Homili Penutupan Musyawarah Nasional Unio Indonesia

Rabu, 16 September 2026 — Peringatan St. Kornelius, Paus, dan St. Siprianus, Uskup dan Martir

1Kor 12:31–13:13 | Mzm 33 | Luk 7:31–35

“Dari Meditasi Menjadi Jembatan: Dipengaruhi Kristus untuk Mempengaruhi Dunia”

Mgr. Kornelius Sipayung

Saudara-saudara imam diosesan yang terkasih, Injil hari ini memperlihatkan sebuah ironi: orang dapat memandang Tuhan, tetapi gagal mengenal-Nya. Orang-orang melihat Yohanes Pembaptis, tetapi berkata, “Ia kerasukan setan.” Mereka melihat Yesus, mendengar sabda-Nya dan menyaksikan karya-Nya, tetapi berkata, “Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Yohanes terlalu keras bagi mereka, Yesus terlalu bebas bagi mereka. Masalahnya bukan karena Allah tidak hadir; Allah hadir di depan mata mereka, tetapi hati mereka tidak bersedia dipengaruhi oleh-Nya. Mereka seperti anak-anak di pasar: seruling dimainkan, mereka tidak menari; kidung dukacita dinyanyikan, mereka tidak menangis. Mereka menghendaki Allah yang mengikuti irama mereka, bukan Allah yang mengubah irama hidup mereka.

Di sinilah meditasi mendapat arti yang lebih dalam bagi kita para imam. Meditasi bukan hanya memandang Kristus dalam adorasi, membaca Sabda, atau tinggal dalam keheningan. Meditasi berarti mengarahkan mata dan hati kepada Kristus dan membiarkan Kristus mempengaruhi, mengoreksi, menyembuhkan dan mengubah kita. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya lihat dalam Kristus?”, tetapi juga, “Apa yang berubah dalam diri saya karena setiap hari saya memandang Kristus?”

Pertanyaan ini semakin penting di era digital, sebab kita hidup dalam sebuah perebutan pandangan dan perhatian. Layar meminta mata kita, algoritma mempelajari minat kita, opini berlomba mempengaruhi pikiran kita, dan setiap orang dapat menjadi influencer. Ada satu kenyataan sederhana: apa yang terus-menerus kita pandang perlahan-lahan membentuk diri kita. Tetapi Injil hari ini mengingatkan bahwa memandang saja belum cukup. Orang sezaman Yesus memandang-Nya tetapi tidak berubah. Karena itu sebelum bertanya, “Bagaimana imam menjadi influencer di era digital?”, kita perlu bertanya lebih dahulu, “Siapa yang sedang mempengaruhi imam?” Apakah Kristus, atau popularitas? Sabda Allah, atau algoritma? Kehendak Bapa, atau kebutuhan untuk disukai? Kita tidak dapat mengarahkan pandangan umat kepada Kristus apabila mata kita sendiri kehilangan Kristus. Maka perjalanan kerasulan digital harus dimulai dari perjalanan kontemplatif: sebelum menjadi influencer, izinkanlah diri kita di-influence oleh Kristus. Sebelum membawa Kristus ke layar, bawalah hati kita kepada Kristus. Sebelum membuat content, masuklah dalam contemplation. Dari sanalah lahir pewartaan yang bukan sekadar menarik, tetapi mempunyai daya mengubah kehidupan.

Hari ini Gereja menghadirkan dua orang yang memperlihatkan buah kontemplasi itu: Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Mereka hidup ketika Gereja abad ketiga sedang terluka dari luar oleh penganiayaan dan dari dalam oleh perpecahan. Sesudah penganiayaan Decius, muncul persoalan berat tentang lapsi, orang-orang Kristiani yang jatuh dan menyangkal iman tetapi kemudian ingin kembali. Di satu pihak ada tuntutan menjaga keseriusan pertobatan; di pihak lain muncul rigorisme Novatian yang menutup jalan rekonsiliasi. Siprianus dan para uskup mencari jalan yang menjaga disiplin sekaligus membuka kemungkinan pemulihan bagi mereka yang sungguh bertobat. Bahkan ketika legitimasi Kornelius dipersoalkan, Siprianus tidak tergesa-gesa: ia mengutus rekan untuk memeriksa keadaan, kemudian berdiri dalam persekutuan dengan Kornelius dan bekerja mengembalikan mereka yang terpecah kepada kesatuan Gereja. Betapa aktualnya teladan mereka: orang yang sungguh memandang Kristus tidak menjadi pembangun tembok, tetapi pembangun jembatan. Bukan jembatan murahan yang mengabaikan kebenaran, tetapi jembatan yang dibangun dengan kebenaran, pertobatan, belas kasih dan kesabaran.

Bahkan persahabatan episkopal Kornelius dan Siprianus sendiri menjadi sebuah jembatan. Ketika Kornelius menghadapi pembuangan, Siprianus menulis kepadanya dan mengungkapkan sukacita atas keberanian saudaranya; karena mereka satu Gereja dan satu persekutuan, kesaksian seorang saudara dipandang sebagai sukacita bersama. Ketika para pengaku iman yang sempat terseret ke dalam perpecahan kembali ke dalam persekutuan, Kornelius bersukacita dan memberitakannya kepada Siprianus; Siprianus pun melihat kembalinya mereka sebagai pemulihan kesatuan Gereja.

