Hari Kedua MUNAS XV UNINDO: Membaca Tanda Zaman di Tengah Arus Digital

Hari Kedua MUNAS XV UNINDO: Membaca Tanda Zaman di Tengah Arus Digital

Matahari terbit di Pematangsiantar. Bersama fajar, para imam memasuki hari kedua Musyawarah Nasional XV UNIO Indonesia, Selasa, 15 September 2026. Hari itu menjadi ruang untuk membaca tanda-tanda zaman: bagaimana identitas dan spiritualitas imam diosesan tetap berakar kuat, sementara dunia tempat mereka diutus terus berubah oleh media sosial, teknologi digital, dan kecerdasan artifisial.

Hari dimulai pukul 06.00 WIB dengan Ibadat Pagi dan Perayaan Ekaristi. Pelayanan liturgi dipercayakan kepada beberapa regio: Regio Kalimantan Barat bertugas dalam Ibadat Pagi. Dalamm isa pagi Mgr. Y. Harun Yuwono menjadi selebran, para uskup dan imamyang hadir sebagai konselebran, sementara tugas lektor dipercayakan kepada Regio MAM (Makassar–Amboina–Manado) dan pelayanan organ serta musik kepada Regio Jawa. Sesudah Ekaristi, para peserta melanjutkan kebersamaan dalam sarapan pagi sebelum memasuki rangkaian refleksi dan sharing.

Identitas Imam di Tengah Dunia yang Berubah

Pada sesi pagi, Mgr. Pius Riana Prapdi dan Dr. Lisa Esti Puji Hartanti mengajak para imam melihat dua sisi yang tidak boleh dipisahkan: kedalaman spiritualitas dan kemampuan membaca perubahan dunia digital.

Mgr. Pius menempatkan kehidupan bersama Allah sebagai titik berangkat. Di tengah kebisingan algoritma dan derasnya informasi, imam tidak boleh kehilangan identitas dasarnya sebagai manusia Allah. Spiritualitas imam diosesan dibangun dalam kedekatan dengan Allah, uskup, sesama imam, dan umat. Teknologi boleh berubah, tetapi doa, Ekaristi, persaudaraan dan kehadiran nyata seorang gembala tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Sementara itu, Lisa Esti Puji Hartanti mengajak peserta melihat perkembangan media, kecerdasan artifisial, sekaligus peluang dan tantangannya. Teknologi dapat memperluas interaksi manusia, tetapi pada saat yang sama dapat mengurangi dimensi tertentu dari perjumpaan langsung. Karena itu, teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana yang melayani manusia, bukan kekuatan yang menentukan manusia.

Refleksi itu kemudian dibawa ke dalam sharing regio dan pleno. Para peserta mendiskusikan dua pertanyaan Bagian I: peran imam diosesan dalam menindaklanjuti hasil SAGKI 2025 serta bagaimana identitas dan spiritualitas imam dimaknai kembali di tengah perkembangan digital dan AI.

Dari berbagai pengalaman regio, mengemuka dua benang merah. Pertama, imam diosesan dipandang sebagai penerjemah, penggerak dan fasilitator agar hasil SAGKI tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi turun menjadi tindakan pastoral di keuskupan, paroki dan keluarga. Proses itu membutuhkan kemampuan mendengarkan umat, melakukan discernment, menentukan prioritas, bertindak dan mengevaluasi.

Kedua, perkembangan teknologi tidak mengubah identitas dasar seorang imam, tetapi menuntut pembaruan cara menjalankan perutusannya. AI dapat membantu pekerjaan pastoral, tetapi tidak dapat menggantikan doa, kebijaksanaan, belas kasih, kesaksian hidup dan kehadiran nyata seorang imam. Semakin virtual dunia, semakin penting kehadiran seorang gembala yang sungguh manusiawi.

Ruang Digital sebagai Medan Pastoral

Sesudah Ibadat Siang dan makan siang, dinamika berlanjut dalam sharing regio untuk pertanyaan Bagian II: apakah pelayanan pastoral dan evangelisasi sekarang perlu dilakukan melalui media digital, bagaimana praktiknya, apa dampak negatifnya, tantangannya dan harapan ke depan.

