Renungan I
SANTA KLARA DARI ASSISI: TELADAN PARA IMAM

Kemah Tabor Mataloko: Selasa, 11 Agustus 2026 Jam 09.00
Oleh: RD. Stef Wolo


Pengantar

Hari Selasa tanggal 7 Juli lalu saya berada di biara Canossa Tangerang Selatan, Banten. Kebetulan saya sedang mempersiapkan diri mengikuti retret tahunan bersama teman-teman Unio Kevikepan Mbay.

Tepat jam 16.30 ada panggilan tak terjawab. Dan jam 16.31 menyusul sebuah pesan singkat dari senior Rm. Lorens Noi. “Romo Stef mat sore. Azi ja’o, saya ada perlu le”. Saya bertanya balik: “Perlu moede ka’e?”

Dengan gaya khasnya yang lembut, kae Lorens menjawab: “Ma’e naji, selamat menjalani retret, azi ja’o. Kami imam-imam projo Keuskupan Maumere juga beberapa imam tarekat minta azi jao bisa beri retret untuk kami di kemah Tabor Mataloko, 10 – 14 Agustus. Semoga tidak keberatan le. Terima kasih”.

Saya menjawab spontan: “Haye kae. Selama hampir 29 tahun menjadi imam, saya belum pernah sekalipun membimbing retret. Baik anak sekolah, kelompok-kelompok kategorial, seminarist, biarawan/wati. Saya hanya bisa membawakan kotbah dengan aneka thema dan beberapa renungan rekoleksi. Ini pengalaman perdana membimbing retret. Langsung berat. Untuk Bapak Uskup, dewan kuria dan para imam yang bekerja di keuskupan Maumere. Juga waktu sangat singkat”.

Lagi-lagi kae Lorens meyakinkan saya: “Saya sangat mengharapkan azi jao yang beri le. Lebih banyak tentang persaudaraan”.  Terus terang  suasana batin saya kurang nyaman. Ada pergulatan antara menerima atau menolak. Saat retret hari kedua saya memberikan jawaban. “Kae Lorens. Meski dengan perasaan campur aduk, cemas, takut dan tidak percaya diri, saya menerima permohonan sekaligus tantangan ini. Semoga saya bisa membagi refleksi dan sharing pengalaman persaudaraan”.  

Satu pertanyaan mengusik: Mengapa saya harus menjawab YA atas permohonan Rm. Lorens Noi?

Pertama, kita membutuhkan istirahat. Ketika menciptakan dunia, Tuhan meluangkan waktu untuk beristirahat. Tuhan bekerja selama enam hari. Dan menguduskan hari ketujuh untuk beristirahat. Retret memungkinkan kita untuk mendedikasikan waktu kepada Tuhan. Kita memulihkan diri  sendiri sehingga dapat menjadi murid Kristus yang lebih baik. Retret adalah istirahat yang kudus, agar kita memiliki energi cukup untuk karya pastoral selanjutnya.

Yesus sendiri selalu meluangkan waktu, untuk menjauh dari dunia. Ia tinggalkan para muridNya untuk menyendiri bersama Sang Bapa. Yesus tahu bahwa setelah mencurahkan diriNya ke dalam pelayananNya, Ia perlu mengisi kembali diriNya dengan mengambil waktu sendirian bersama Bapa dalam doa. Retret memberikan kita kesempatan yang sama untuk mengisi kembali diri dengan keteladanan Kristus dan terhubung dengan Tuhan dalam doa-doa pribadi dan bersama.

Kedua, kita membutuhkan komunitas. Retret adalah kesempatan berharga untuk membangun komunitas dengan rekan-rekan imam. Selama ini kita tinggal sendiri-sendiri. Selama hari-hari retret kita hidup dalam satu komunitas, menjalin persahabatan dan persaudaraan. Persaudaraan yang terjalin berdasarkan kesamaan panggilan sebagai imam-imam Tuhan.

Ketiga, kita mengikuti waktu Tuhan. Saat retret kita sedang berada di dunia lain. Hari-hari terasa lebih panjang. Kita berbagi refleksi dan bertemu Tuhan dalam doa, firman dan ekaristi. Saat retret kita hidup menurut waktunya Tuhan, Kairos. Retret memberi kita kesempatan untuk keluar dari rutinitas normal dan hidup menurut waktu Tuhan.

