Keuskupan Maumere Dalam Rekaman Singkat Sejarah

RD. Yanuarius Hilarius Role*

Kurang lebih lima abad telah berlalu ketika nenek moyang kita di Pulau ini untuk pertama kalinya menyaksikan perahu-perahu Portugis mengarungi lautan untuk mengambil rempah-rempah di wilayah Maluku dan kemudian cendana di Timor. Sejak pelayaran perdana pada akhir November 1511, dua kali setahun pedagang Portugis yang bermarkas di Malaka melewati perairan ini. Tentu mereka singgah di beberapa tempat di wilayah kita, antara lain Paga, Sikka, Bola dan Maumere. Itulah untuk pertama kalinya nenek moyang kita bertemu dengan orang-orang yang secara resmi menjadi Katolik lewat pembaptisan (bdk. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, “Surat Gembala: 2013, 13).

Misi Dominikan (1561-1859)

Ceritera pembaptisan awal nenek-moyang kita dimulai dengan datangnya para Padri Dominikan pada periode 1561-1859. Diawali dengan mendaratnya P. Antonio da Taveiro, OP di Pulau Ende, dalam pelayaran bersama para pedagang Portugis. Secara resmi pelayanan misi para padri Dominikan di Flores berdasarkan permintaan Mgr. Jorge da Santa Luzia, OP dari Malaka pada 1561. Pada 1569 pimpinan Dominikan melaporkan ke Vatikan bahwa telah dibabtis kurang lebih 25.000 orang di wilayah yang sekarang dikenal dengan Keuskupan Agung Ende, yang mencakupi Kab. Ngada, Nagekeo, Ende dan Sikka saat ini. Seluruh kegiatan misi dan dukungan finansial untuk karya misi pada waktu itu datang dari Malaka.

Di antara tahun 1598-1599 karya misi Dominikan masuk dalam situasi sulit. Hal ini ditandai dengan pengaruh kaum muslim terhadap perkembangan iman katolik yang berhadapan dengan penolakan terhadap kaum Portugis. Pada masa ini tercatat beberapa Dominikan menjadi martir, tanpa nama. Kesulitan kedua adalah ketika para pedagang Portugis berhadapan dengan para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC sebagai akibat dari intervensi ekonomi pada abad ke-16.

Warisan karya misi yang dapat dipelajari dari para Dominikan adalah pendekatan dengan masyarakat/warga setempat. Penggunaan bahasa setempat menjadi kekhasannya. Serta kesaksian hidup mereka yang sederhana menjadi daya tarik tersendiri. Pasca perginya para Dominikan karya perawatan iman dilakukan oleh para awam yang telah didampingi sebelumnya. Dalam dua abad terakhir sebelum datangnya para misionaris Jesuit, perawatan iman katolik dilakukan oleh awam setempat tanpa bimbingan misionaris.

Misi Jesuit (1859-1913)

Karya misi Jesuit terjadi pada 1859-1913. Misi ini diawali dengan tibanya beberapa misionaris Belanda yang diorganisir Vikariat Misi Batavia. Pulau Flores kemudian masuk dalam Vikariat Batavia. Selanjutnya sejak 1859 Kepulauan Sunda Kecil masuk ke dalam wilayah Propinsi Belanda. P. G. Metz, S.J.,kemudian mengunjungi wilayah misi Jesuit di Larantuka. Selanjutnya beliau memulai karya misi baru di Maumere pada 1874, sebagai satu stasi dari Larantuka. Di Maumere, para misionaris Jesuit secara tetap mengunjungi Koting, Nita, Lela, Ili, Nelle, Bola dan Paga.

Warisan misi para Jesuit adalah koordinasi yang baik dalam kehidupan bergereja. Kurang lebih 30.000 orang dibaptis, bangunan gereja dan sekolah didirikan serta paroki-paroki baru dibentuk. Pengorganisasian gereja mulai dibentuk pada masa ini.

