Renungan 2
IMAM, WAWASAN BERPIKIR DAN TUNTUNAN TINDAKAN PASTORAL

Selasa, 11 Agustus 2026 Jam 16.00
Oleh: RD. Stef Wolo


Pengantar

Saya masih sempat bertanya lagi kepada kae Rm. Lorens Noi: “Kae, thema apa yang mau kita refleksikan dan dalami selama hari-hari retret?” Kae Rm. Lorens menjawab: “Azi omong saja seputar persaudaraan!”

Saya kemudian membayangkan persaudaraan sebagai ikatan kasih, ikatan hati antar kita para imam.  Ikatan itu melampaui batasan suku, asal usul, budaya, bahasa dan hubungan darah. Persaudaraan kita didasarkan pada penerimaan, ketulusan, kepedulian dan kesamaan panggilan.

Apa yang menjadi ciri persaudaraan antar kita? Pertama, tanpa syarat. Kita menerima rekan imam kita, rekan kerja kita, umat kita apa adanya. Tanpa membedakan generasi, status sosial, kepemilikan harta atau latar belakang keluarga. Kedua, kita hadir untuk saling mendukung dan mendengar satu sama lain. Kita berbagi beban dan memberi kekuatan saat rekan dan saudara kita imam mengalami kesulitan. Ketiga, tanpa pamrih. Membantu dan mengasihi rekan imam, tanpa mengharapkan balasan atau keuntungan.

Kasih dan iklim persaudaraan para imam membantu kita mencegah perpecahan dengan menghancurkan tembok pemisah, ego pribadi  dan ego kelompok yang sering memicu konflik.

Bisa saja konflik antar generasi, antar suku dan kelompok. Di era keterbukaan informasi sekarang ini, umat berani  mengadu domba kita para imam. Mereka bisa membaca persaingan tidak sehat antar kita. Mereka bisa membenturkan imam yang satu dengan lainnya, ordo yang satu dengan ordo yang lain atau imam diosesan, membenturkan para imam dengan uskupnya.

Kita perlu merawat kasih persaudaraan, menciptakan persahabatan,  perdamaian dan keadilan antar kita. Kita membangun kerukunan dan keadilan sosial di tengah komunitas dan umat paroki. Kita menghidupi “toleransi, koeksistensi dan proeksistensi”. Toleransi artinya kita perlu menghargai sesama imam dan segala sesuatu yang berbeda darinya. Entah itu karakter, perbedaan usia, pendekatan, visi dan gaya pastoral.

Koeksistensi artinya kita perlu ada dan hidup bersama secara damai di pastoran atau komunitas lainnya. Setiap imam mesti menjadikan dirinya warga sebuah komunitas. Kita merayakan ekaristi dari altar yang sama. Kita makan dari dapur, periuk dan kuali yang sama. Kita duduk di meja makan yang sama.

Proeksistensi artinya kita menjalin kerukunan dan merawat kasih persaudaraan dalam komunitas. Kita membagi, mewartakan pengalaman persaudaraan kita kepada sesama.

Imam Dan Wawasan Berpikir

Ketika bermenung tentang persaudaraan, saya teringat ungkapan bahasa Jerman: “Global denken, lokal handeln, analytisches denken, digital handeln. Artinya berpikir global, bertindak lokal, berpikir analitis dan bertindak digital”. Frasa ini bisa digunakan dalam pelbagai konteks.

Termasuk dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan, manajemen pemberdayaan masyarakat, pendidikan, bisnis, kehidupan menggereja dan karya pastoral.

Kita para imam dipanggil untuk berpikir global dan bertindak lokal. Berpikir analitis dan bertindak digital. Selama retret ini kita berkesempatan untuk refleksi dan sharing. Kita berharap agar ada gerakan batin berupa keinginan, kerinduan, tekad serta semangat yang mendorong kita untuk bertumbuh terus menjadi seorang imam yang transformatif. Imam harus memiliki obsesi terukur untuk melakukan pembaharuan hidup secara berkualitas. Kita mesti berkembang menjadi imam yang berpikir global, berwawasan mondial sekaligus bertindak lokal, berpikir analitis dan bertindak digital.