Keempat, kita membutuhkan refleksi. Retret berpotensi mengubah hidup kita di masa depan. Retret juga memberi kita kesempatan untuk menengok ke masa lalu. Kita merenungkan siapa kita di masa lalu. Siapa kita saat ini. Dan siapakah yang Tuhan inginkan dari kita di masa depan.

Kelima, kita menghancurkan hidup. Retret dapat menghancurkan kita. Artinya gambaran kita tentang Tuhan dapat berubah dan hubungan yang kita anggap baik terungkap sebagai buruk, ketika kita terhubung dengan Tuhan dalam retret. Selama retret kita membuka pikiran dan hati kita terhadap cara-cara, dimana Tuhan mungkin mencoba menghancurkan kita, untuk membangun kita kembali.

Keenam, kita membutuhkan rekonsiliasi. Retret menawarkan kesempatan kepada kita untuk membersihkan hidup dari rintangan yang menghalangi kita mengasihi Tuhan sepenuhnya dengan menerima sakramen rekonsiliasi.

Ketujuh, kita perlu menerima Yesus agar bisa menjadi muridNya. Retret membantu kita memfokuskan lagi pandangan pada Kristus. Kita menyatukan diri dengan RohNya. Kita mendapat energi baru untuk kembali berkarya di tengah umat.

Kedelapan, kita terbuka mengubah hidup. Orang bilang retret tidak akan secara ajaib mengubah hidup kita dari tumpukan kekacauan menjadi jendela kaca patri yang penuh lukisan indah orang-orang kudus. Tapi retret dapat mengubah hidup kita, menjadi awal yang penting bagi perjalanan transformatif bersama Kristus.

Bapak Uskup dan rekan-rekan imam…………………………………………..

Saya sudah hampir 29 tahun menjadi imam(kurang 23 hari). Selama 16 tahun saya bekerja di wilayah Ende Lio(Jopu-Ratesuba-Wolotopo). Setahun belajar bahasa Jerman di Sankt Augustin Bonn Jerman. Sebelas tahun bekerja sebagai misionaris Fidei Donum di Keuskupan Basel Swiss. Dan baru 6 bulan dua minggu tinggal di Seminari dan 5 bulan tiga hari menjalani tugas sebagai Seminari Mataloko.

Selama di Flores(Jopu-Ratesuba-Wolotopo) saya tinggal di komunitas pastoran bersama rekan imam, frater, katekis dan karyawan/wati. Saya menjumpai ribuan umat paroki. Mereka melayani kita imam dengan sukacita. Kita imam betul dilayani. Banyak keterbatasan, apa adanya. Tetapi selalu ada sukacita persaudaraan di komunitas pastoran. (Bisa baca buku DARI NUSA BUNGA KE NEGERI ALPEN: Sebuah Autobiografi)

Selama 12 tahun saya tinggal di Eropa. Setahun tinggal di komunitas SVD Sankt Agustin, Bonn Jerman. Komunitas SVD terbesar di Eropa saat ini. Saya menjalani hidup bersama para misionaris dari pelbagai belahan dunia. Termasuk para misionaris alumni Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Setahun di Sankt Agustin merupakan kesempatan yang indah. Kami tinggal di kamar masing-masing. Tapi menghayati hidup dalam sebuah kebersamaan. Hidup berkomunitas di Sankt Augustin berarti membangun dunia sendiri sambil membangun dunia sesama. Komunitas Sankt Augustin memiliki karakter multikultural. Kami hidup dalam nuansa persaudaraan lintas batas.(Bdk. I Remember Sankt Augustin, dalam buku 25 KEPING PERAK DARI NEGERI ALPEN: Sebuah Persepsi Lintas Budaya).

Selama 11 tahun satu bulan di Swiss saya tinggal di rumah pastoran berlantai tiga. Ada rekan kerja, ada umat. Tapi sebagai rumah tangga pastoran, saya tinggal sendiri dan mengurus diri sendiri. Mulai dari  masak, sapu, atur kamar, cuci dan seterika. Air, listrik dan internet tersedia 24 jam. Tehnologi modern mendukung kerja-kerja kita. Semuanya lancar-lancar saja.

Swiss merupakan salah satu negara terbaik di dunia: paling indah, paling mahal dan kaya, paling bersih, aman dan tertib. Saya nikmati kultur kerja Swiss. Kerja ikut aturan, tepat waktu  dan kerjakan tugas-tugas kita. Orang Swiss memegang teguh satu prinsip: “Seorang yang tepat waktu adalah mereka yang penuh perhatian. Saya menghargai waktu anda, dengan demikian saya menghargai anda”.