Misi SVD (1913-1961/Sekarang)

Selanjutnya karya misi ini diteruskan oleh para pastor SVD (Societa Verbi Divini). Masa para pastor SVD terjadi dalam periode 1913-1961/sekarang. Dalam masa ini terjadi perubahan wilayah gerejani menjadi Vicariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dari Perfektur Apostolik Sunda Kecil. Perfektur Apostolik Sunda Kecil secara resmi terbentuk melalui dektrit Paus 16 September 1913, dan Mgr. P. Noyen, SVD sebagai perfek apostoliknya.

Karya misi Mgr. Noyen, SVD ditandai dengan memberikan perhatian yang serius pada pusat-pusat misi di Flores. Pada 1919-1921 ada kurang lebih 29 misionaris SVD yang berkarya di Kepulauan Sunda Kecil dan perkembangan umat katolik mencapai 58.746 jiwa.

Dalam periode ini, Islam dianggap sebagai suatu tantangan. Untuk itu membaptis sekian banyak orang menjadi salah satu strategi untuk menangkal perkembangan Islam di Flores.

Pada 1922 Perfektur Apostolik di Roma mengumumkan Kepulauan Sunda Kecil menjadi Vikariat Apostolik. Vatikan juga mengangkat Mgr. Arnold Verstraelen, SVD pada 14 April 1922 sebagai Vikariat Apostolik Sunda Kecil. Dalam masa ini umat katolik diperkirakan mencapai 150.764, tersebar di 30 stasi dengan 56 imam pada tahun 1932. Mgr. Verstraelen mencatat ada 4 faktor utama yang menyebabkan berkembangnya jumlah umat katolik, yakni: rahmat Allah, kepribadian orang-orang Flores yang secara alamiah sangat kristiani-naturaliter cristiana, lembaga-lembaga pendidikan yang sistematis serta pengorbanan dan dedikasi yang kuat dari para misionaris (Uran, L.L., 1988: 171).

Mgr. Verstraelen memberikan laporan pada akhir masa karya misinya di Flores dengan mendirikan  Ambaschtsschool sebagai sekolah pertukangan bagi kaum muda dan Percetakan Arnoldus di Ende. Beliau juga yang menggagas pendirian Seminari Menengah di Sikka pada 1926 yang kemudian dipindahkan ke Mataloko pada 1929. Para gadis juga diajak untuk menjadi biarawati. Selain itu didirikan juga Rumah Sakit Katolik di Lela.

Mgr. Verstraelen, SVD meninggal pada 16 Maret 1932 dan kemudian digantikan Mgr. Hendrik Leven, SVD melalui pengangkatannya oleh Vatikan pada 2 Mei 1933. Mgr. Leven menggagas sebuah sinode pastoral yang menghasilkan satu model yang sama bagi karya pastoral untuk seluruh Vikariat Apostolik, yang kemudian dipublikasikan dengan sebutan Manual Pastoral.

Periode Diosesan/Keuskupan (3 Januari 1961-sekarang)

Periode perkembangan Gereja Lokal selanjutnya disebut sebagai periode Keuskupan/Diosesan yang diawali pada 3 Januari 1961 ketika Vicariat Apostolik Flores diubah menjadi Dioses/Keuskupan dengan keuskupan metropolitannya, Keuskupan Agung Ende bersama dengan beberapa keuskupan sufragan: Keuskupan Larantuka, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Kupang, Keuskupan Atambua dan Keuskupan Weetabula.

Keuskupan Maumere lahir melalui bulla Paus Benediktus XVI, pada 14 Desember 2005 dari pemekaran Keuskupan Agung Ende yang meliputi Kevikepan Bajawa, Ende dan Maumere. Dengan demikian kevikepan Maumere ditingkatkan statusnya menjadi keuskupan.

Kisah karya misi ini mengingatkan kita bahwa gereja selalu saja berkembang. Perkembangan gereja ini menunjukkan bahwa Roh Kudus senantia bekerja dalam karya misi sejak zaman dulu sampai dengan saat ini.***

* Penulis adalah Imam Keuskupan Maumere,

bekerja di Pusat Pastoral Keuskupan Maumere

Scroll to Top