Kita memiliki wawasan, pengatahuan dan pemikiran yang luas serta terbuka mengikuti perkembangan dunia internasional. Tapi dalam perilakunya tetap berpijak pada nilai, budaya, adat istiadat dan kearifan lokal. Retret menjadi kesempatan berpikir, bertukar gagasan, berdoa dan tersenyum. Santa Theresa dari Kalkuta mengajak kita: “Punyalah waktu untuk berpikir – itu adalah sumber kekuatan. Carilah waktu untuk berdoa – itu adalah kekuatan terbesar di bumi. Temukanlah selalu waktu untuk tersenyum – itu adalah musik jiwa”.

Baca Teks Lukas 4, 14-30

Saya mengajak kita menimba inspirasi dari teks Lukas 4, 14-30. Ketika membacakan teks ini dalam konteks retret kita, saya mengangkat beberapa poin refleksi.

Pertama, “Ia datang ke Nazareth tempat ia dibesarkan”(ayat 16). Setibanya di daerah Galilea, ia pun tinggal di sebuah kota bernama Nazareth(Mateus 2, 23). Lalu ia pulang bersama-sama mereka ke Nazareth. Dan ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya”(Lukas 2, 51).

Manusia yang masuk dalam dunia ini hidup dalam dimensi ruang dan waktu. Manusia adalah mahluk sejarah. Allah kita adalah Allah yang menyejarah. Ia masuk dalam sejarah hiruk pikuk nyata di dunia ini. Dia tidak memandang segala persoalan sejarah dari jauh. Yesus hidup dalam ruang dan waktu.

Uskup Paulus Budi Kleden dalam Prolog buku saya “Mosaik Iman, Budaya Dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Teologi Pastoral” menulis begini: “Waktu yang mengalir adalah juga alur yang menyelamatkan. Bahwa waktu berganti, menunjukan kemungkinan perubahan. Bahwa tidak selamanya seperti ini, merupakan keyakinan yang mendorong perubahan. Di tengah dunia yang masih dililit berbagai penindasan dan praktik hidup yang tidak adil, perubahan adalah keselamatan. Hanya orang yang percaya akan kemungkinan perbaikan di masa depan, sungguh dapat menggerakan perubahan. Sebab itu, waktu adalah jalan keselamatan. Tidak ada keselamatan di luar sejarah, di luar waktu”.

Dalam injil tadi, ruang hidup Yesus adalah Nazareth dan sekitarnya. Dia dibesarkan di sana. Itu berarti Yesus cukup lama tinggal dan berada di Nazareth. Dia tinggal bersama orang tua dan sanak saudara. Ia mengalami masa kecil, masa remaja dan masa muda,  sebelum menjalankan tugas perutusan di depan publik.

Kedua, “Dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri untuk membaca”(ayat 16-17). Semua manusia yang menyejarah mempunyai kebiasaan hidup. Ada tata aturan hidup hariannya sehingga kebiasaan itu selalu dilaksanakan. Tanpa aturan hidup harian, kita akan tenggelam dalam lautan rencana dan hidup melulu dalam dunia impian. Perlu habitus atau kebiasaan. Kebiasaan ini diadopsi dari formasi keluarga, formasi seminari dan formasi sebagai pastor paroki, kapelan atau pastor di lembaga-lembaga keuskupan.

Yesus memiliki satu kebiasaan. Setiap hari Sabat ia pergi ke sinagoga dan membaca kitab suci. Dan memberikan pengajaran alkitab. Cara pengajaranNya sangat berwibawa. Isinya berkenaan dengan pewahyuan diriNya. Dalam teks ini Yesus menegaskan bahwa rencana keselamatan Allah sedang terjadi dan terlaksana. Ia menjelaskan rancangan program keselamatan: “Lalu Ia mulai mengajar mereka kataNya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”(ayat 21).

Artinya Yesus menyatakan bahwa “Roh Tuhan ada padaNya. Ia adalah orang urapan Allah. Tujuan kedatanganNya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dia diutus BapaNya untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”. Inilah pewahyuan diri Yesus. Ia secara terus terang menyatakan jati diriNya. Dia mempertegas identitas diri, program hidup dan rancangan keselamatan.

