dalam liturgi, Yesus sendiri yang datang, memberi Tubuh dan DarahNya. Tidak ada doa yang lebih tinggi dari Misa. Semua doa lain harus naik ke Misa. Dalam Ekaristi Yesus sendirilah yg merayakannya dalam diri kita imamNya (prinsip In Persona Christi)
  2. Tangga menuju puncak adalah devosi: rosario, novena, ziarah, koronka, jalan salib. Tidak semua orang kuat dan mampu langsung sampai ke puncak. Orang butuh tangga untuk naik pelan pelan. Devosi adalah tangga yang disediakan oleh Gereja sesuai ukuran kaki setiap orang.

Masalahnya adalah:

  • Ada yang hanya mau di tangga terus, tidak mau berjuang sampai ke puncak. Rosario tiap hari tanpa lupa, tapi Misa Minggu diabaikan, ini bukan keliru tetapi salah.
  • Ada yg sangat extrim dengan liturgi sampai coba hancurkan tangga, dan paksa semua orang langsung ke puncak, ini juga salah. Marah orang “jangan rosario terus, Misa saja!” Ini juga salah. Nanti umat makin jauh.

Tugas kita tidak boleh paksa umat pilih Liturgi atau Devosi.
Tugas kita adalah melalui tangga devosi bawa umat ke liturgi sebagai sumber dan puncak.

Bagaimana caranya?

Prinsip pertama:
Jangan matikan devosi. Kalau umat mau rosario keliling, dukung mereka. Itu tanda iman masih hidup. Lebih baik umat rosario daripada tidak berdoa sama sekali.

Prinsip kedua:
Jangan biarkan devosi liar, bimbing mereka dengan cinta seorang gembala. Setiap devosi harus punya arah. Contoh: setelah novena 3x, ajak umat untuk Misa bersama. Setelah Rosario, tutup dengan doa syukur atas Ekaristi, setelah jalan salib ajak umat misa harian. Tangga harus mengarah ke puncak.

Prinsip ketiga:
Buat Liturgi Lebih Hangat dan menyapa. Umat suka devosi karena hangat, personal, ada kesaksian. Mari buat Misa kita juga hangat: koor dari lingkungan, doa umat yang menyebut nama nama sakit yang nyata, khotbah yang menyentuh hidup, bukan ceramah teologi bertele tele.

Dari semuanya, prinsip utama yang harus diingat:

Kalau umat datang karena devosi, jangan marah mereka tetapi rangkul mereka di tangga, dan tuntun pelan pelan sampai mereka jatuh cinta pada puncak: yaitu Yesus dalam Ekaristi.

P. Yanto Ndona, OCarm

Scroll to Top