Hidup sendiri di sebuah pastoran butuh perjuangan. Bulan September 2017 Uskup Sensi berkunjung ke Swiss. Beliau tanya: “Stef, kesulitan apa yang engkau alami?” Saya jawab: “Ada banyak kesulitan. Tapi saya bisa atasi. Saya berjuang hebat melawan satu hal: kesepian. Karena tinggal sendiri. Saya sering merasakan ketiadaan koneksi langsung dengan sama saudara. Saya rindu hidup dalam komunitas persaudaraan”.

Situasi gereja Swiss beda. Mereka kekurangan imam. Untuk mengatasi kekurangan imam dan menjaga kontinuitas roda  pastoral gereja, Uskup mengangkat sejumlah awam untuk memimpin paroki. Mereka menjadi diakon, teolog awam(pria dan wanita). Saya sendiri pernah mengepalai enam paroki di tepi Sungai Rhein, perbatasan Swiss Jerman.

Para imam, baik diosesan maupun konggregasi yang memimpin paroki tinggal sendiri di pastoran. Bila pastoran sudah dikontrakan kepada orang lain, mereka tinggal di apartemen sekitarnya. Para imam datang dari pelbagai bangsa, budaya, bahasa dan karakter berbeda. Kami saling kenal. Tapi tetap merasa asing satu sama lain. Kami berbicara bahasa yang sama: Jerman. Tapi tak mudah berbagi kisah-kisah pribadi.

Dulu di Swiss ada 8 Misionaris asal Flores: 5 projo dan 3 imam SVD. Lima dari Manggarai, 2 dari Keuskupan Agung Ende dan 1 dari Keuskupan Larantuka. Kami berusaha untuk selalu bertemu. Bisa berbagi cerita, mensharingkan suka duka di tanah misi. Pengalaman pastoral rekan-rekan misionaris bisa menguatkan, memperkaya dan menyemangati kita.

Orang Swiss tertib dan cerdas mengelola keuangan.  Semua uang paroki diatur oleh awam-awam yang profesional. Tidak ada kecurigaan antar awam dengan kita imam. Kita mengelola uang yang menjadi hak kita. Setiap tanggal 25 dalam bulan otomatis uang masuk rekening. Secara material dan finansial, semua kebutuhan hidup di Swiss berkecukupan. Tapi kita berhadapan dengan aneka tawaran dan godaan.

Godaan mengumpulkan uang dan materi untuk diri, egoisme dan ingat diri, rasa nyaman dengan diri, godaan memilih jalan hidup lain dan tak mau Kembali lagi ke tanah air.

Saya punya seorang rekan imam yang baik. P. Albert Nampara SVD dari Ruteng Manggarai. Dia salah satu teman misionaris yang selalu membawa sukacita. Kami tinggal lumayan jauh, 80 km. Dia di biara SVD Steinhaussen dan saya di Eiken. Saya sering ke sana, menginap dan merasakan persaudaraan dalam komunitas. Dia juga selalu punya waktu mengunjungi saya.

Kami selalu punya waktu untuk bertemu. Kami punya satu semboyan: “Uang bisa dicari, harta bisa diperoleh. Tapi persaudaraan susah kita dapat. Harga sebuah persaudaraan tak ternilai bila dibandingkan dengan uang dan harta. Kita mesti punya waktu untuk merawat kasih persaudaraan. Kita harus punya cara bersama untuk merawat imamat”.

Di Swiss kita bisa membeli apa saja, bila kita mau. Satu pertanyaan selalu mengusik saya: “Apakah yang saya cari dan kejar sebagai misionaris di negeri Alpen Swiss? Apakah uang dan harta material berlimpah bisa membuat saya otomatis bahagia dalam hidup imamat?” Saya selalu refleksi begini: “Harta dan uang itu ujian terbesar. Di satu sisi bisa menjadi berkat bila digunakan untuk berbagi. Di sisi lain, bisa menjadi racun yang mematikan bila tidak hati-hati”.

Sebelum ke Swiss, P. E. Waser SVD, asal Swiss mengingatkan saya: “Rm. Stef, di Swiss engkau mendapat banyak uang. Engkau harus menjadikan uang-uang itu sebagai jembatan.