Jawaban dari berbagai regio menunjukkan arah yang cukup kuat. Pastoral digital telah menjadi kebutuhan, terutama karena ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan umat dan orang muda. Media sosial dapat digunakan untuk katekese, renungan, komunikasi umat, dokumentasi kegiatan Gereja dan pendampingan kaum muda. Tetapi para peserta juga mengingatkan bahwa pastoral digital adalah perluasan kehadiran Gereja, bukan pengganti perjumpaan nyata.

Diskusi juga menyingkap sisi yang perlu diwaspadai: keterbatasan SDM dan jaringan, kualitas konten, hoaks, komentar negatif, narsisme digital, kecanduan media sosial hingga berkurangnya kualitas perjumpaan langsung. Karena itu, literasi digital dan etika bermedia dipandang penting bagi imam, pelayan pastoral, OMK dan umat.

Menjadi “Influencer” yang Membawa Orang kepada Kristus

Menjelang sore, sekitar pukul 16.30 WIB, refleksi dilanjutkan bersama Rm. Yosef Susanto dan Rm. Agung Nugroho melalui tema Imam Diosesan sebagai Influencer Hidup Beriman bagi Umat. Jadwal MUNAS menempatkan sesi ini sebagai Sesi IV hari Selasa.

Kata influencer mendapat makna baru. Pengaruh seorang imam bukan pertama-tama diukur dari jumlah pengikut, likes, atau kemampuan menaklukkan algoritma. Imam dipanggil menjadi orang yang mengalirkan rahmat, bukan mengumpulkan perhatian. Pengaruh sejati bersumber dari kehidupan yang berakar dalam Allah dan diwujudkan dalam kedekatan dengan umat.

Di tengah dunia ketika AI bahkan dapat mensimulasikan empati, imam justru ditantang mempertahankan sesuatu yang tidak dapat digantikan mesin: wajah, suara dan kehadiran manusia yang nyata—mendengarkan, menemani, merayakan sakramen dan hadir dalam penderitaan umat.

Dari Refleksi Menuju Langkah Konkret

Hari belum selesai ketika matahari terbenam. Setelah makan malam, sekitar pukul 20.00 WIB, para peserta kembali berkumpul. Kali ini kelompok tidak lagi dibentuk berdasarkan regio. Para imam dari berbagai keuskupan dipertemukan dalam kelompok-kelompok campuran untuk menjawab pertanyaan Bagian III: apa kesan yang dibawa dari seluruh pertemuan hari itu, langkah apa yang akan dilakukan setelah kembali, dan apa yang diusulkan kepada UNIO Indonesia?

Dari sharing malam itu muncul dua nada yang kuat. Pertama, dunia digital tidak lagi dapat dihindari. Para imam melihat perlunya hadir di dalamnya secara kritis dan bijaksana: menggunakan media untuk pewartaan, membuat konten yang meneguhkan, memperkuat KOMSOS, serta melibatkan OMK dan umat yang memiliki keterampilan digital.

Kedua, tanggung jawab itu tidak dapat dijalankan sendirian. Para peserta mengusulkan agar UNIO semakin menjadi ruang jejaring, pembinaan dan pendampingan: menyediakan pelatihan digital, memperkuat kerja sama dengan KOMSOS, membangun jejaring antar-keuskupan, bahkan menyediakan dukungan preventif dan proteksi ketika imam menghadapi persoalan di ruang digital.

Dengan demikian, perjalanan hari kedua MUNAS XV UNINDO tidak berhenti pada pertanyaan tentang apakah Gereja harus memasuki dunia digital. Pertanyaannya bergeser menjadi lebih mendasar: bagaimana Gereja hadir di sana tanpa kehilangan wajah Kristus?

Jawaban yang perlahan muncul sepanjang hari itu cukup jelas. Dunia digital membutuhkan imam yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak olehnya; yang cakap membaca algoritma, tetapi tetap mampu membaca hati manusia; yang hadir di media sosial, tetapi tidak kehilangan keheningan di hadapan Allah.

Sebab pada akhirnya, kerasulan digital bukan tentang membawa orang kepada seorang imam, kepada sebuah akun, atau kepada teknologi. Kerasulan digital adalah membawa manusia kepada Kristus, kepada persaudaraan, dan kepada persekutuan Gereja.

Scroll to Top