REFLEKSI SAGKI 2025 KEUSKUPAN MAUMERE

1. Apa peran imam diosesan keuskupan dalam tindak lanjut hasil SAGKI 2025? Bagaimana secara konkrit dilaksanakan? Sharingkan praktik baik implementasihasil SAGKI oleh unio keuskupan!

Imam diosesan Keuskupan Maumere memainkan peran sentral dalam tindak lanjut hasil SAGKI 2025. Implementasi hasil SAGKI dilakukan melalui karya pastoral di paroki, komisi, biro dan lembaga. Ini terutama karena semua isu yang diperbincangkan dalam forum SAGKI 2026 relevan dengan tujuh prioritas pastoral yang menjadi amanat Sinode II Keuskupan Maumere. Seluruh implementasi hasil SAGKI 2025 dijalankan dalam semangat sinodal di bawah koordinasi  Pusat Pastoral.

Proses dan Tahapan Implementasi

a. Sosialisasi hasil SAGKI

     Sebagai langkah awal, perwakilan SAGKI Keuskupan Maumere mensosialisasikan hasil SAGKI kepada para imam yang berkarya di wilayah Keuskupan Maumere dengan mayoritas adalah imam diosesan. Sosialisasi dimaksudkan untuk membangun pemahaman bersama tentang situasi pastoral Gereja Katolik Indonesia yang terefleksi melalui isu-isu yang dibahas para uskup, imam dan peserta SAGKI

b. Titik Temu Hasil SAGKI dan Prioritas Pastoral Keuskupan Maumere

     Forum SAGKI secara amat kaya menampilkan gambaran tentang situasi pastoral Gereja Katolik Indonesia di semua bidang kehidupan: spiritual, sosial, politik, ekonomi, budaya, lingkungan hidup dan lainnya. Semua kekayaan isu ini sudah mencakup semua permasalahan pastoral yang berkembang di wilayah Keuskupan Maumere. Titik temu SAGKI 2025 dengan reksa pastoral Keuskupan Maumere, terangkum dalam tujuh prioritas pastoral yang menjadi Amanat Sinode II Keuskupan Maumere tahun 2022.

     Dengan visi “Keuskupan Maumere yang beriman, sehajtera, solider dan membebaskan dalam terang Sabda Allah” reksa pastoral Keuskupan Maumere memberi perhatian pada 1) Pelayan pastoral, 2) Keluarga, 3) Ekonomi, 4) Politik, 5) Solidaritas, (Iman dan ketahanan budaya, 7) Organisasi pastoral. Selain ketujuh prioritas ini, dalam semangat Laudato Si, perhatian terhadap lingkungan hidup menjadi program mandatory.  

     Gambaran tentang visi dan prioritas pastoral Keuskupan Maumere dapat dilihat melalui skema berikut;

c. Metodologi Kerja

   Partisipasi para imam diosesan dalam implementasi hasil SAGKI 2025 di Keuskupan Maumere berlangsung dalam semangat sinodal melalui Managemen Pastoral Berbasis Renstra. Metodelogi ini mengedepankan karya pastoral terencana dan terukur untuk proses transformasi sosial yang terukur.

  Para imam diosesan bersama para imam dari berbagai tarekat serta para pelayan pastoral dari semua paroki, komisi, biro dan lembaga membuat perencanaan strategis di tingkat paroki, komisi, biro dan lembaga. Dokumen perencanaan ini menjadi panduan bagi pelaksanaan karya pastoral yang selalu dievaluasi kembali secara bersama-sama pada pertengan dan akhir tahun

d. KBG (Komunitas Basis Gerejawi) sebagai Fokus dan Lokus

Untuk karya pastoral yang lebih transformatif, Keuskupan Maumere memilih KBG sebagai focus dan lokus  Fokus artinya, KBG mendapat perhatian utama dalam upaya-upaya pemberdayaan pelayan pastoral, keluarga, ekonomi, politik, solidaritas, iman dan budaya, longkungan hidup serta organisasi pastoral. Lokus berarti KBG menjadi sentra dari seluruh proses transformasi.

