Maumere, 17 Oktober 2026 — Sekitar 700 legioner dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Maumere berkumpul di Kampung Rohani Karmel, Sabtu (17/10/2026), untuk mengikuti Reuni Tahunan Legioner Keuskupan Maumere. Mengusung tema “Rosario, Senjata Melawan Musuh, Benteng Pertahanan Iman,” kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para legioner untuk memperbarui semangat doa, memperteguh iman, serta meneguhkan kembali komitmen dalam karya kerasulan Gereja.
Sejak pukul 08.30 WITA, para legioner berdatangan dan bersama-sama menuruni lembah menuju lokasi kegiatan. Suasana kebersamaan tampak dalam perjumpaan para anggota Legio Maria dari berbagai paroki yang datang dengan satu kerinduan: bertumbuh dalam iman dan semakin setia menjalankan panggilan kerasulan bersama Bunda Maria.
Kegiatan diawali dengan doa Tessera yang dipimpin oleh Komisium Maria Ratu Pencinta Damai Nelle. Selanjutnya, para peserta mengikuti materi yang dibawakan oleh RP. Stefanus F. Buyung, O.Carm., dengan tema “Rosario, Senjata Melawan Musuh, Benteng Pertahanan Iman.”
Dalam pemaparannya, ia mengajak para legioner untuk melihat kembali kekayaan doa Rosario yang terkadang dianggap kuno atau hanya cocok bagi umat yang sederhana. Padahal, selama berabad-abad, doa Rosario telah menjadi bagian dari kehidupan rohani berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, kaum awam hingga para teolog, serta umat biasa hingga para pemimpin Gereja.
Kesederhanaan doa Rosario justru menyimpan kekuatan rohani yang mendalam. Bersama Maria, umat diajak merenungkan misteri kehidupan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, sekaligus belajar menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan iman yang teguh.
Rosario, Kekuatan Doa di Tengah Pergumulan Hidup
Mengutip pemikiran Beato Fulton J. Sheen tentang devosi kepada Maria, pemateri menegaskan bahwa Rosario dapat menjadi senjata rohani dalam menghadapi berbagai godaan dan tantangan yang melemahkan iman. Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diucapkan berulang-ulang, melainkan jalan untuk semakin dekat dengan Kristus melalui pendampingan Bunda Maria.
Pesan ini diwujudkan dalam tiga bentuk konkret: menjadikan Rosario sebagai bagian dari doa harian, menghidupkan doa bersama dalam keluarga, serta membangun kebiasaan berdoa dalam komunitas. Di tengah tantangan zaman dan pergumulan hidup, doa Rosario menolong umat untuk tetap berpegang pada Tuhan, menjaga kesetiaan, dan menemukan kekuatan untuk terus melayani.
Dalam sesi dialog, sejumlah legioner membagikan pengalaman iman mereka. Kesaksian tentang kesetiaan mendaraskan Rosario di tengah berbagai situasi kehidupan menjadi pengingat bahwa doa tidak selalu menghilangkan penderitaan, tetapi dapat memberikan kekuatan untuk menjalaninya.
Salah satu pengalaman yang dibagikan ialah perjuangan menghadapi penyakit kanker. Di tengah keterbatasan akibat sakit, doa Rosario menjadi sumber penghiburan dan kekuatan untuk tetap bertahan serta melanjutkan karya kerasulan bagi sesama. Pengalaman-pengalaman ini memperlihatkan bahwa iman yang dipelihara melalui doa dapat bertumbuh bahkan di tengah situasi yang paling sulit.
Ekaristi, Puncak Perayaan Iman
Rangkaian reuni mencapai puncaknya dalam Perayaan Ekaristi. Pelayanan liturgi dipercayakan kepada Kuria Maria Mawar Yang Gaib Misir, Presidium Maria Mawar Taman Surga Misir, dan Presidium Yunior Maria Ratu Rosario Misir. Perayaan ini menjadi ungkapan syukur sekaligus peneguhan bagi para legioner untuk terus hidup dalam persekutuan dengan Kristus dan setia menjalankan perutusan Gereja.
Setelah Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama yang semakin mempererat persaudaraan di antara para peserta.
Dua Puluh Satu Tahun Perjalanan, Bertumbuh dalam Perutusan
Menjelang akhir kegiatan, Ketua Regia Maria Bunda Kristus Maumere, Ivanna Gaharpung, mengajak seluruh legioner mensyukuri rahmat perjalanan 21 tahun Regia Maria Bunda Kristus Maumere. Perjalanan ini menjadi bukti penyertaan Tuhan dalam pertumbuhan dan perkembangan Legio Maria di wilayah pelayanan.
Tahun ini, perjalanan tersebut juga ditandai dengan lahirnya Pra-Regia Maria Ratu Karmel Bajawa, yang menaungi wilayah Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, dan Keuskupan Labuan Bajo. Perkembangan ini menjadi tanda bahwa semangat Legio Maria terus bertumbuh dan membuka ruang yang lebih luas bagi penyebaran devosi serta karya kerasulan.
Dalam pesannya, para legioner diajak untuk tidak berhenti pada kebanggaan atas perjalanan yang telah dilalui, tetapi terus menghadirkan Legio Maria di tengah kehidupan paroki. Kehadiran para legioner diharapkan menjadi dukungan nyata bagi para pastor dalam karya pastoral, terutama melalui kesetiaan berdoa, kunjungan, pendampingan, dan pelayanan kepada umat yang membutuhkan.
Reuni tahunan ini menegaskan kembali bahwa kekuatan Legio Maria tidak pertama-tama terletak pada banyaknya anggota atau megahnya kegiatan, melainkan pada kesetiaan berdoa dan kerelaan untuk diutus melayani.
Rosario bukan hanya doa yang didaraskan, melainkan iman yang dihidupi. Dalam setiap Salam Maria, para legioner diajak memperbarui kesetiaan kepada Kristus; dalam setiap peristiwa kehidupan, mereka belajar bertahan dalam pengharapan; dan dalam setiap karya kerasulan, mereka dipanggil menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.
Dari Kampung Rohani Karmel, para legioner kembali ke paroki masing-masing dengan satu panggilan yang sama: terus berdoa, teguh dalam iman, dan setia melayani. Sebab, Rosario yang didaraskan dengan iman hendaknya berbuah dalam kehidupan yang penuh kasih, persaudaraan, dan pengabdian kepada Gereja.
Ivana Gaharpung
Staff Puspas