Ketiga, dinamika perjumpaan. Dalam kehidupan kita, termasuk dalam karya pastoral, media perjumpaan antara kita selalu menjadi penting. Di kampung kecil Nazareth terjadi perjumpaan yang menunjukan relasi persaudaraan sejati antar manusia. Terjadi dinamika yang menarik. Perjumpaan yang diisi dengan pengajaran dan pewahyuan diri Yesus mendapat tanggapan dari orang-orang Nazareth. Mereka merupakan partner perjumpaan Yesus.

Bagaimana tanggapan orang-orang Nazareth? Ada yang merasa kagum, heran dan takjub. Tapi ada juga yang tidak begitu percaya akan kehebatan Yesus. Mereka masih terkungkung dalam cara pandang sendiri, masih sangat lokal. Wawasan mereka tidak terbuka akan karya Allah yang bisa terjadi pada orang-orang sederhana. Termasuk Yesus yang mereka kenal. “Bukankah ia ini anak Yusuf?” Mereka kecewa, marah dan menolak Yesus untuk berkarya di kampung halamannya.

Bagaimana tanggapan Yesus? Yesus membuka horizon berpikir mereka. Kepada mereka Yesus menegaskan bahwa Ia melaksanakan karya Allah. Karya Allah itu pada hakekatnya adalah karya penyelamatan. Karya penyelamatan itu tidak terkungkung oleh batas-batas budaya, suku dan bangsa. Sejak awal Yesus menjelaskan bahwa Allah berkarya di tempat yang Dia kehendaki. Dan keselamatan terjadi  ketika mereka membuka hati. Yesus mengangkat kisah keselamatan yang terjadi pada janda Sarfaat di tanah Sidon dan Naaman, orang Syria itu.

Pada ayat terakhir injil Lukas tadi tertulis: “Tetapi Ia lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi”.  Dia berjalan melewati mereka dan pergi mengikuti jalanNya.

Artinya Yesus melanjutkan karya perutusanNya sesuai rancangan Allah BapaNya. Karyanya tidak terhenti oleh penolakan orang-orang sekampungnya. Dia melanjutkan karya pewartaanNya di tempat lain.

Tuntunan-Tuntunan Tindakan Pastoral

Bapak Uskup dan rekan-rekan imam terkasih. Saya mengajak kita merenungkan beberapa poin yang bisa menuntun kita menjalani ziarah hidup dan imamat kita.

Pertama, kita hidup dalam ruang dan waktu. Kita sedang mengambil jarak tertentu dari tempat kerja dan hidup selama ini. Paroki-paroki, komisi dan lembaga keuskupan, lembaga pendidikan merupakan ruang publik, tempat pelayanan, ruang kita menjalani hidup setiap hari.

Saya pernah ngobrol dengan Kurt Kardinal Koch, mantan Uskup Basel. Saat ini dia menjadi Prefek Dikasteri untuk Ekumene, Komisi Hubungan Vatikan dengan Yahudi dan sejak 2025 lalu menjadi presiden Lembaga Bantuan Kepausan Kirche in Not(Gereja-gereja yang menderita). Saya memuji-muji dia karena menduduki jabatan strategis di Vatikan.

Dia menjawab: “Ah….Stefan, biasa-biasa saja. Itu semua ruang publik pelayanan kita. Kita hanya beda tempat. Engkau di Eiken-Fricktal, saya di Vatikan Roma. Keduanya sama-sama merupakan lokus pastoral atau tempat karya kita”. Dia bahkan mengatakan bahwa Eiken-Fricktal, Vatikan, paroki-paroki lain di pelbagai belahan dunia merupakan “Heiliger Platz, Holy Place, tempat suci dan kudus, areal keramat”. Tempat-tempat itu menjadi penting dan kudus, karena disanalah dinamika keselamatan terjadi.

Paroki-paroki kita, lembaga-lembaga tempat kita berkarya saat ini merupakan tempat, tempat kudus dan suci. Tempat kita sendiri mengalami Allah berkarya dalam kehidupan. Di sana kita bertumbuh, berkembang, berjuang atau bertarung.

