Pekan Orientasi Pastoral bagi Para Pastor yang Berkarya di Keuskupan Maumere (0–5 Tahun)

Wisma Nazareth, Nelle – 21–24 Oktober 2025


Bagian I — Evaluasi Umum atas Tata Laksana dan Penyelenggaraan Kegiatan

Pekan Orientasi Pastoral bagi para pastor yang berkarya di Keuskupan Maumere (0–5 tahun) merupakan bentuk formasi lanjutan yang berperan penting dalam proses integrasi para imam—baik imam diosesan maupun religius—ke dalam kehidupan dan pelayanan Gereja lokal. Berdasarkan penjelasan Direktur PUSPAS pada pembukaan kegiatan, peserta kegiatan ini mencakup dua kategori:

  1. Imam yang baru ditahbiskan antara 0–5 tahun, dan
  2. Imam yang baru berkarya di wilayah Keuskupan Maumere dalam rentang waktu yang sama, meskipun telah lama ditahbiskan.

Pemahaman ganda ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bersifat formatif, tetapi juga integratif: menolong para imam menanamkan akar dalam konteks pastoral Keuskupan Maumere, dengan seluruh kekhasan, tantangan, dan spiritualitasnya. Secara keseluruhan, kegiatan onsite ini terlaksana dengan baik, runtut, dan kontekstual. Setiap sesi dirancang untuk menuntun peserta dari visi makro pastoral keuskupan hingga penerapan mikro dalam tata laksana paroki. Pola tematik empat hari menunjukkan kesinambungan yang sistematis:

  • Hari pertama: pendalaman arah pastoral Keuskupan Maumere melalui Sinode II dan RENSTRA Pastoral.
  • Hari kedua: peneguhan metodologi dan tata kelola pelayanan pastoral.
  • Hari ketiga: pendalaman hukum Gereja dan digitalisasi pelayanan melalui Tribunal dan BIDUK.
  • Hari keempat: penguatan sistem dokumentasi sakramental dan administrasi paroki.

Kekuatan Pelaksanaan:

  1. Keterpaduan tema dan arah pastoral. Setiap materi berpijak pada semangat Sinode II dan visi “Gereja yang beriman, sejahtera, solider, dan membebaskan dalam terang sabda Allah.” Pendekatan yang konsisten antara visi, metodologi, dan instrumen pastoral memperlihatkan arah formasi yang terencana dan integratif.
  2. Keseimbangan antara refleksi teologis dan kompetensi teknis. Kegiatan ini tidak berhenti pada wacana rohani, melainkan juga menawarkan praktik manajerial, administratif, dan digital yang mendukung pelayanan konkret para imam di paroki.
  3. Pendekatan sinodal dan kolaboratif. Pelibatan berbagai bidang—PUSPAS, Tribunal, Sekretariat, dan Ekonomat Keuskupan—mewujudkan praktik sinodalitas yang nyata, di mana pelayanan Gereja dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan fungsi sektoral.
  4. Dimensi komunitatif dan persaudaraan imam. Pelaksanaan onsite memungkinkan relasi antarimam tumbuh dalam suasana dialog, doa, dan persahabatan. Hal ini memperkuat ikatan klerikal sekaligus membuka ruang pembelajaran kolaboratif.
Scroll to Top