Pleno Solidaritas

  • Pa Us; sanpukat sebagai payung bagi sekolah-sekolah katolik. Tantangan terbesar dari masyarakat yakni terkait isu untuk menegrikan sekolah. Ketua sanpukat harus sering turun, mendengar dan melihat sekolah-sekolah sebagai bentuk koordinasi dan kedekatan dengan berbagai pihak. Kedua, pastor paroki juga harus bertanggungjawab untuk menghidupkan sekolah-sekolah yayasan yang ada di parokinya.
  • RD. John Dae; menuntut jawaban dari ketua sanpukat untuk dapat menjelaskan brbagai persoalan dan masalah yang dialami dalam tubuh yayasan.
  • Vikjen; sanpukat sebagai tanggungjawab semua umat keuskupan maumere. berbgai kelompok umat mengusulkan untuk mengerikan sekolah-sekolah sanpukat. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian terhadap sekolah, dan guru oleh yayasan sanpukat. Pengurus baru dan berbagai upaya baru dipercaya menjadi sarana untuk memajukan sekolah-sekolah sanpukat.
  • RD. John Bajo; mengapa dana solidaritas keuskupan kurang mendapatkan perhatian dari sekolah-sekolah sanpukat.
  • RD. Laurens Noi; anjuran untuk pembahasan sanpukat di bulan depan rekoleksi
  • RD Arka; Harus ada garis aturan yang jelas untuk dapat melibatkan paroki sebagai wakil ketua sanpukat di paroki.
    • RD. Kanis; berbagai usulan yang telah disepakati kelompok berkaitan dengan soloidaritas harus langsung dan mulai untuk dijalankan oleh para pastor paroki di paroki masing-masing. Managemen harus jelas berkaitan dengan pengelolaan sanpukat. Berkaitan dengan solidaritas paroki, telah ada pedoman yang jelas berkaitan dengan pengumpulan keuangan solidaritas sehingga dapat disosialisasikan kepada seluruh elemen umat.
    • Pentingnnya jejaring pastoral untuk penguatan KBG-KBG
    • Stef Sumandi; umat mempunyai modal yang kuat untuk membangun kehidupan ekonomi pribadi, namun banyak umat yang masih mengalami kekurangan ekonomi. Gereja harus menjadi Rumah sakit jalanan sehingga mampu mendiagnosa permasalahan umat. Gereja juga harus bergerak menggunakan berbagai langkah pencegahan untuk dapat mengatasi berbagai hasil diagnosa tersebut. Salah satu contoh yang besar yakni berkaitan penegrian sekolah. Beasiswa kemudian menjadi salah satu sarana untuk mengatasi permasalahan siswa kurang mampu dan juga berbagai jejaring dilakukan untuk dapat membatu sekolah untuk dapat melengkapi berbagai fasilitas. Gereja juga harus menjadi faktor penyembuh. Berbagai kelompok masyarakat dalam meningkatkan ekonomi harus diberdayakan untuk gereja. Dengan membantu melalaui proses penyuluhan, pendanaan dan berbagai hal lainnya.
  • RD. Wilfrid;
    • Amanat sinode II:  7P
    • Rekstra Pastoral KUM
      • PUSPAS (perencanaan, Koordinasi, Evaluasi)
    • Reksa Pastoral Paroki
      • DPP (perencanaan, Koordinasi, Evaluasi)
    • Koneksi keduanya dihubungi oleh, TIM Puspas (Kobilem) dan Pastor (Tim Renstra)
    • Pastor mesti memiliki softskill untuk mampu menjembatani antara program dan umat paroki.
    • Umat membutuhkan berbagai hal pencerahan-pencerahan dari team paroki dan keuskupan.
    • KBG juga harus menjadi wadah bagi keuskupan untuk dapat memyampaikan berbagai persoalan dan anjuran pastoral.
    • Hasil evaluasi menghasilkan Dokumen Renstra di pusat pastoral dan segala pelaksanaan harus didanai oleh TIM keuangan, berbeda dengan solidaritas, yang bersifat donasi. Dana yang menyentuh hati. Yang bukan menjadi dana yang bersifat administratif tetapi bersifat caritatif. Dan bukan merupakan hasil dari operasional pastoral tetapi dari hasil solidaritas pastoral.
    • Kebijakan Strategi; titik api pastoral (komitmen pastoral, memperlembut klerikalisme, memperkuat softskill), Solidaritas Tim (skill renstra;pastor, tim renstra, tim pastoral: managemen pastoral, membawa tujuh priotitas pastoral ke tengah KBG), KBG (2026; gerakan KBG, pembenahan dan pendidikan KBG (formasi dan modul), perluas jejaring mewujudkan komunitas perjuangan)
    • Fokus dan lokus pemberdayaan harus sampai di KBG sebagai wadah keberadaan umat dan tidak hanya smapai pada stasi dan lingkungan.
    • Strategi pendanaan; managemen (anggaran keuangan harus direncanakaan secara baik dan harus dibaharui secara bertahap), kesejahteraaan karyawan (hak atas kinerja yang terjadi harus sesuai dengan UMR dan harus mendapatkan tunjangan yang sesuai dengan aturan pemerintah.
    • Solidaritas; sekolah sanpukat harus lebih bergerak dalam menjalankan gerakan solidaritas pendidikan. Paroki juga harus menjalin kerjasama untuk meningkatkan solidaritas dari umat.