Seorang ibu pernah menghadiahkan saya sebuah buku. Buku ini merupakan karya seorang mantan pendeta, yang kini menjadi Teolog dan Apologet katolik Amerika, Scott Hahn. Judulnya: “Der Priester: Krieger, Bruder, Braeutigam. Imam: Pejuang, Saudara Dan Mempelai Pria. Kita imam, tidak hanya pewarta sabda, pendoa, tukang rayakan ekaristi, bapak rohani, jembatan penghubung atau guru. Kita ini “Krieger, pejuang atau petarung”. Imam adalah pejuang dan petarung hebat. Apresiasi istimewa untuk kita semua.

Paroki atau lembaga merupakan tempat kita menyaksikan karya keselamatan Tuhan dalam diri umat. Mereka beriman, mereka berharap dan mereka hidup dalam cinta kasih Tuhan. Tempat kita mengusahakan terjadinya keselamatan, agar umat kita mengakui dan menerima Tuhan sebagai penyelamat kehidupan. Usaha-usaha itu kita lakukan melalui perayaan ekaristi, pengajaran, katekese sakramen-sakramen, doa-doa dan berkat. Juga karya-karya  sosial di paroki, keuskupan atau kredit union keuskupan. Di tempat-tempat itulah kita bekerja bersama Allah dalam kehidupan harian.

Kedua, kebiasaan-kebiasaan yang ada. Kita perlu melakukan discernment berkaitan dengan habitus atau kebiasaan-kebiasaan baik, entah itu pribadi atau bersama-sama. Adakah kebiasaan di tempat-tempat kerja kita, paroki, lembaga yang memperkuat pewartaan sabda dan kebaikan-kebaikan Tuhan?

Gary Chapman, seorang antropolog dan konselor keluarga asal Amerika menulis buku: “Die funf Sprachen der Liebe atau Lima Ungkapan Bahasa Cinta” yang bisa menciptakan keharmonisan dalam sebuah komunitas.

Lob, Anerkennung dan Wertschaetzung: pujian, pengakuan dan penghargaan. Kita imam butuh pujian, saling memberi apresiasi, mengakui kebutuhan teman dan memberikan penghargaan pada rekan imam.

Zweisamkeit: kebersamaan. Kita sangat sibuk. Tapi jangan lupa perlu ada waktu untuk bersama. Die Zeit ist kostbar. Ich habe immer Zeit fur dich(uns). Waktu itu berharga. Saya selalu ada waktu untuk rekan imam.

Geschenke, die von Herzen kommen. Hadiah-hadiah yang berasal dari ketulusan hati. Geschenke sind sichtbare Zeichen der Liebe. Hadiah-hadiah adalah ungkapan cinta yang kelihatan. Sesekali kita memberikan hadiah untuk rekan imam. Kecil, sederhana tapi dari hati.

Hilfsbereitschaft: selalu siap menolong rekan imam. Saling berbagi kisah suka duka hidup.

Zaertlichkeit: kelembutan. Berusaha menghindari kemarahan. Kemarahan ibarat nyala api yang meledak. Sebaliknya hadirkan kelembutan. Karena kelembutan ibarat hujan yang menyejukan.

Ketiga, dinamika pastoral perjumpaan. Ada penerimaan. Tetapi ada juga penolakan, tantangan berupa pertanyaan-pertanyaan kritis. Apakah yang kita lakukan ketika berhadapan dengan tantangan kritis dari umat?

Sinode para Uskup bulan Oktober 2021 mengusung thema: Untuk Gereja Sinodal: Komunio, Partisipasi Dan Misi. Melalui thema ini, Paus mengingatkan cara hidup dan cara bertindak gereja sebagai umat Allah. Gereja mewujudkan secara konkret persekutuannya dengan berjalan, berkumpul dan berpartisipasi dalam misi evangelisasi. Gereja sinodal melibatkan seluruh umat Allah dan menuntut sikap saling mendengarkan.

