DARI UT OMNES UNUM SINT MENUJU DUC IN ALTUM
Yanuarius Hilarius Role*
14 Juli 2018, pkl.12.00 waktu Italia (Pkl.18.00 witeng) Paus Fransiskus mengumumkan penunjukan RD. Edwaldus Martinus Sedu sebagai uskup keuskupan Maumere menggantikan Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD karena faktor usia. Mgr. Kherubim pada 26 September 2018 telah mencapai usia 77 tahun. Kitab Hukum Kanon (KHK) 1983, mengamanatkan bahwa seorang uskup diosesan yang sudah berusia genap tujuh puluh lima tahun, diminta untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Paus, yang akan mengambil keputusan setelah mempertimbangkan segala keadaan. (Kan. 401 § 1). Mgr. Kherubim telah mengajukan pengunduran dirinya kepada Paus Fransiskus sejak dua tahun sebelumnya (2016), dan jawabannya kala itu adalah nunc pro tunc, artinya pengunduran dirinya diterima sampai dengan adanya pengganti. Dan kini penggantinya telah diumumkan. Dengan sendirinya Mgr. Kherubimpun siap memberikan tongkat kegembalaannya kepada Mgr. Edwaldus.
26 September 2018 di Gelora Samador-Maumere moment peralihan tongkat kegembalaan terjadi. Peristiwa tahbisan uskup ke-3 keuskupan Maumere disaksikan oleh Nuntio-Duta Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, bersama 28 uskup (26 uskup aktif, 1 uskup terpilih dan 1 uskup emeritus) dan 3 wakil uskup/vikjen dari 36 keuskupan di Indonesia, serta kurang lebih 500-an imam, ratusan biarawan/wati dan kurang lebih 30 ribuan umat. Peristiwa bersejarah ini patut dicatat dalam lembaran kisah pastoral keuskupan Maumere. Panitia Penahbisan Uskup ke-3 Keuskupan Maumere dibentuk, sebagai sebuah kelompok kecil pada tangan Allah. Alat kecil pada tangan Sang Gembala Agung untuk menunjukkan kebesaran karyaNya dan luhurnya karya penyelenggaraan Allah dalam sejarah keselamatan.
Motto kegembalaan Mgr.Edwaldus, Duc in Altum. Sebuah ajakan untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam, setelah sebelumnya umat keuskupan Maumere, dipersatukan oleh motto kegembalaan Mgr. Kherubim, SVD, Ut Omnes Unum Sint. Semoga Mereka Semua Bersatu.
“Dalam situasi keuskupan Maumere dan Kabupaten Sikka, Motto “Ut Omnes Unum Sint” mengungkapkan harapan saya ke depan supaya ada kesehatian, ada saling pengertian, ada saling mengakui kelebihan dan menyadari kekurangan masing-masing guna menciptakan persaudaraan sejati yang kristiani, antara suku-suku yang beraneka dan antara umat yang beraneka agama. Motto ini menjadi DOA bersama dalam keuskupan Maumere ini seterusnya”, Mgr. Kherubim, SVD. (Epilog, Ut Omnes Unum Sint. Satu untuk Semua, hal. 259)
Dari Ut Omnes Unum Sint menuju Duc In Altum seakan dihubungkan dengan benang merah: karya kegembalaan tak akan pernah berhenti. Setelah didoakan senantiasa untuk bersatu, kini diajak untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam. Bertolak ke tempat karya pastoral dengan lebih serius. Bertolak ke medan karya dengan lebih sungguh-sungguh. Bertolak ke lapangan pengabdian dengan lebih berkomitmen. Bertolak ke kedalaman budi serta hati yang bening dan jujur untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Bertolak dalam satu perahu yang sama: Keuskupan Maumere.
