Notulen Hari III

Hari/Tanggal   : Rabu, 28 Januari 2026

Tempat            : KCH


Sesi 6 : Pleno Konteks Pastoral dan Keuangan

Moderator: RD. Laurensius Noi;

Disukusi Kelompok I dan II;

  • Pertanyaan I;
  • RD Martoni; hasil diskusi sesuai dengan berbagai hal, baik dan benar, kesullitanya adalah bagaimana hal itu dihidupi dari semua elemen pastoral. Di beberapa paroki ada manager program yang baik yang menghidupi berbagai kegiatan. Yang luput dari pandangan dan masalah yakni spirit yang membawa seseorang untuk hadir dalam berbagai kegiatan. Dengan berbagai refleksi dan diskusi haris menyadari corak dari gereja dengan berbagai kelemahan, yang penting adalag kesadaran akan berbagai kelemahan itu, agar melangkah lebih jauh. Demngan menggunakan berbagai karisma dalam paroki tersebut. Secara teoreti hasil jdiskusi sangat bagus, yang bermasalah ialah kehadiran atau partisipasi.
  • Pater Goris; apa maksud dari pertanyaan kedua, apakah yang dimaksud ialah peran dari team koordinator atau yang lain, sehingga menuntut peran penjelasaan dari sang pemberi pertanyaan
  • RD. Domi; komentar, terhadap strategi, ada beberapa keluhan dari paroki, yakni berhubungan dengan kehadiran, dan partisipasi. Solusinya, pertama, mencari tempat pertemuan diluar pusat paroki, seperti di rumah retret atau di tempat lainnya yang menarik. Kedua, Membuat suasana yang menyenangkan. Ketiga, melibatkan pihak lain dalam pertemuan. Keempat, memanfaatkan momen-momen keagamaan untuk mendiskusikan salah satu hal (paskah bersama, natal bersama dll)
  • Ibu Yane; kegiatan semakin bermutu ketika berbagai hal yang sudah direncanakan harus sesuai dengan kebutuhan dan benar-benar harus dilaksanakan. Kedua, keterlibatan, berkaitan dengan kemauan dan juga dedikasi, dianjurkan untuk perangkap pelayan pastoral tidak perlu terlalu banyak, tetapi pilih sedikit dan punya kemauan untuk bekerja.
  • RD. Lorens Bate; Rencanakan yang bisa dikerjakan, dengan pertimbangan biaya, waktu dan sarana prasarana.
  • RD. Arka, proses, program, sudah diatur dan dikerjakan dengan baik, keaktifan bergantung pada koordinasi dan komitmen dari pemimpin pastoral.
    • RD. Yoris; ada tiga agen penting, pastor, fasilitator, dan team pastoral.
    • Ketiga agen ini menjadi pioner atau agen penentu keberhasilan.
    • Dalam perencanaan dan pelakasanaan itu harus menyenangkan, dan juga harus menuntut koordinasi yang baik
    • Apa kriteria atau peran dari pelayan pastoral untuk didiskusikan
    • Situasi pastoral saat ini membutuhkan iklim yang baik, perencanaan yang realistis.
    • Administrator paroki yntuk membantu jabatan lowong di suatu paroki,
    • Manager program, trlihat sangat profran dan menawarkan dengan istilah “koordinator pastoral” yang khusus bertugas pada program-program pastoral
  • RD. Frans; Koordinator dan komunikator yang lemah, sehingga sangat dibutuhkan untuk bertanggungjawab dalam paroki. Sebagai tenaga full time yang siap bekerja untuk pastoral paroki yang cocok ialah para penyuluh agama.
  • Pater Ino; pemanfaatan orang awam yang belajar teologi yang untuk bertugas sebagai asisten pastoral.
  • RP. Remi; Usulkan Nama “Pelayan Umum” untuk manager Pastoral.
  • Bpk. Sius; kelemahan koordinasi dari setiap paroki, sehingga membutuhkan seseorang yang mempunyai hati dan bersedia bekerja untuk karya pastoral.
  • RD. Yoris; teologi praktis dan administrasi paroki menjadi syarat utama untuk mencari pelayan pastoral praktis.
    • Bpk. Uskup; Pastor harus menjadi koordinator dan gembala utama dalam paroki yang mampu bekerjasama dengan berbagai pihak.
      • RD. Alo; kebijaksaan pastor dalam berbagai kegiatan paroki
      • Bapak; fungsi sekretariat, aspek perencanaan menjadi perencanaan, penganggaran dan evaluasi terhadap berbagai kegiatan. Kedua, pertegas uraian tugas dari Pastor.
    • RD. Yoris; KBG boleh membuka jejaring tetapi harus melihat berbagai rambu-rambu.
  • RP. Goris; KBG dituntut untuk menjadi komunitas perjuangan, syaratnya ialah kemampuan (pendidikan) atau SDM dari pengurus KBG, diluar dari syarat-syarat menjadi pengurus.
  • Pa Karilus; Umat KBG mesti memiliki iman dan Roh yang sunguh hidup. Wawasan pastoral menjadi kekuatan dari dari pengurus KBG. Harus adanya pendampingan dari pengurus Lingkungan. Seksi pelayan pastoral juga harus menyiapkan berbagai kegiatan untuk memberdayakan pelayan pasrtoral.
  • RD. Doni; Pelayan pastoral KBG juga harus mendapatkan apresiasi untuk berbagai tugas dan tanggungjawab yang dilaksanakan.
  • RP Toni; kesepakatan bersama tentang batasan-batasan KBG
  • RD. Kanis; Karya pastoral harus mengenal dan mengerti situasi dan keadaan ekonomi dari umat KBG, sehingga jelas menerjemahkan KBG perjuangan. Paroki harus mensiasati berbagai hal untuk membantu menunjang ekonomi umat.
    • RD. Yoris; KBG tetap harus menjadi fokus dari keuskupan, dengan tetap menunjang berbagai pemberdayaan untuk pelayan pastoral KBG. Dibutuhkan pemberdayaan dan apresiasi terhadap pelayan pastoral KBG.

