Keuskupan Maumere: Komunitas Gereja Perjuangan.
Catatan Redaksi:
Beberapa waktu lalu, seorang calon imam Keuskupan Maumere menghubungi penulis untuk mewawancarai penulis tentang beberapa hal mengenai karya pastoral yang sedang dikembangkan di Keuskupan Maumere.
Beberapa pertanyaan wawancaranya, hemat penulis bisa menjadi bahan katekese buat segenap umat beriman. Karena itu, baiklah kalau wawancara itu menjadi bahan katekese pendek ini. Maka katekese singkat ini dibuat dalam pola tanya-jawab. Semoga berguna.
- Dalam Dokumen RENSTRA Pastoral 2023-2027 Keuskupan Maumere (hlm.16), tertulis Model Gereja Perjuangan. Apa maksud dari model “Gereja Perjuangan” itu?
Jawab: Yang dimaksudkan dengan Model Gereja Perjuangan adalah Gereja yang adalah komunitas orang-orang terbaptis itu menjadi kumpulan orang-orang yang selalu berjuang untuk mengatasi aneka kesulitan kehidupan dalam segala bidangnya. Baik bidang politik, ekonomi, budaya, relasi sosial dan juga bidang keagamaan/Gereja. Model Gereja ini menjadi model lain dari Gereja Kultis yakni gereja yang lebih menekankan ritual keagamaan yang kerap kali tidak relevan dengan kebutuhan umat setempat.
Akan tetapi perlu diberi catatan bahwa gereja perjuangan itu juga tidak mengabaikan gereja ritual. Yang ditekankan di sini adalah gereja yang mampu mengintegrasikan ritus peribadatannya dengan perjuangan kemanusiaan. Mesti ada keseimbangan antara perjuangan kemanusiaan dengan ibadat yang dijalankan. Pengintegrasian antara gereja perjuangan dan beribadatan terungkap dalam semangat menjadikan ibadat sebagai inspirasi perjuangan dan perjuangan kemanusiaan menjadi perwujudan dari peribadatannya.
- Apakah Keuskupan Maumere menjadikan model “Gereja Perjuangan” sebagai inspirasi dalam Karya Pastoralnya?
Jawab : Ya Benar. Karya pastoral yang dikembangkan saat ini adalah karya pastoral yang coba menjawabi perjuangan kehidupan yang sedang dilakoni oleh umat keuskupan ini dalam segala bidang kehidupannya, tidak hanya di bidang keagamaan/gerejani saja tetapi juga di bidang politik, ekonomi, budaya dan relasi sosial.
- Apa yang melatarbelakangi sehingga “Gereja Perjuangan” menjadi model dalam karya Pastoral Keuskupan Maumere?
Jawab : Latar belakangnya adalah :
- Apa yang dilakukan oleh Yesus sendiri semasa hidupnya. Yesus terlibat dalam perjuangan orang-orang di masanya: yang sedang sakit disembuhkan, yang sedang lapar dikenyangkannya, yang sedang bingung dengan praktek keagamaan dijelaskannya dengan benar dan yang sedang membelokan praktek keagamaan diluruskannya (bdk. kisah Yesus mengusir para pedagang di Kenisah)
- Perjuangan umat/anggota komunitas gereja keuskupan ini dalam usaha meningkatkan derajat kehidupannya menjadi lebih sehat, lebih berpendidikan dan sejahtera.
- Siapa yang mengusung model “Gereja Perjuangan” di Keuskupan ini?
Jawab: Gereja Perjuangan ini lahir dari proses sinode yang dijalankan oleh Keuskupan ini sejak tahun 2012-2013 pada saat keuskupan ini menyelenggarakan sinodenya yang pertama.
Gagasan tentang Gereja Perjuangan kemudian dilanjutkan 10 tahun kemudian dan dikembangkan kembali ketika keuskupan ini menjalankan sinode ke-2 pada tahun 2022-2023.
Sudah agak pasti gagasan ini akan terus dikembangkan dan disempurnakan untuk beberapa waktu ke depan sampai dengan tercapainya cita-cita bersama sebagai visi keuskupan ini yakni, keuskupan yang beriman, sejahtera, solider dan membebaskan dalam terang Sabda Allah.
- Di mana ditetapkan model Gereja Perjuangan Keuskupan Maumere?
Jawab: Sebagai sebuah hasil sinode penetapan ini dibuat di tingkat keuskupan. Namun proses penentapannya sudah mulai terjadi di tingkat paling dasar yakni di Komunitas Basis Gerejani (KBG). Karena proses sinode dimulai dari KBG yang kemudian berlanjut ke Lingkungan, Stasi, Paroki dan Keuskupan. Setelah ditetapkan di tingkat keuskupan, hasil sinode kemudian diterjemahkan ke tingkat paroki, stasi, lingkungan dan KBG. Dengan demikian prosesnya sungguh datang dari “akar rumput” yang kemudian dikerjakan bersama kembali di komunitas paling bawah.
- Perjuangan macam mana yang dimaksud dalam konteks Gereja Perjuangan di Keuskupan Maumere?
Jawab : Gereja yang terlibat dalam segala macam urusan kehidupan manusia yang konkret. Gereja telibat dalam urusan:
- Ekonomi: meningkatkan kesejahteraan hidup umatnya.
- Politik: memberdayakan kesadaran politik warga dan mendorong pemerintah untuk melaksanakan praktek kebijakan publik yang benar.
- Budaya: memberi terang atas praktek budaya yang membebankan.