Perhatikanlah ada sesuatu yang indah ketika Petrus yang kecewa dan hendak membereskan jalanya didatangi Yesus dan meminta menolakan perahunya untuk dipakai mengajar. Setelah itu, Dia berkata kepada Petrus; “Duc in Altum. Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu.” Petrus yang ragu karena semalaman tidak mendapatkan apa-apa, kini di hatinya ada seberkas harapan sehingga ia berkata, “…tapi karena Engkau menyuruhnya maka aku akan menebarkan jalan juga.” Hasilnya banyak ikan tertangkap. Akhir dari kisah ini sungguh menjadi sesuatu yang patut direnungkan: menyadari akan kebaikan Allah yang terberi kepada dirinya tanpa memperhitungkan siapakah dia, Petrus merendahkan diri di hadapan-Nya sambil berkata, “Pergilah daripadaku Tuhan, karena aku ini seorang berdosa.” Tapi Tuhan menjawab-nya; “Jangan takut! Mulai sekarang, kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Luk.5:1-11)
Kisah pengalaman iman Petrus bisa menjadi kisah iman umat keuskupan Maumere. Perhelatan akbar Tahbisan Uskup ke-3 Keuskupan Maumere adalah peristiwa iman. Allah yang maha akbar kini terasa akrab di hadapan umat. Hadir dalam seluruh pergumulan kehidupan umat keuskupan Maumere. Ia begitu dekat. Sungguh menyapa situasi konkret umat keuskupan Maumere. Ia yang jauh kini dekat. Ia yang akbar, kini akrab. Ia siap menulis sejarah keselamatan-Nya di tanah Nian Sikka. Tuhan sedang menggunakan tangan-tangan umat keuskupan Maumere untuk menunjukan cintaNya. Ia sedang memakai umat keuskupan Maumere untuk mendemostrasikan kebesaran-Nya. Ia sedang melibatkan orang-orang Maumere untuk karya besar-Nya.
Keuskupan Maumere lahir dari pemekaran Keuskupan Agung Ende yang meliputi Kevikepan Bajawa, Ende dan Maumere. Dengan demikian kevikepan Maumere ditingkatkan statusnya menjadi keuskupan kala itu.
DARI UT OMNES UNUM SINT MENUJU DUC INALTUM
Dalam kurun waktu ini Keuskupan Maumere telah mengalami dua kali pergantian kepemimpinan. Pada tanggal 19 Januari 2008 Paus Benediktus XVI mengangkat dan menunjuk Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD (Uskup Weetabula), menjadi uskup Maumere mengantikan Mgr. Vincentius Sensi Potokota, dan pada 14 Juli 2018 Paus Fransiskus telah menunjuk RD. Edwaldus Martinus Sedu menggantikan Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD sebagai uskup Maumere.
Sabtu, 14 Juli 2018 menjadi babak baru ziarah kegembalaan di keuskupan ini. Ketika Vatikan mengumumkan pengangkatan RD. Edwaldus M. Sedu menjadi uskup ke tiga keuskupan ini, pada saat yang sama lembaran baru karya kegembalaan di keuskupan ini dibuka. Sambil, tentu saja tidak bertolak dari titik nol, melainkan melanjutkan apa yang telah digagas oleh para pendahulu.
Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD (2008-2018) dalam seluruh karya kegembalaannya telah meletakan dasar-dasar kokoh karya pastoralnya di keuskupan ini. Mulai dengan mengenal konteks aktual keuskupan ini sebagai media kegembalaannya, sampai dengan merancang karya strategis kegembalaannya. Baliau mengawali karya kegembalaannya dengan mempelajari situasi nyata medan kegembalaannya, meskipun beliau sendiri adalah anak tanah Nian Sikka. Kurang lebih lima tahun sebelum digagasnya Sinode I Keuskupan ini, beliau menyusuri medan karya kegembalaannya. Diawali dengan penguatan kapasitas para pelayan pastoralnya. Baik imam, biarawan/wati maupun awam diajaknya bekerjasama dalam karya pastoral. Ia mendirikan sekolah kejuruan Politeknik Cristo Re dalam usaha menjawabi kebutuhan akan tenaga-tenaga terampil di wilayah keuskupan ini.
Jejak-jejak karya kegembalaan ini tentu saja akan diteruskan dan disempurnakan oleh Tuhan melalui hamba-Nya Mgr. Edwaldus Martinus Sedu yang ditahbiskan menjadi uskup ke tiga keuskupan Maumere pada 26 September 2018 di Gelora Samador-Maumere.*
* Penulis adalah Imam Keuskupan Maumere,
saat ini bekerja di Pusat Pastoral Keuskupan Maumere