Laporan Revitalisasi Sanpukat dan Strategi Pastoral Keuskupan

Dalam sidang pleno yang membahas hasil solidaritas, perhatian utama forum tertuju pada dua isu krusial: masa depan Yayasan Sanpukat sebagai payung pendidikan Katolik dan penguatan strategi pastoral berbasis pemberdayaan umat.

1. Urgensi Pembenahan Yayasan Sanpukat

Diskusi dibuka dengan sorotan tajam terhadap eksistensi sekolah-sekolah Katolik di bawah naungan Sanpukat. Pa Us menekankan posisi vital Sanpukat sebagai pelindung sekolah Katolik di tengah tantangan berat, yakni desakan masyarakat untuk menegerikan sekolah-sekolah swasta. Hal ini diperkuat oleh pandangan Vikjen (Vikaris Jenderal), yang menegaskan bahwa Sanpukat adalah tanggung jawab kolektif seluruh umat Keuskupan Maumere. Munculnya isu penegrian sekolah dinilai sebagai akibat dari kurangnya perhatian yayasan terhadap kondisi fisik sekolah dan kesejahteraan guru. Oleh karena itu, kepengurusan baru diharapkan menjadi tumpuan harapan untuk memajukan kembali sekolah-sekolah tersebut.

Dinamika diskusi menuntut akuntabilitas dan sinergitas. RD. John Dae menuntut transparansi Ketua Sanpukat dalam menjelaskan kemelut internal yayasan, sementara RD. John Bajo mempertanyakan minimnya atensi sekolah-sekolah Sanpukat terhadap dana solidaritas keuskupan. Solusi struktural ditawarkan oleh RD. Arka yang mendesak adanya garis aturan yang jelas, di mana pastor paroki harus dilibatkan secara aktif sebagai Wakil Ketua Sanpukat di tingkat paroki. Ketua Sanpukat didorong untuk lebih sering “turun ke bawah” melakukan koordinasi, sementara pastor paroki bertanggung jawab menghidupkan sekolah di wilayahnya.

2. Gereja sebagai “Rumah Sakit Lapangan”: Ekonomi dan Pemberdayaan

Stef Sumandi membawa perspektif sosiologis-pastoral dengan menganalogikan Gereja sebagai “Rumah Sakit Lapangan”. Gereja dituntut mampu mendiagnosa masalah umat—khususnya kemiskinan—dan melakukan tindakan pencegahan serta penyembuhan. Isu penegrian sekolah hanyalah gejala dari masalah ekonomi umat. Maka, solusinya mencakup pemberian beasiswa bagi siswa kurang mampu dan pemberdayaan ekonomi umat. Gereja harus memfasilitasi penyuluhan, pendanaan, dan perluasan jejaring untuk melengkapi fasilitas pendidikan.

3. Arah Dasar dan Strategi Pastoral (Renstra)

RD. Wilfrid memaparkan kerangka kerja strategis berdasarkan Amanat Sinode II (7P) dan Rencana Strategis (Renstra) Pastoral Keuskupan Maumere (KUM). Sinergi antara PUSPAS (Pusat Pastoral) dan DPP (Dewan Pastoral Paroki) menjadi kunci, di mana pastor paroki memegang peran sentral sebagai jembatan. Pastor dituntut memiliki softskill mumpuni untuk menerjemahkan program keuskupan agar dapat diterima dan dijalankan oleh umat.

Fokus pemberdayaan ditetapkan secara jelas: Komunitas Basis Gerejawi (KBG) adalah target utama (lokus), bukan hanya berhenti di stasi atau lingkungan. Menuju tahun 2026, gerakan pembenahan, pendidikan modul, dan perluasan jejaring komunitas perjuangan di KBG menjadi prioritas.

4. Manajemen Solidaritas dan Keuangan

Berkaitan dengan teknis solidaritas, RD. Kanis dan RD. Laurens Noi menekankan pentingnya eksekusi. Usulan solidaritas yang telah disepakati harus segera dijalankan oleh para pastor di paroki masing-masing dengan pedoman pengumpulan dana yang sudah ada. RD. Wilfrid membedakan secara tegas antara dana operasional (administratif) dan dana solidaritas (karitatif/donasi yang menyentuh hati).

Strategi pendanaan ke depan menuntut perbaikan manajemen anggaran secara bertahap dan pemenuhan hak karyawan (kesejahteraan) sesuai standar UMR dan aturan pemerintah. Akhirnya, ditekankan bahwa sekolah Sanpukat dan paroki harus bergerak bersama dalam menggalang solidaritas pendidikan demi keberlanjutan misi Gereja.


Scroll to Top