Rangkuman Evaluasi Sesi Persidangan II: Melihat Situasi Pastoral

HARI SELASA, 04/08/2026

Sesi I               : Presentasi Keuangan dan Pembangunan

Moderator     : RD. Us Manuk

Narasumber   : RD. Fancy Sare, Ibu Febi, dan Pa Berno

Waktu            : 08.30 – 09.30

Pada sesi ini, tim ekonomat Keuskupan Maumere melaporkan hasil rangkuman progres keuangan di 42 Paroki dan juga melaporkan perkembangan atau progres pembangunan kantor Keuskupan dan kantor Puspas Keuskupan Maumere. Laporan keuangan ini dibuat berdasarkan buku pedoman tata kelola keuangan Keuskupan Maumere dan juga berdasarkan perencanaan keuangan pada awal tahun berjalan. Rangkuman laporan keuangan yang dibuat oleh tim ekonomat Keuskupan Maumere sepanjang periode setengah tahun (Januari – Juni 2026) mencakup: Penerimaan dari Paroki-paroki, pembiayaan Paroki-paroki, dan selisih pemasukan dan pengeluaran.

Prosentase penerimaan keuangan paroki dibagi ke dalam tiga golongan, yakni: di bawah 50%, 50% – 75%, dan 75% – 100%. Berdasarkan rangkuman yang dibuat oleh tim ekonomat Keuskupan Maumere, terdapat 23 Paroki yang prosentase penerimaan keuangannya di bawah 50%, 13 Paroki memiliki prosentase penerimaan keuangan mencapai 50% – 75%, dan 5 Paroki yang prosentase penerimaan keuangannya berkisar antara 75% – 100%.

Rangkuman pembiayaan Paroki atau realisasi keuangan yang terjadi selama periode Januari hingga Juni dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu di bawah 50% dan di atas 50%. Tim ekonomat Keuskupan Maumere merangkum pembiayaan Paroki dan melaporkan bahwa terdapat 29 Paroki yang realisasi keuangan parokinya di bawah 50% dan terdapat 13 Paroki yang realisasi keuangannya di atas 50%.

Selain itu, tim ekonomat Keuskupan Maumere juga melaporkan selisih pemasukan dan pengeluaran keuangan yang terjadi di setiap Paroki. Tim ekonomat memberikan kesan bahwa pada umumnya pemasukan dan pengeluaran keuangan yang terjadi di setiap Paroki tergolong baik. Namun, masih ada empat Paroki yang mengalami ketidaksesuaian antara pemasukan dan pengeluaran keuangan (minus). Keempat paroki tersebut adalah Paroki Kloangrotat, Paroki Tanarawa, Paroki Nita, dan Paroki Nele.

Laporan keuangan yang telah dirangkum oleh tim ekonomat KUM telah membiayai semua kegiatan (P1-P7) yang sudah dijalankan selama setengah tahun ini. Namun, tim ekonomat melaporkan bahwa terdapat 23 Paroki yang mempunyai rencana anggaran dan merealisasikannya, terdapat 9 Paroki yang mempunyai rencana anggaran namun tidak direalisasikan, terdapat 4 Paroki yang tidak merencanakan anggaran namum terdapat realisasi anggaran, dan terdapat 6 Paroki yang tidak mempunyai rencana anggaran dan tidak terdapat realisasi anggaran.

Secara keseluruhan, tim ekonomat merangkum rencana dan realisasi penerimaan sepanjang tahun 2026 adalah rencana Rp 13.662.994.00 dan realisasi Rp 6.391.632.611, dengan prosentase sebesar 47%. Selain itu, pada tingkat Keuskupan, tim ekonomat juga melaporkan selisih realisasi penerimaan dan pembiayaan. Realisasi penerimaan selama setengah tahun 2026 adalah Rp 6.391.632.611 dan pembiayaannya adalah Rp 5.136.293.858, sehingga selisihnya adalah Rp 1.255.338.753. Romo Fancy sebagai ekonom menyampaikan bahwa ini adalah realisasi selama setengah tahun.

