Maumere, 30 Mei 2026 – Suasana penuh sukacita dan persaudaraan mewarnai Aula Seminari Bunda Segala Bangsa (BSB), Sabtu (30/5/2026). Sejak pukul 08.00 WITA, ratusan anggota komunitas rohani dari berbagai wilayah di Keuskupan Maumere mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan Kunjungan Kasih yang diselenggarakan oleh Biro Pendampingan Komunitas Rohani (PKR) Keuskupan Maumere.
Masing-masing komunitas hadir tidak hanya membawa semangat kebersamaan, tetapi juga aneka bahan pangan dan kebutuhan harian sebagai bentuk dukungan nyata bagi para seminaris yang sedang menempuh proses pembinaan menuju imamat.
Sebanyak 265 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari tiga organisasi rohani yang berada di bawah pendampingan Biro PKR, yakni Legio Maria (134 peserta), GEMA/GIM (81 peserta), serta St. Anna dan St. Yoakhim (50 peserta).
Selain kehadiran yang penuh antusiasme, para peserta juga membawa berbagai bantuan berupa kebutuhan pokok dan perlengkapan harian, seperti beras, jagung, kacang hijau, minyak goreng, mie instan, telur, bahan makanan lainnya, perlengkapan kebersihan, serta aneka sayuran. Bantuan tersebut menjadi wujud nyata solidaritas umat dalam mendukung kehidupan dan proses pembinaan para calon imam di Seminari Bunda Segala Bangsa.
Dalam sambutannya, Ketua Biro Pendampingan Komunitas Rohani (PKR) Keuskupan Maumere, RD. Quirinus Galmin, menjelaskan bahwa kegiatan Kunjungan Kasih merupakan program bersama yang melibatkan belasan komunitas rohani di bawah naungan Biro PKR.
“Kegiatan ini dibagi ke dalam dua kelompok besar, yakni mengunjungi Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret dan Seminari Bunda Segala Bangsa. Kunjungan ini bukan sekadar membawa bantuan, tetapi menjadi kesempatan berharga untuk membangun persaudaraan, mempererat persatuan, berdialog, dan mendengarkan langsung suara para seminaris,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut sebagai sarana memperkuat kebersamaan Gereja dalam mendukung panggilan hidup imamat dan religius.
Satu Dalam Kristus, Satu Dalam Misi
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan seminar bertema “One in Christ, United in Mission” (Satu Dalam Kristus, Satu Dalam Misi) yang dibawakan oleh Frater Oswald. Dalam pemaparannya, peserta diajak untuk menyadari bahwa misi Gereja bukan hanya menjadi tanggung jawab para imam, biarawan, dan biarawati, tetapi merupakan panggilan seluruh umat beriman.
Semangat berjalan bersama sebagai Gereja yang sinodal menjadi penekanan utama dalam seminar tersebut. Setiap orang beriman dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga, komunitas, dan masyarakat.
Mendengarkan Kisah Panggilan dan Kehidupan Seminari
Kegiatan semakin hidup ketika para peserta mengikuti dialog bersama pimpinan seminari dan para frater. Dalam suasana akrab dan terbuka, para peserta mendapat kesempatan mengenal lebih dekat kehidupan para seminaris, proses pembinaan yang mereka jalani, serta tantangan yang dihadapi dalam perjalanan panggilan.
Salah satu frater, Arturo, membagikan pengalaman hidupnya selama menjalani pendidikan di seminari. Menurutnya, kehidupan seminari menjadi menyenangkan ketika seseorang belajar mencintai kedisiplinan.
“Ketika kita melayani aturan, maka aturan akan melayani kita. Hidup dalam komunitas membuat saya bahagia karena dapat mengenal banyak orang dan belajar bersama,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Frater Michael. Ia mengisahkan bahwa benih panggilannya tumbuh berkat teladan sang kakak. Meski terkadang merasakan kerinduan kepada orang tua, ia mengaku bersyukur karena memperoleh banyak pengalaman, pengetahuan, dan pembinaan selama hidup di seminari.
Dalam sesi dialog, beberapa orang tua peserta juga menegaskan pentingnya peran keluarga dalam menumbuhkan panggilan. Mereka meyakini bahwa panggilan imamat berawal dari rumah, ketika orang tua memperkenalkan nilai-nilai iman dan menjadi teladan hidup bagi anak-anaknya.
Tantangan dan Harapan bagi Seminari
Pada kesempatan yang sama, Pimpinan Seminari Bunda Segala Bangsa, RD. Usman Manuk, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh komunitas rohani yang telah mengambil bagian dalam kegiatan ini.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Seminari Bunda Segala Bangsa membina ratusan siswa tingkat SMP dan SMA dengan jumlah tenaga formator yang masih terbatas. Proses pembentukan karakter dan pendampingan para seminaris dilakukan secara intensif dengan dukungan para guru dan karyawan.
Menurutnya, kebutuhan konsumsi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan seminari. Oleh karena itu, dukungan umat melalui kegiatan Kunjungan Kasih sangat membantu keberlangsungan proses pendidikan dan formasi para calon imam.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh umat untuk mendukung persiapan perayaan 25 tahun Seminari Bunda Segala Bangsa, sekaligus terus mendoakan perkembangan panggilan-panggilan baru di Keuskupan Maumere.
Gereja Bertumbuh Ketika Berjalan Bersama
Lebih dari sekadar menyerahkan bantuan, Kunjungan Kasih menjadi momen rahmat yang mempertemukan berbagai komunitas rohani dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan. Melalui perjumpaan, dialog, dan doa bersama, para peserta diajak untuk semakin mencintai Gereja, mendukung panggilan hidup membiara dan imamat, serta memperkuat komunitas-komunitas rohani sebagai bagian dari persekutuan umat Allah.
Menutup kegiatan, muncul harapan agar Kunjungan Kasih dapat menjadi agenda tahunan Biro PKR Keuskupan Maumere. Dengan demikian, semakin banyak umat dapat terlibat dalam mendukung panggilan imam dan religius serta membangun Gereja yang bersatu, kudus, dan misioner.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan bantuan, makan bersama, dan acara sayonara yang berlangsung dalam suasana penuh sukacita. Semua peserta pulang dengan satu keyakinan yang sama: Gereja akan terus bertumbuh ketika umat berjalan bersama, saling mendukung, dan bersama-sama merawat benih panggilan yang ditanam Tuhan di tengah umat-Nya.
Ivana Gaharpung
Staff Puspas