     Peran para imam diosesan paling nyata terlihat dalam perhatian dan penguatan KBG. Secara terencana dan berkelanjutan para imam diosesan melakukan kunjungan KBG baik untuk pelayanan Sakramen-sakramen maupun kunjungan untuk penyegaran organisasi, sosialisasi tupoksi pengurus KBG yang bermuara pada komitmen untuk menjadikan KBG sebagai komunitas iman dan komunitas perjuangan.

2. Bagaimana memaknai kembali Identitas dan Spiritualitas Imam Diosesan di tengah perkembangan zaman, perkembangan teknologi digital, terutama kecerdasan artifisial? Imam Diosesan seperti apa yang dibutuhkan zaman ini?

Kemajuan ilmu dan perkembangan teknologi, terutama media baru digital, menghadirkan tantangan bagi pemaknaan identitas dan penghayatan spitualitas imam diosesan. Hadirnya berbagai fasilitas mengganggu “ruang hening” para imam. Kesibukan pelayanan dan keasyikan memanfaatkan fasilitas digital menggerus kehidupan spiritual sehingga identitas sebagai rohaniwan mengalami krisis. Karya pastoral menjadi kehilangan roh yang secara tanpa sadar menggeser identitas para imam projo menjadi seperti “relawan sosial”. Perkembangan kecerdasan artifisial juga melemahkan semangat juang dan daya kritis pastoral. Kita berhadapan dengan “pastoral instan”, pelayanan tanpa kedalaman. Kotbah dan karya tidak lahir dari refleksi yang genuin.

Pemaknaan ulang atas spiritualitas dan identitas imam diosesan menjadi sangat penting. Perkembangan ilmu dan teknologi tidak dapat kita hindari, tetapi perlu refleksi bersama untuk menemukan habitus baru imam diosesan. Ketika “ruang hening” menyempit dan penghayatan spiritual pribadi melemah, imam projo memerlukan “kekuatan komunitas”. Komunitas menjadi entitas baru yuntuk mengokohkan entitas diri yang terombang-ambil oleh pilihan-pilihan terbatas. Melalui komunitas, para imam menumbuhkan kesadaran bersama akan identitas dan membangun komitmen spiritual melalui praktek-praktek rohani bersama seperti doa bersama, merayakan ekaristi dan adorasi, yang hilang dari komitmen pribadi. Dari komunitas dengan komitmen spiritual yang cukup kuat kita dapat mengharapkan kekuatan kontrol sosial termasuk komitmen dalam karya pelayanan.

3. Menurut unio keuskupan, perlukah pelayanan pastoral dan evangelisasi sekarang ini dilakukan lewat media digital? Sudah atau belum? Kalau sudah,ceritakan praktik baiknya, efek negatif jika ada, tantangan dan harapan.

Imam projo hidup dalam budaya media digital, maka pelayanan pastoral dan evangelisasi melalui media digital adalah keharusan. Ada banyak manfaat media digital yang saat ini menjadi fasilitas handal dunia politik dan bisnis. Para influencer secara cerdas melakukan kampanye politik dan bisnis yang mempengaruhi pilihan pasar. Dalam konteks spiritual dan agama, media baru ini juga dipakai untuk memperkenalkan model-model spiritualitas dan secara negatif untuk kepentingan propaganda agama, termasuk merusak dogma agama-agama.

Evangelisasi dan karya pastoral Gereja Katolik perlu semakin luas diwartakan melalui media digital. Sudah banyak praktik baik yang dilakukan sejumlah imam diosesan di berbagai keuskupan. Dua hal yang perlu dikembangkan para ima diosesan untuk karya evangelisasi yang lebih berbuah: Pertama,  memahami secara mendalam Kitab Suci dan Ajaran Katolik. Kedua, fasih memanfaatkan tekonologi digital yang disertai ketrampilan pewartaan.

Rm. Wilfrid Valiance
Wakil Direktur Puspas KUM

Scroll to Top