Laporan Narasi Pleno Sesi 6: Konteks Pastoral dan Keuangan

Pemimpin Sidang: RD. Laurensius Noi

Peserta: Diskusi Kelompok I dan II

Dalam Sesi ke-6 yang membahas Konteks Pastoral dan Keuangan, diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti tiga isu utama: tantangan partisipasi umat, struktur manajemen pastoral yang ideal, serta penguatan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Berikut adalah rangkuman narasi dari jalannya diskusi:

1. Tantangan Partisipasi dan Strategi Pastoral

Diskusi dibuka dengan refleksi mendalam mengenai kesenjangan antara teori dan praktik pastoral. RD. Martoni mengungkapkan bahwa meskipun secara teoretis hasil diskusi kelompok sudah sangat baik, tantangan terbesarnya terletak pada bagaimana menghidupi spirit pastoral tersebut dalam realitas sehari-hari. Sering kali, program berjalan berkat adanya manajer program yang baik, namun spirit dasar yang menggerakkan kehadiran umat kerap luput dari perhatian. Oleh karena itu, kesadaran akan kelemahan partisipasi ini menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh.

Menanggapi keluhan mengenai rendahnya tingkat kehadiran dan partisipasi umat, RD. Domi menawarkan beberapa solusi strategis. Pertama, memindahkan lokasi pertemuan ke tempat yang lebih menarik, seperti rumah retret, untuk membangun suasana baru. Kedua, menciptakan suasana pertemuan yang menyenangkan. Ketiga, melibatkan pihak luar untuk memberikan perspektif baru. Keempat, memanfaatkan momen-momen keagamaan (seperti Natal atau Paskah bersama) sebagai sarana diskusi.

Ibu Yane dan RD. Lorens Bate menambahkan pentingnya kualitas perencanaan. Kegiatan pastoral akan bermutu jika direncanakan sesuai kebutuhan riil dan dilaksanakan dengan dedikasi tinggi. Disarankan agar perangkat pelayan pastoral tidak perlu terlalu banyak (gemuk), melainkan sedikit namun memiliki komitmen kerja yang kuat. Perencanaan juga harus realistis dengan mempertimbangkan biaya, waktu, dan sarana prasarana yang tersedia.

2. Manajemen dan Koordinasi Pastoral

Topik selanjutnya beralih pada struktur kepemimpinan dan manajemen paroki. RD. Yoris mengidentifikasi tiga agen utama penentu keberhasilan pastoral: Pastor, Fasilitator, dan Tim Pastoral. Situasi saat ini menuntut iklim kerja yang baik serta koordinasi yang matang.

Muncul wacana mengenai kebutuhan akan tenaga profesional untuk membantu administrasi dan program paroki. Beberapa peserta, seperti RD. Frans dan Pater Ino, menyarankan pemanfaatan tenaga full-timer, seperti penyuluh agama atau kaum awam lulusan teologi, untuk menjadi asisten pastoral yang bertanggung jawab. Terkait penamaan jabatan ini, RP. Remi mengusulkan istilah “Pelayan Umum”, sementara RD. Yoris menyebutkan istilah “Koordinator Pastoral”.

Namun, Bapak Uskup menegaskan bahwa Pastor Paroki tetap harus menjadi koordinator dan gembala utama yang mampu bekerja sama dengan berbagai pihak. Hal ini didukung oleh RD. Alo yang menekankan pentingnya kebijaksanaan pastor dalam setiap kegiatan. Selain itu, fungsi sekretariat perlu diperkuat dalam aspek perencanaan, penganggaran, evaluasi, serta penegasan uraian tugas (job description) pastor agar manajemen paroki berjalan tertib.

3. Penguatan Komunitas Basis Gerejawi (KBG)

Fokus terakhir diskusi adalah mengenai Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai ujung tombak gereja. RP. Goris menekankan bahwa agar KBG dapat menjadi “komunitas perjuangan”, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) pengurus yang mumpuni, di luar syarat administratif biasa.

Bapak Karilus menambahkan bahwa umat KBG harus memiliki iman dan Roh yang hidup. Pengurus KBG perlu memiliki wawasan pastoral yang luas, yang didukung oleh pendampingan dari pengurus Lingkungan. Penting juga adanya apresiasi bagi para pelayan pastoral KBG agar mereka merasa dihargai dalam tugas perutusannya, sebagaimana disampaikan oleh RD. Doni.

Dari sisi sosial-ekonomi, RD. Kanis mengingatkan bahwa karya pastoral harus peka terhadap situasi ekonomi umat. Paroki dituntut untuk mensiasati berbagai cara guna menunjang ekonomi umat agar konsep “KBG Perjuangan” dapat diterjemahkan secara nyata.

Kesimpulan

Pleno ini menyimpulkan bahwa meskipun KBG tetap menjadi fokus utama keuskupan, keberhasilannya sangat bergantung pada pemberdayaan pelayan pastoral, koordinasi manajemen yang rapi di tingkat paroki, serta pendekatan pastoral yang realistis dan menyentuh kebutuhan konkret (termasuk ekonomi) umat.


Scroll to Top