MISA PEMBUKAAN RETRET PARA IMAM KEUSKUPAN MAUMERE
Kemah Tabor Mataloko: Senin, 10 Agustus 2026 Jam 18.00
Pesta Santo Laurensius
Teks : 2 Korintus 9, 6-10 & Yohanes 12, 24 – 26
Oleh: RD. Stef Wolo
Kata Pembukaan
Bapa Uskup Ewald dan rekan-rekan imam terkasih.
Awal sekali saya ingin mengucapkan selamat datang dan salam jumpa lagi. Saya sangat bergembira bisa bertemu lagi dengan bapak Uskup dan para imam dari keuskupan Maumere. Ada yang sudah lama kenal. Senior dan Yunior di Ritapiret atau rekan imam ketika kita masih satu keuskupan. Ada yang baru kenal, karena perbedaan usia tahbisan dan jarak tempat karya pastoral. Ada yang sudah lama tidak bertemu. Ada yang sering bertemu, langsung maupun melalui media-media sosial.
Sebagai wilayah adminsitratif gereja lokal, sudah 20 tahun kita berpisah. Sejak tahun 2006. Tapi sebagai saudara seimamat, orang-orang terpanggil kita tetap satu. Sore ini, bertepatan dengan pesta Santo Laurensius, kita membuka hari-hari retret kita dengan perayaan ekaristi. Selama ini kita sibuk dengan pelbagai rutinitas. Saat retret kita diajak untuk kembali ke dalam diri, berdoa, bersyukur, mendengarkan firman Tuhan, refleksi, berbagi pengalaman iman, karya pastoral dan pengalaman persaudaraan. Kita adalah orang-orang pilihan dan kecintaan Tuhan. Tuhan setia mengasihi kita, kaum terpanggil yang sudah memberi diri dengan sukacita. Kita mohon agar Tuhan mendampingi kita, mengikuti semangat pengorbanan Kristus dan kemartiran Santo Laurensius.
Renungan Misa Pembukaan
Bapa Uskup dan para imam terkasih…………………..
Kita semua adalah pengikut Yesus. Bukan pengikut biasa. Tapi pengikut luar biasa. Pengikut istimewa karena mendapat panggilan dan kepercayaan khusus dari Yesus, Sang Guru. Mengikuti Yesus tidak hanya berarti percaya kepadaNya. Mengikuti Yesus berarti berani memberikan seluruh hidup kepadaNya dan sesama kita.
Kita sudah memberikan seluruh diri dan hidup imamat untuk mengabdi Tuhan dan sesama. Kita mengalami aneka pergumulan hidup. Tapi kita terus memberi diri dengan sukacita. Selalu ada tawa ria. Seperti Santo Laurensius. Menurut beberapa catatan, dia bercanda riang saat menderita kemartirannya. Dia bahkan berani berkata kepada kaiser Valerian: “Wahai orang malang, api ini terasa dingin bagiku, tapi ia mendatangkan penderitaan abadi bagimu”.
Kita baru saja mendengar firman Tuhan dari surat kedua rasul Paulus kepada jemaat di Korintus dan penginjil Yohanes. Rasul Paulus menulis: “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu, malah berkelebihan dalam pelbagai kebajikan”. Allah menghargai kita yang memberi diri. Allah mengasihi kita, Uskup dan para imamnya.
Sementara penginjil Yohanes berbicara tentang semangat kemartiran. Yesus menegaskan tiga bentuk semangat kemartiran. Pertama, rela mati. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”(Yohanes 12, 24).
Semangat rela mati artinya rela memberi diri demi mengikuti Yesus. Rela dan berani berkorban demi sesuatu yang luhur dan mulia. Setiap pengorbanan pasti berbuah indah.
Saya pernah berkotbah saat pesta pelindung paroki di Eiken, Santo Vinsens Saragosa, seorang diakon dan martir. Belakangan baru saya tahu ternyata Santo Vinsens dan Laurensius sama-sama kelahiran Huesca, Aragon-Saragosa Spanyol. Laurensius 31 Desember 225 – 10 Agustus 258. Vinsens Saragosa lahir abad ketiga dan meninggal sekitar 304.
Saya mengutip kata-kata Tertulianus(160-240): “Das Blut der Maertyrer ist der Same der Kirche. Darah para martir adalah benih gereja”. Darah dan spiritualitas para martir telah menyuburkan iman gereja, karya misi dan gereja-gereja lokal di pelbagai penjuru dunia.
Kedua, tidak mencintai nyawa. Artinya berfokus pada yang lain. Tuhan, sesama dan alam ciptaan lainnya. Bukan fokus pada diri sendiri, mencari kenyamanan demi kebaikan sendiri. “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal”(Yoh. 12, 25).