Dan sarana untuk membantu orang-orang  yang membutuhkan. Entah itu keuskupan, rekan-rekan imam, anak sekolah dan orang-orang susah. Uang bukan tujuan hidupmu sebagai misionaris.  Itu bisa membutakan hati. Hidup tanpa cinta pasti hampa. Hidup gila uang dan harta pasti celaka. Hidup bersyukur dan apa adanya, pasti membuatmu bahagia di tanah misi”.

Teks Kitab Suci: Filipi 3, 8 – 14
Santa Klara Dari Asisi.

Hari ini tanggal 11 Agustus, gereja memperingati pesta Santa Klara, seorang perawan dari Asisi Italia. Asisi saat ini adalah kota kedua setelah Vatikan di Roma yang banyak dikunjungi para peziarah.

Klara lahir di  Chiara Offreducio 16 Juli 1194. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya. Ibunya seorang wanita saleh, tekun mendidik dan membina iman anaknya. Ia sering berziarah ke Roma dan Palestina, juga memperhatikan kaum miskin. Sejak kecil Klara selalu berbela rasa dengan kaum miskin. Setiap kali makan, ia  menyisihkan makanan untuk orang-orang miskin.

Dia dikenal sangat cantik dan cerdas. Orang tuanya berharap agar Klara menikah dan membangun keluarga. Seorang pemuda kaya telah siap untuk menikah dengan Klara. Dia bisa menjadi tulang punggung masa depan keluarga. Tapi Klara ternyata secara diam-diam tertarik dengan semangat hidup Santo Fransiskus, pendiri ordo Fransiskan. Ia berkomitmen hidup miskin sesuai harapan injil. Karena itu dia berani memutuskan untuk melepaskan segala sesuatu yang menjadi haknya: kekayaan, harta benda, prestise dan sebagainya.

Pada malam minggu palma tahun 1211, Klara diam-diam meninggalkan rumah orang tuanya dan pergi ke Kapela Portiuncula. Santo Fransiskus bersama para pengikutnya menerima dia di sana. Ia memotong rambutnya dan mengenakan pakaian biarawati. Pengenaan pakaian biarawati merupakan tanda bahwa Klara sudah menjadi milik dan pengantin Kristus. Dia siap mewartakan injil Kristus.

Pada awalnya Klara tinggal di biara Benediktin San Paolo dekat Bastia. Ayahnya berusaha membawa pulang Klara ke rumah. Setelah beberapa waktu, Klara pindah ke komunitas Sant Angelo di Panzo. Di sana ibunya dan saudarinya Agnes bergabung di biara. Biara mereka sangat kaya. Klara merasa harapannya untuk hidup miskin sesuai semangat injil tidak terpenuhi.

Karena itu mereka berpindah ke San Damiano. Di sana Santo Fransiskus membangun rumah sederhana di samping gereja. Semakin banyak perempuan Asisi mengikuti jalan hidup Klara. Mereka membentuk komunitas kecil di San Damiano. Para biarawati komunitas ini disebut “Saudarai-Saudari Miskin dan kemudian menjadi Tarekat Klara Miskin”. Mereka menjalani hidup kontemplatif yang menekankan doa dan keheningan.

Komunitas mereka terus berkembang. Mereka mulai merumuskan spiritualitas, visi dasar ordo dan kerangka kerja yang lebih terstruktur. Klara dan teman-teman coba mengadopsi cara hidup Benediktin. Tapi pemahaman Benediktin tentang kemiskinan rupanya tidak sejalan dengan visi Klara. Klara tidak menginginkan kepemilikan tanah yang permanen maupun jaminan pendapatan.

Banyak pihak menekan Klara dan teman-temannya agar meninggalkan cita-cita hidup miskin dan menyiapkan masa depan dengan jaminan keuangan yang memadai.

Klara tetap bersikukuh. Dia memohon Paus Innocent III supaya mengijinkan komunitas mereka hidup tanpa harta benda dan pendapatan yang terjamin. Setelah lama menanti, Paus akhirnya mengabulkan permohonan mereka. Permohonan itu baru dikabulkan Paus tanggal 9 Agustus 1253 atau dua hari sebelum kematiannya. Peraturan ordonya sangat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Fransiskan dan diteguhkan oleh Paus Innocent IV.

Klara itu wanita luar biasa. Dalam mengejar tujuannya ia tidak hanya mengandalkan ketekunan. Tapi juga kepekaan yang mendalam dan energi spiritual yang berani, tak kenal rasa takut. Kepekaannya terlihat jelas dalam sikapnya kepada semua anggota komunitas. Ia mengijinkan mereka yang tidak mampu menjalani kehidupan yang ketat untuk menjalani kehidupan yang lebih moderat.

