Bagian II — Tanggapan dan Evaluasi Tiap Materi
- Sosialisasi Hasil Sinode II & RENSTRA Pastoral 2023–2027 (Lexi Dino – PUSPAS)
Sesi pembuka memberikan dasar konseptual bagi seluruh kegiatan. Sinode II dipahami bukan sebagai peristiwa sesaat, melainkan sebagai roh yang menuntun arah perjalanan Gereja lokal. RENSTRA Pastoral berfungsi sebagai panduan strategis agar setiap kebijakan pastoral memiliki arah, tujuan, dan tolok ukur yang jelas.
Jika ditelaah jujur, di sejumlah paroki semangat Sinode masih berhenti pada tataran dokumentatif. Diperlukan strategi konkret agar hasil Sinode dan RENSTRA diterjemahkan dalam budaya pastoral sinodal—yakni cara berpikir dan bekerja yang kolaboratif, mendengarkan, dan partisipatif. Banyak strategi menuntut partisipasi umat luas, namun masih terdapat risiko pelaksanaan yang didominasi struktur “atas ke bawah”. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan partisipatif-transformasional, di mana umat menjadi subjek yang menggerakkan, bukan sekadar objek program.
- Metodologi Pastoral & Tupoksi DPP–KOBILEM Pastoral (Rm. Yoris Role – PUSPAS)
Materi ini mengingatkan akan hakikat karya pastoral sebagai proses dinamis: melihat–menilai–bertindak–merefleksi–bertindak kembali. Pendekatan spiral ini memadukan dimensi teologis, sosial, dan praksis, sehingga pelayanan tidak terjebak dalam rutinitas ritual, melainkan menjadi proses transformasi iman. Pendekatan aksi-refleksi-aksi (spiral pastoral) menunjukkan Gereja yang hidup—belajar dari realitas, menafsirkan dalam terang Injil, lalu bertindak demi transformasi.
Pelaksanaan metodologi ini masih menghadapi tantangan pada tataran implementasi. Banyak DPP masih bersifat struktural, belum fungsional. Gereja perlu memperkuat dimensi edukatif agar metode ini membentuk habitus berpikir reflektif dalam setiap unit pelayanan. Peran komisi, biro, lembaga, dan seksi sering berjalan sendiri. KOBILEM perlu berfungsi sebagai jaringan koordinatif, bukan sekadar tumpukan struktur. Pendekatan “Gereja integratif” harus diterjemahkan ke dalam pola komunikasi dan evaluasi lintas bidang. Dunia umat terus berubah: digitalisasi, migrasi, krisis ekologis. Metodologi pastoral harus lentur dan adaptif tanpa kehilangan roh pembebasnya—pastoral yang berani keluar dan berakar di tanah nyata.
- Perencanaan Strategis Pastoral (Ansos Pastoral) – Rm. Wilfrid
Ada risiko bahwa RENSTRA hanya menjadi produk manajerial bila tidak dibingkai dalam spiritualitas pelayanan. Setiap perencanaan harus berakar dalam doa, discernment, dan semangat “mendengar Roh berbicara dalam realitas umat.” Materi ini menegaskan pentingnya perencanaan sebagai tindakan rohani: rencana pastoral bukan sekadar administrasi, melainkan discernment kolektif—doa bersama yang diterjemahkan dalam langkah strategis.
Berbagai dinamika dan perubahan dalam karya pastoral Keuskupan Maumere menunjukkan bahwa masih ada paroki yang belum memiliki budaya perencanaan yang sistematis dan evaluatif. Penggunaan matriks, indikator, dan kalender kerja pastoral memerlukan formasi tambahan bagi imam dan awam. RENSTRA hanya akan berhasil bila disertai pelatihan metodologis dan perubahan mentalitas: dari “pastoral spontan” menjadi “pastoral terencana.”
Melalui pendekatan Ansos Pastoral, disampaikan bahwa setiap tindakan pastoral mesti dimulai dari melihat kenyataan, bukan dari insting atau kebiasaan lama. Tanpa refleksi periodik, RENSTRA mudah terjebak menjadi formalitas administratif. Karena itu, diperlukan pelatihan lanjutan tentang penyusunan rencana kerja berbasis data dan evaluasi kualitatif.