Catatan Kritis dan Pengembangan:

  1. Kepadatan jadwal. Banyaknya materi padat dengan durasi terbatas menyebabkan waktu refleksi dan diskusi menjadi kurang. Disarankan agar kegiatan dibagi ke dalam dua tahap formasi—spiritual-pastoral dan teknis-administratif—agar proses asimilasi materi lebih mendalam.
  2. Keterbatasan ruang sharing lapangan. Pengalaman nyata para imam dari berbagai paroki belum terwadahi dengan optimal. Sesi case study atau pastoral sharing akan memperkaya proses formasi serta memperkuat keterhubungan antara teori dan praktik.
  3. Belum adanya mekanisme tindak lanjut (follow-up mentoring). Pasca kegiatan, perlu dibentuk mekanisme pendampingan berkelanjutan, misalnya melalui mentoring pastoralis oleh imam senior yang berperan sebagai pembimbing bagi para imam dalam enam bulan pertama masa karya pastoral di paroki.

    Dengan demikian, Pekan Orientasi ini dapat dinilai berhasil baik secara konseptual maupun implementatif. Kegiatan ini memadukan spiritualitas pelayanan, profesionalitas pastoral, dan kedisiplinan administratif—tiga unsur yang menjadi fondasi bagi Gereja lokal yang sinodal dan bertanggung jawab.


    Rangkuman Evaluasi Kegiatan Orientasi Pastoral (Berdasarkan Tanggapan Peserta)

    Kegiatan Pekan Orientasi Pastoral bagi para Imam (0–5 tahun) di Keuskupan Maumere yang berlangsung pada 21–24 Oktober 2025 mendapat tanggapan yang sangat positif dari para peserta. Hampir semua imam  peserta menilai kegiatan ini bermanfaat, inspiratif, dan relevan dengan karya pelayanan pastoral mereka di paroki. Para peserta mengapresiasi materi yang komprehensif, pemateri yang kompeten dan profesional, serta suasana kegiatan yang menyenangkan dan membangun semangat persaudaraan.

    Beberapa tema yang dianggap paling bermanfaat meliputi:

    • Tata laksana administrasi paroki, pencatatan kronik, dan profil paroki.
    • Hukum Gereja dan kanonik, khususnya mengenai kasus-kasus perkawinan dan aset Gereja.
    • Renstra Keuskupan Maumere (KUM), visi-misi pastoral, serta manajemen harta benda Gereja.
    • Formasi pribadi imam, refleksi biblis-teologis, dan nilai spiritualitas dalam pelayanan.

    Selain itu, para peserta merasa diteguhkan oleh pesan dan motivasi Bapa Uskup untuk terus “bertolak ke tempat yang lebih dalam” dalam karya pastoral mereka. Kegiatan ini juga dinilai menjadi wadah perjumpaan, pembelajaran, dan pembaharuan semangat pelayanan antarimam.

    Beberapa catatan evaluatif dan saran perbaikan yang muncul antara lain:

    1. Durasi waktu dianggap terlalu singkat; beberapa materi seperti kanonik dan administrasi aset perlu waktu tambahan.
    2. Perlu pembentukan grup komunikasi tetap antara keuskupan dan para imam untuk tindak lanjut.
    3. Usulan agar kegiatan ini diadakan rutin setiap tahun atau dua tahun sekali termasuk melibatkan juga para pastor senior dalam sesi tersendiri sebagai bentuk penyegaran, serta memberikan sertifikat partisipasi bagi peserta.
    4. Tambahan materi liturgi praktis agar para imam lebih siap dalam pelayanan sakramental.\
    5. Metode pembelajaran kelompok kecil disarankan untuk memperdalam diskusi dan berbagi pengalaman pastoral.

    Secara keseluruhan, kegiatan Orientasi Pastoral Imam 0–5 Tahun berhasil mencapai tujuannya sebagai sarana pembinaan dan formasi lanjutan bagi para imam muda di Keuskupan Maumere. Kegiatan ini memperkaya wawasan, memperteguh panggilan, dan mempererat persaudaraan imamat.

    Para peserta menegaskan bahwa program ini perlu dilanjutkan secara berkelanjutan, dengan penyempurnaan pada aspek teknis dan waktu, serta disertai forum tindak lanjut agar pembelajaran tidak berhenti pada kegiatan orientasi semata, tetapi berbuah nyata dalam pelayanan pastoral di paroki masing-masing.


    Scroll to Top