Oleh karena itu dalam aturan ordo, dia juga menyerukan kepada para suster untuk hidup harmonis dan baik satu sama lain. Di hadapan para suster, dia menampilkan diri sebagai pelayan yang rendah hati. Bahkan ketika memegang jabatan sebagai pemimpin biara. Dia tetap rendah hati. Klara juga seorang wanita pemberani. Terutama ketika  menghadapi serangan kaum Saracen ke biara mereka. Kaum Saracen adalah istilah yang digunakan oleh orang Eropa abad pertengahan untuk orang Arab, Turki yang beragama muslim. Klara mengambil  Monstrans dan mengangkatnya. Melalui doanya kepada Yesus dalam perayaan ekaristi, mereka mampu mengusir musuh-musuh.

Pendiri ordo di Asisi ini dan Santu Fransiskus memiliki landasan spiritual yang sama. Kesamaan itu diungkapkan dalam aturan hidup mereka. Mereka menggunakan kata-kata yang sama: “Jalan hidup para saudara dan saudari adalah untuk mengamalkan injil suci Tuhan kita Yesus Kristus”.

Klara dan Fransiskus juga menganut cita-cita kemiskinan yang sama. Mereka belajar dari kesetiaan Yesus. Ia lahir miskin, dibaringkan di palungan kayu. Ia mati miskin dan telanjang di kayu salib. Fransiskus mendorong Klara dan para susternya agar tidak menyimpang dari semangat dasar ini. Ia mengungkapkan warisan spiritualnya: “Aku saudara kecil Fransiskus, ingin mengikuti kehidupan dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus dan BundaNya yang paling suci, dan tetap di dalamnya sampai akhir. Dan aku meminta dan menasihati kalian, para wanitaku, agar kalian selalu hidup dalam kehidupan yang paling suci ini dan dalam kemiskinan”.

Klara menderita sakit berkepanjangan. Ia meninggal pada tanggal 11 Agustus 1253 di tanah kosong San Damiano. Kata-kata terakhirnya adalah ucapan terima kasih: “Terpujilah Engkau, Tuhan yang telah menciptakan aku!” Ia dimakamkan di Basilika Santa Klara di Asisi. Banyak orang menghadiri pemakamannya. Dua tahun setelah kematiannya, Paus Alexander IV  mengangkatnya menjadi seorang Santa. Setiap tahun kita merayakan pesta Santa Klara untuk mengenang kehidupan dan teladannya.

Bila satu saat berziarah ke Vatikan, mampir juga ke Asisi. Kita bisa mengunjungi makam Santo Fransiskus dan Basilika Santa Klara. Di basilika Santa Klara ada salib terkenal yaitu salib San Damiano.

Dalam tradisi Fransiskan, Yesus yang bergantung di salib inilah yang berbicara dengan Fransiskus: “Fransiskus, pergilah dan perbaikilah gerejaKu yang hampir roboh”.

Santa Klara Asisi: Teladan Para Imam

Santa Klara bukan pendiri ordo kita. Tapi dia mewariskan kebajikan dan semangat hidup yang bernilai universal. Apa yang dapat kita teladani dari cara hidup Santa Klara Assisi? Santa Klara lahir dari keluarga kaya. Setelah mengalami pergumulan rohani dan melihat kesaksian hidup Santo Fransiskus, Klara memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mewahnya. Ia mau hidup dalam kesederhanaan. Saya mengajak kita untuk merenungkan cara hidup Santa Klara.

Pertama, keteladanan dalam kemiskinan.  Santa Klara memilih hidup dalam kemiskinan dan menolak kepemilikan harta duniawi. Ia memilih untuk hidup sederhana dan bersahaja. Ia mengajarkan nilai-nilai keteladanan dalam membagi harta dengan mereka yang sangat membutuhkan atau orang-orang miskin. Sikap Santa Klara rasanya sangat ekstrim. Tapi pesan untuk kita: Kita perlu mengatur secara bijaksana tentang kepemilikan harta. Apa yang menjadi milik dan hak kita. Dan apa yang menjadi milik dan hak kita. Di Swiss, kita wajib menulis testament tentang segala sesuatu sebelum kita mati!