Ketiga, melayani Tuhan dan orang lain dan lingkungan alam ciptaan lainnya. “Barang siapa melayani Aku, ia harus mengikuti aku dimana Aku berada, disitupun pelayanKu akan berada. Barang siapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”. Setiap bentuk pengorbanan mendapat penghargaan dari Tuhan.
Semua pernyataan Yesus ini menegaskan sikap dan semangat kemartiran, pengorbanan dan pemberian diriNya.
Ia memberikan pelayanan total untuk keselamatan umat manusia, kebaikan sesama dan alam ciptaan lainnya. Yesus sendiri sudah terlebih dahulu memberikan seluruh hidupNya bagi kita. Ia memberikan waktu, tenaga, perhatian, kasih. Bahkan akhirnya memberikan tubuh dan darahNya, memberikan nyawaNya di kayu salib.
Karena itu menjadi pengikut Kristus berarti belajar memberi hidup kita. Bukan hanya saat senang, penuh kemudahan dan keringanan. Tapi juga ketika berat dan penuh tantangan. Bukan hanya ketika kita dihargai. Tetapi juga ketika kita dilupakan dan tidak dimengerti. Bukan hanya saat kita memperoleh sukacita. Tetapi juga ketika kita harus berkorban. Sebab hidup yang diberikan itulah yang dapat berbuah.
Biji gandum tidak akan menghasilkan buah, bila tetap utuh dan tidak jatuh ke tanah. Demikian juga hidup kita. Bila kita terus mempertahankan diri, mencari kenyamanan dan kepentingan diri, gengsi dan keinginan untuk dilayani. Mungkin kita nampak tetap sibuk dalam pelayanan. Tetapi hidup kita belum tentu menghasilkan buah.
Hari ini pesta Santo Laurensius, diakon dan martir. Kita berdoa agar kita bisa meneladani spiritualitas kemartiran dan perlindungan Santo Laurensius. Paus Damasus menulis di atas batu nisan begini: “Kekejaman para algojo, api, siksaan, belenggu dimenangkan oleh Laurensius hanya dengan iman. Damasus memohon sembari menunjukan persembahan di altar, agar keutamaan martir yang jaya inipun menjiwai dirinya”.
Kita ingin berkomitmen seperti Laurensius. Berani menghadapi tantangan-tantangan pastoral. Terus berjuang mempertahankan dan menghidupi iman. Terus menghayati semangat kasih persaudaraan. Selalu siap memberi diri untuk sesama.
Saat di Swiss saya baru dengar istilah martir merah dan martir putih. Martir merah adalah mereka yang setia mempertahankan imannya sampai mati. Martir yang mempertahankan iman dengan kurban darah. Sedangkan martir putih adalah mereka yang menjalani kehidupan dengan matiraga yang ketat. Tapi semua mereka, baik martir merah maupun putih, sama-sama menjadi teladan dan pendoa umat beriman.
Setelah berada di medan karya pastoral, kita diajak untuk berhenti sejenak di kemah Tabor ini. Kita akan merenung: Apakah hidup kita, karya pastoral kita, perjuangan dan pengorbanan kita sungguh semakin berbuah? Apakah pelayanan-pelayanan kita meneguhkan persekutuan persaudaraan kita? Apakah kita semakin menjadi pribadi yang rela berkorban, membawa sukacita, pengharapan dan damai bagi rekan imam dan umat kita?
Mengikuti Yesus bukan pertama-tama tentang berapa banyak yang sudah kita lakukan bagiNya. Mengikuti Yesus adalah tentang sejauh mana kita membiarkan hidup kita menjadi milikNya dan melalui hidup kita, kasihNya dapat dirasakan oleh rekan-rekan imam dan umat. Marilah kita belajar dari Yesus. Kita memberikan hidup seutuhnya. Melayani, bukan mencari untuk dilayani. Mengasihi, bukan menuntut untuk dikasihi. Karena pada akhirnya, hidup yang diberikan dengan kasih tidak pernah sia-sia.
Di tangan Tuhan, hidup yang kita serahkan akan berbuah dan menjadi sukacita bagi banyak orang. Seperti buah-buah kemartiran Santo Laurensius.
Sebagai penutup renungan ini saya mengutip doa Paus Yohanes Paulus I, Albino Luciani(1912-1978): “Herr, die Kirche wird besser werden. Nimm mich deshalb, wie ich bin, mit meinen Fehlern und Schwaechen, aber mache mich, wie du mich haben willst. Tuhan, gereja akan menjadi lebih baik. Karena itu ambilah diriku, apa adanya, dengan kekurangan dan kelemahanku, tetapi buatlah aku seperti yang Engkau inginkan”. Amin.