- Relasi sosial: memberi inspirasi dalam menjalin relasi yang sehat antar anggota masyarakat.
- Keagamaan: menunjukan praktek keagamaan yang benar dalam kehidupan beriman.
- Apakah model Gereja Perjuangan terfokus pada aspek-aspek tertentu? Aspek-aspek apa yang menjadi perhatian dalam model gereja ini?
Jawab: Semua aspek kehidupan umat menjadi fokus perjuangannya. Karena yang mau diperjuangkan adalah kehidupan manusia yang utuh, integral dalam seluruh bidang kehidupannya.
- Apakah model Gereja Perjuangan Keuskupan Maumere memiliki hubungan dengan gerakan perjuangan lainnya?
Jawab : Ya. Karena Gereja/komunitas yang kita bangun adalah komunitas yang terbuka dengan komunitas yang lain. Kita tidak membentuk komunitas eksklusif tetapi inklusif. Kita selalu menjalin kerjasama dengan semua pihak yang berkemauan baik untuk membangun masyarakat/warga umat Allah. Karena itu selain KBG yang kita kembangkan, kita juga menjalin kerjasama dengan yang lain untuk membangun Komunitas Basis Manusiawi (KBM).
- Apa prinsip dan nilai yang mendorong terwujudnya model Gereja Perjuangan?
Jawab :
- Prinsip yang dibangun adalah mengikuti pola hidup dan pola kegembalaan Yesus. Yesus yang terlibat, Yesus yang solider, Yesus yang menderita dan juga Yesus yang menang, bangkit jaya mengalahkan kematian.
- Nilai yang diperjuangan tentu semua nilai positif yang terkandung di dalamnya yakni: Solidaritas, Kerelaan berbagi, Kesediaan berkorban, Kerterbukaan dengan yang lain, Kerjasama dengan yang lainnya serta di atas segalanya seperti yang Yesus sendiri ajarkan yakni Cinta Kasih.
- Apakah Gereja Perjuangan adalah sekadar konsep yang dicita-citakan?
Jawab: Segala sesuatu yang mau diusahakan untuk ada dan menjadi, mesti datang dari satu konsep yang logis, benar, dapat dipertangungjawabkan dan juga mampu dilaksanakan. Maka mimpi tentang model gereja ini berawal dari konsep yang benar. Dari konsep inilah akan lahir tahapan-tahapan untuk mewujudkannya. Karena itu model gereja ini tidak hanya sekedar konsep tetapi sedang dijalankan dan diusahakan sejak tahun 2013.
- Bagaimana model “Gereja Perjuangan” direalisasikan dalam konteks Pastoral Keuskupan Maumere?
Jawab:
- Model Gereja Perjuangan ini diterjemahkan dalam Rencana Strategis Pastoral yang dibuat untuk jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Rencana Strategis Pastoral dibuat dalam jangka panjang untuk 25-30 tahun, jangka menengah untuk 5 tahun dan jangka pendek untuk setiap tahun.
- Keuskupan Maumere menterjemahkan itu dalam program-program pastoralnya selama 5 tahun untuk satu masa periode sinode, yakni untuk satu masa jangka menengah.
- Sedangkan untuk jangka pendek, setiap tahun dijalankan program pastoral serta dievaluasi pada setiap akhir tahun. Sebagai bentuk keberlanjutan pelaksanaan programnya maka setelah evaluasi, direncanakan lagi aneka kegiatan untuk tahun berikutnya. Putaran antara perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi karya pastoral ini melahirkan spiral pastoral.
- Biasanya evaluasi dan perencanaan pastoral dibuat pada bulan Januari pada setiap tahun berjalan.
- Sedangkan untuk evaluasi dan perencanaan lima tahunan dibuat dalam bentuk Sinode Pastoral yang dijalankan setelah 5 tahun pastoral.
- Pelaksanaan program pastoral dibuat baik di tingkat Keuskupan, Paroki, Stasi, Lingkungan dan KBG. Dengan demikian semua umat dilibatkan dan mendapat manfaat dari seluruh karya pastoral ini.
- Apa yang dimaksudkan dengan “Spiral Pastoral” yang sedang dikembangkan di Keuskupan Maumere?
Jawab: Spiral pastoral adalah model yang dipakai dalam melaksanakan karya pastoral di keuskupan ini. Aktivitas karya pastoral yang terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi akan terus berulang. Disebut spiral pastoral karena setiap evaluasi yang dilaksanakan atas karya pastoral yang dijalankan tentu akan melahirkan ide, gagasan baru untuk perbaikan dan perkembangannya. Maka karya pastoral itu akan terlihat seperti “mengulang” namun pengulangannya tidak persis sama. Dia mengulang sambil membaharui diri berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan. Pengulangannya (kalau digambarkan) akan membentuk sebuah spiral yang mengarah pada tujuan yang hendak dicapai yakni transformatif, perubahan menuju kepada cita-cita pastoral bersama.
- Apakah model “Gereja Perjuangan” menjadikan Komunitas Basis Gerejawi sebagai lokus (tempat) perjuangan Gereja Keuskupan Maumere?
Jawab: Benar. KBG adalah tempat paling strategis untuk mewujudkan model Gereja ini. Karena anggota komunitasnya tidak banyak, terdiri dari 20-30 keluarga, secara teritorial wilayahnya terjangkau sehingga segenap anggotanya saling mengenal. Model gereja perjuangan hanya bisa terwujudkan kalau ada pertisipasi aktif dari semua anggotanya. Maka KBG adalah tempat yang cocok untuk itu.