Seperti Santu Paulus, Santa Klara beryakinan bahwa segala keuntungan yang pernah dia dapatkan, dia anggap sebagai kerugian karena Kristus. Artinya semua hal berharga di dunia, seperti kekayaan, status sosial, kecantikan dan dan kehebatan dirinya, tidak ada artinya jika dibandingkan dengan mengenal Kristus.

Ia rela melepaskan semuanya dan menganggapnya tidak penting supaya ia sungguh-sungguh memiliki Kristus.

Kedua, kecintaan terhadap alam dan mahluk hidup. Santa Klara memiliki kedekatan dengan Santo Fransiskus. Fransiskus memiliki kedekatan yang luar biasa dengan alam dan mahluk hidup. Ia sering berbicara dengan hewan-hewan dan memberkatinya. Kecintaannya terhadap alam menjadi contoh kepedulian terhadap lingkungan dan mahluk-mahluk Allah.

Kita imam harus mendengarkan secara sungguh jeritan alam dan reaksi bumi sebagai akibat dari pemanfaatan kekayaan alam yang hanya memperhitungkan keuntungan ekonomis. Dengan mendengarkan orang-orang miskin dan alam, gereja meyakinkan dunia bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat memisahkan kita dari cinta Kristus, sebagaimana ditegaskan Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma(Roma 8, 35.37-39)

Selama di Eropa saya menyaksikan betapa pengaruh Santa Klara dan Fransiskus dari Asisi sangat kuat terasa. Orang Eropa sangat menghormati binatang. Hampir semua hewan dilindungi. Ada lembaga resmi perlindungan binatang. Binatang sering diperlakukan sebagai anggota keluarga. Satu pernah tanya satu bapa:”Siapa-siapa saja yang tinggal di rumah?” Dia menjawab: ”Saya, istri saya dan Marlyn, kucing kesayangan kami”.

Saya pernah meneguhkan pernikahan sepasang suami istri. Sudah lama mereka hidup bersama. Mereka tak punya anak. Tapi punya anjing kesayangan. Namanya Bianca. Mereka minta supaya Bianca membawa cincin pernikahan ke depan altar.

Bianca didandan, dan mengikat cincin nikah dipunggungnya. Seorang teman menuntun ke depan altar.

Ketiga, kesederhanaan dan kesalehan. Kehidupan Santa Klara penuh dengan dengan kesederhanaan dan kesalehan. Ia memerhatikan kesederhanaan dalam banyak hal. Ia menekankan pentingnya doa, meditasi dan hidup saleh sebagai landasan kehidupan spiritual. Saya ingat pesan Santo Yohanes Maria Vianney, imam dari Ars untuk para imam: “Anak-anakku, hatimu begitu rapuh, namun doa menguatkannya, bahkan untuk mengasihi Tuhan. Doa memampukan kita untuk mencecap surga sebagai rahmat yang turun dari langit untuk kita. Doa akan selalu meninggalkan penghiburan. Bahkan doa menjadi tetesan madu bagi jiwa dan menjadikan segala sesuatunya manis”.

Keempat, kasih sayang dan pelayanan kepada orang miskin. Salah satu spirit dan komitmen utama Santa Klara adalah kasih sayang dan pelayanan kepada orang miskin. Ia mendirikan ordo dan memberi nama ordonya Klaris Miskin. Mereka memfokuskan pelayanan kepada yang miskin dan terlibat penuh melayani orang-orang yang sangat membutuhkan.

Cara hidup Santa Klara mencerminkan tekadnya untuk mengikuti teladan Yesus Kristus dalam kesederhanaan, kasih sayang dan pelayanan tanpa pamrih. Inilah hal-hal yang dapat kita teladani dari cara hidup Santa Klara dari Assisi di masa sekarang. Saya ingat kata-kata inspiratif dari Santa Klara: “Jangan pernah lupa bahwa jalan menuju surga itu sempit. Bahwa pintu gerbang menuju kehidupan itu sempit dan rendah. Bahwa hanya sedikit orang yang menemukannya dan masuk melaluinya.

Dan jika ada beberapa orang yang masuk dan menempuh jalan sempit itu untuk beberapa waktu, hanya sedikit sekali yang bertahan di dalamnya”.

Apakah kita imam menjadi bagian dari sedikit yang bertahan di dalamnya? Imam adalah wadah kasih sayang Allah yang penuh belas kasihan bagi sesama. Kita menjadi apa yang kita cintai dan siapa yang kita cintai membentuk siapa kita. Jangan terganggu oleh hiruk pikuk dunia, yang berlalu seperti bayangan. Amin.

Scroll to Top