Keempat, imam dan apresiasi diri. Tanggal 24 Nopember 2013, Paus Fransiskus menulis anjuran apostolik Evangelii Gaudium atau Sukacita Injili. Paus mengapresiasi: “Saya harus mengatakan pertama-tama demi keadilan bahwa kontribusi gereja dalam dunia sekarang ini sangat besar. Sakit dan malu yang kita rasakan atas dosa-dosa beberapa anggota gereja, dan dosa-dosa kita sendiri, tidak harus membuat kita melupakan betapa banyaknya kaum kristiani memberikan hidup mereka dalam kasih”.(EG 76)

Paus mengingatkan hal-hal positif yang telah dilakukan oleh para imam dan fungsionaris pastoral dalam gereja. Ia mengingatkan agar kita tidak boleh lupa. Fransiskus memberikan penghargaan istimewa kepada kita para imam. Dia tahu bahwa kita imam memiliki dosa dan kesalahan. Para imam memiliki banyak kekurangan. Tapi Paus meneguhkan kita agar tidak terhanyut oleh kesalahan dan dosa-dosa. Kita adalah manusia yang tetap berharga. Yang terpenting, sebagai pewarta injil, kita membiarkan diri dibentuk oleh Tuhan(EG 151).

Pada perayaan ekaristi kamis putih 2020, ketika masa Covid, Paus Fransiskus mengucapkan terima kasih kepada para imam. Mereka yang tetap setia mendatangi umat.

Entah memberi komuni di rumah, melakukan perayaan pemakaman, mendengar pengakuan. Dia juga mengapresiasi imam-imam yang ikut merasakan penderitaan umatnya. Mereka tidak meninggalkan umatnya sendirian. Tapi hadir dan ikut menangis bersama mereka.

Paus Fransiskus menulis: “Tangis lebih baik dari amarah, karena air mata memurnikan hati”. Ini bukan sekedar kalimat indah. Pesan ini merupakan undangan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang tak malu menangis ketika terluka. Yang memilih diam dalam duka daripada melampiaskan luka dengan kebencian.

Paus Fransiskus mengajarkan bahwa tangis bukan tanda kelemahan. Melainkan tanda keberanian untuk mengakui sakit, kecewa dan kehilangan. Karena dalam air mata yang jujur, ada pemurnian. Jiwa dibersihkan dari amarah. Dan hati disiapkan untuk mengampuni. Air mata seorang imam adalah minyak pengurapan untuk umat!

Tanggal 25 Mei yang lalu, Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik pertamanya Magnifica Humanitas. Ia berterima kasih kepada para imam karena tetap bertahan menjadi imam yang manusiawi. Mau duduk diam mendengarkan umatnya dan menyapa dengan bercerita ria. Imam tidak membangun menara Babel, tetapi berjuang membangun Persekutuan, kasih persaudaraan. Imam yang manusiawi adalah benteng terakhir martabat manusia. Ketika algoritma menilai orang dari data, para imam menilai dari luka-lukanya. Ketika dunia membuang yang tak berguna, para imam memungut yang terluka. Untuk itu gereja berterima kasih.

Kelima, imam menghidupi dan menjalankan karya pastoral dalam konteks budaya dan lokus tertentu.

Bercermin pada dokumen EG 28, serta EG 132-134, dalam retret ini kita mengingat kembali hal-hal yang kita jalani dalam karya pastoral kita, yaitu di paroki-paroki, di lembaga pendidikan, perguruan tinggi atau universitas. Kata Paus: “Paroki bukanlah lembaga asing, justru karena memiliki daya lentur yang tinggi, dapat menerima berbagai bentuk yang tergantung pada keterbukaan dan kreativitas perutusan dari pastor dan komunitas”(EG 28).

Paroki akan terus menjadi “gereja yang hidup di tengah rumah para putera puterinya” apabila pastor dan komunitasnya kreatif. Paroki adalah kehadiran gereja dalam wilayah tertentu, suatu lingkungan untuk mendengar Sabda Allah, untuk bertumbuh dalam hidup kristiani, untuk dialog, untuk pewartaan, tindakan karitatif berjangkau luas, ibadat dan perayaan. Dalam segala aktivitasnya paroki mendorong dan melatih para anggotanya untuk menjadi pewarta injil”.

Paus juga mengingatkan kita yang berkarya pastoral di universitas-universitas dan sekolah-sekolah katolik. Paus berkata: “Universitas-universitas adalah lingkungan terkemuka untuk menyampaikan dan mengembangkan komitmen evangelisasi ini secara interdisipliner dan terpadu. Sekolah-sekolah katolik, yang selalu berusaha untuk menggabungkan karya pendidikan mereka dengan pewartaan injil yang eksplisit, merupakan sumber daya yang paling berharga untuk penginjilan budaya”.(EG 132-134).