Saudara-saudara, mungkin inilah spiritualitas yang sangat dibutuhkan dalam presbiterium kita: jangan membiarkan seorang saudara imam berjalan sendirian. Ketika saudara berhasil, jangan iri; bersukacitalah. Ketika saudara jatuh, jangan jadikan kejatuhannya bahan percakapan; bantulah ia bangkit. Ketika saudara dikritik, jangan segera ikut melempar batu; datanglah dan dengarkan. Ketika terjadi perbedaan, jangan buru-buru membangun kubu; bangunlah jembatan. UNIO akan sungguh menjadi unio bukan hanya karena kita mempunyai organisasi yang sama, tetapi karena kita mempunyai hati yang mampu berkata: lukamu adalah keprihatinanku, perjuanganmu adalah perjuanganku, dan sukacitamu adalah sukacitaku.

Dan di sinilah bacaan pertama memberikan kriteria yang sangat tajam. Paulus berkata, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang.” Seandainya Paulus menulis kepada kita hari ini, kita dapat membacanya demikian: sekalipun homili kita hebat, gelar akademik kita tinggi, program pastoral kita berhasil, media sosial kita menarik, followers kita banyak dan views kita jutaan, tetapi jika kita tidak mempunyai kasih, semuanya dapat berubah menjadi kebisingan religius.

Ukuran transformasi rohani justru sangat sederhana: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Maka sesudah meditasi jangan hanya bertanya, “Apa bahan homili yang saya peroleh?” Bertanyalah, “Menjadi imam seperti apakah saya karena doa saya?” Apakah lebih mudah mendengarkan? Lebih sedikit menghakimi? Lebih mudah mengampuni? Lebih mampu bekerja bersama? Lebih bersukacita atas keberhasilan saudara? Sebab meditasi sejati mengubah orang yang memandang menjadi semakin menyerupai Dia yang dipandang.

Dari sinilah lahir imam sebagai influencer sekaligus pembangun jembatan. Setiap imam sesungguhnya adalah influencer, meskipun tidak mempunyai akun media sosial. Kita mempengaruhi melalui homili, keputusan pastoral, rapat, percakapan, pesan WhatsApp, cara memperlakukan staf, cara menggunakan uang, cara menerima kritik, bahkan cara berbicara tentang saudara imam ketika ia tidak berada di ruangan.

Namun influencer Kristiani memiliki paradoks yang indah: semakin besar pengaruhnya, semakin ia mengalihkan pandangan orang dari dirinya kepada Kristus. Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Demikian pula seorang imam. Kita bukan tujuan perjalanan; kita adalah jembatan. Dan jembatan tidak dibangun agar orang tinggal di atasnya, tetapi agar orang dapat sampai ke seberang.

Maka jadilah jembatan antara altar dan kehidupan, antara Injil dan dunia digital, antara generasi tua dan generasi muda, antara mereka yang berbeda pandangan, antara yang terluka dan komunitas, antara pendosa yang bertobat dan rumah Gereja. Santo Siprianus bahkan menggambarkan pelayanan rekonsiliasi sebagai usaha membawa kembali anggota-anggota tubuh yang terpecah kepada kesatuan Gereja dan ikatan kasih Kristiani. Jangan menggunakan pengaruh untuk mengumpulkan orang di sekitar diri kita; gunakanlah pengaruh untuk mempertemukan manusia dengan Kristus dan satu sama lain.

Maka, saudara-saudara imam yang terkasih, ketika Munas UNIO Indonesia ini kita tutup, mungkin kita tidak perlu pulang dengan terlalu banyak slogan. Cukuplah membawa pulang satu perjalanan rohani: memandang Kristus – membiarkan Kristus mempengaruhi kita – diubah oleh kasih-Nya – lalu menjadi jembatan agar orang lain dapat berjumpa dengan-Nya. Santo Kornelius dan Siprianus mengingatkan kita bahwa sebelum menjadi martir yang menumpahkan darah bagi Kristus, mereka telah berjuang agar Tubuh Kristus tidak terpecah. Gereja Indonesia pun membutuhkan imam-imam seperti itu: bukan imam yang memperbesar jarak, tetapi mempertemukan; bukan yang memperoleh keuntungan dari konflik, tetapi mendamaikan; bukan yang sibuk membangun kelompok sendiri, tetapi membangun persekutuan; bukan yang hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi menjadi jembatan kasih.

Semoga kita kembali sebagai imam yang matanya memandang Kristus, hatinya dipenuhi kasih, telinganya mampu mendengarkan, hidupnya menjadi kesaksian, tangannya membangun jembatan, dan suaranya—dari altar maupun dari layar—selalu menunjuk kepada Dia: “Lihatlah Anak Domba Allah.”

Itulah perjalanan kita: dari meditasi menuju transformasi, dari transformasi menuju pewartaan, dari pewartaan menuju pengaruh, dan dari pengaruh menjadi jembatan agar dunia kembali memandang Kristus. Amin.

Scroll to Top