Keenam, imam berpikir global dan bertindak lokal, berpikir analitis dan bertindak digital. Imam berwawasan global berarti imam yang punya otak dan hati selebar dunia.

Imam tidak boleh kerdil, cuma memikirkan parokiku, umatku, masalahku. Dalam Laudato Si, Paus Fransiskus menegaskan bahwa gereja itu rumah untuk semua.

Berpikir global berarti imam ikut aktif memperhatikan dan merefleksikan keprihatinan di tingkat dunia. Seorang imam ikut memahami issue-issue global, ajaran kitab suci, ajaran para paus dan penderitaan umat manusia. Bertindak lokal menegaskan bahwa seorang imam mesti menjadi orang yang mencari solusi-solusi konkrit di tempat dia berpastoral. Imam mengetahui persoalan krisis iklim global.

Tetapi dia menjalankan aksi nyata, mendorong umatnya agar mengurangi pemakaian plastik di wilayah parokinya. Imam mengetahui perkembangan pencari kesejahteraan hidup dengan fenomena TKW. Tetapi jangan lupa memberi perhatian dengan mereka yang di kampung. Juga meneguhkan mereka dengan firman dan renungan melalui grup WA atau media sosial lainnya.

Ada yang mengeritik kalau imam itu hanya berwawasan global tanpa lokal. Imam pintar bicara tentang seluruh dunia. Tetapi tak tahu keadaan konkrit umatnya, karena jarang atau tidak pernah dikunjungi.S ebaiknya  ada yang kritik, imam cuma lokal tanpa global. Mereka itu imam kerdil dan berwawasan sempit. Imam yang terbuka terhadap perkembangan jaman. Tapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal. Wawasan berpikir dan mata seorang imam menjangkau Vatikan, Eropa, Amerika. Tapi kakinya bergerak ke dusun dan kampung. Mata imam membaca berita Vatikan dan dunia, kaki tangan jalan ke rumah umat untuk membawa damai.  

Imam berpikir analitis dan bertindak digital. Kita perlu memiliki konsep berpikir analitis. Seorang imam mesti cerdas manyaring data. Tidak langsung percaya pada informasi yang terlihat di internet. Imam mesti tekun mencari sumber. Artinya mengecek kebenaran data dari berbagai sumber resmi. Kita belajar filsafat dan teologi. Tapi sudah banyak lupa. Kita perlu menilai logika. Berani memeriksa apakah sebuah argument atau berita masuk akal sebelum membagikannya.

Seorang imam mesti bisa bertindak digital. Kita aktif di media sosial. Perlu bijaksana dalam bersosial media. Membagikan konten yang bermanfaat dan berita yang benar. Kita memanfaatkan alat canggih, menggunakan aplikasi untuk hal-hal positif. Kita perlu menjaga keamanan data dan kerahasiaan pribadi saat berada di ruang internet.

Paus Leo XIV dalam Magnifica Humanitas menulis: “Kini menjadi tugas kita untuk menghadapi tantangan-tantangan pada jaman kita dengan kejernihan berpikir dan tanggung jawab. Perlu untuk menetapkan perangkat regulasi yang memadai, yang mampu menegakan keadilan dan mengekang efek-efek yang mendistorsi dari kekuatan tehnologi”.

Untuk menutup renungan ini saya mengutip kata-kata mantan Presiden Amerika, Harry Truman: “Tidak semua pembaca adalah pemimpin, tetapi semua pemimpin adalah pembaca”. Kata-kata ini bergema di kalangan para pemimpin yang efektif. Mereka tahu bahwa fondasi kepemimpinan yang hebat, termasuk dalam pastoral gereja adalah komitmen untuk belajar seumur hidup.

Dari fondasi inilah setiap kesuksesan dibangun dengan konsisten dan bertahan lama”.  

Kita imam dewasa ini perlu membaca sebanyak mungkin dan jadilah orang yang selalu ingin tahu. Banyak pastor paroki sukses belajar tanpa henti. Mereka tidak pernah merasa sebagai seorang ahli. Tetapi sebaliknya melihat diri sebagai siswa kehidupan, yang banyak membaca dan berpikir untuk pengembangan diri dan karya pelayanan imamatnya. Amin.

Scroll to Top