Selain laporan keuangan, pada sesi ini juga dilaporkan progres pembangunan kantor KUM dan Puspas. Laporan ini dibuat per tiga bulan dengan perinciannya adalah uraian pekerjaan, bobot kerja, harga satuan, dan jumlah harga. Pengerjaan ini ditargetkan selesai atau mencapai hasil 100% pada 26 September 2026. Pembangunan ini mendapat kontribusi dari Paroki-Paroki, kontribusi para imam KUM, kas keuskupan, bunga dari Bank, dan juga dari hasil penggalangan dana yang dilakukan Keuskupan Maumere, sehingga total penerimaan per 31 Juli 2026 adalah Rp 13.871.019.557. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membiayai pembangunan yang sedang berlangsung dengan total pengeluaran per 31 Juli 2026 adalah Rp 10.017.496.289. Maka, saldo pembangunan per 31 Juli 2026 adalah Rp 3.853.523.268.

Pertanyaan Diskusi:

  1. Pater Alex: Di dalam pemaparan tadi, terlihat bahwa ada paroki yang mempunyai rencana namun tidak ada realisasi. Minta komentar tentang hal ini karena ketika berbicara tentang pastoral berbasis anggaran, maka hal ini sudah tidak benar lagi.

Jawaban (RD. Fancy): Pemaparan ini berdasarkan catatan yg berada dalam rencana. Maka, hal ini perlu kejelian dari pegawai keuangan agar secara cermat mendokumentasikan perencanaan-perencanaan yang terjadi di Paroki dengan baik.

  • Bapa Martin (Kloangpopot): Pembangunan Kantor KUM: kosen, pintu jendela, dipesan di Surabaya. Bagaimana dengan tukang-tukang yang ada di Maumere. Diupayakan ada solusi dan resolusi, supaya tukang-tukang di KUM juga handal.

Jawaban (RD. Fancy): kosen, pintu, jendela, sudah didiskusikan secara internal dan akhirnya diputuskan untuk dipesan di Surabaya. Tambahan (Pa Berno): hal ini sudah dianalisis oleh kontraktor dan agar tampilannya lebih modern.

  • Bapak Jhon Gobang (Runut): (1) Mengenai rekapan penerimaan dan pengeluaran keuangan Paroki. Kalo boleh rekapan itu dikirim ke Paroki (Runut) supaya dibacakan ke umat (memberi motivasi kepada umat supaya tergerak untuk memberi). (2). Mengharapkan ada kunjungan dari tim ekonomat KUM ke Runut. (3). Kuda-kuda dan atap bangunan Kantor KUM dan Puspas pake baja ringan (khawatir dgn kondisi cuaca di Maumere).

Jawaban: (1) rekapan ini dari Paroki. Jadi di Paroki pasti punya laporan keuangan paroki yang lebih lengkap dan detail. (3). Ada tahapan, mulai dari cakar ayam sampai ringbalk. Ringbalk ini sudah mengunci struktur bangunan. Maka kuda-kuda dan atap harus ringan. Jadi dipakailah baja ringan.

Sesi II             : Presentasi Badan Solidaritas

Moderator     : RD. Us Manuk

Narasumber   : RD. Kanis dan Ibu Elen

Waktu             : 09.30 – 10.00

Gerakan aksi solidaritas sudah cukup lama dijalankan dan puji Tuhan masih dipertahankan hingga saat ini. Tidak hanya di tingkat keuskupan, aksi solidaritas yang sudah berjalan cukup lama ini telah menjangkau komunitas-komunitas kecil seperti KBG. Gerakan ini berakar dan berdasar pada brosur dan memberi penekanan pada gerakan solidaritas pendidikan yang pada mulanya diterapkan pada anak-anak SD sampai perguruan tinggi. Namun, pada tahun ini, gerakan ini mulai menyasar anak-anak TK.

            Aksi solidaritas pendidikan tidak hanya berfokus pada sekolah-sekolah swasta, khususnya yang Katolik, tetapi juga pada sekolah-sekolah negeri. Akan tetapi, keduanya mendapat perlakuan yang berbeda. Pada sekolah-sekolah negeri dana yang diberikan lebih sedikit dibandingkan sekolah-sekolah katolik.

            Terdapat 50 kegiatan yang direncanakan tetapi dalam tengah tahun ini telah terlaksana 25 kegiatan. Jika diporsentasekan sebanyak 25% persen kegiatan telah dijalankan. Untuk melancarkan kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat anggaran sebesar 1.069.645.772. Dari dana yang tersedia, telah digunakan beberapa ratus juta dan hingga saat ini masih tersisa 416.969.971.

            Dalam perjalanan, ada banyak sekolah yang terlibat dalam dana solidaritas pendidikan, yaitu sekolah swasta dan lainnya 2 sekolah, Sanpukat 60 sekolah, dan sekolah negeri terdapat 101 sekolah. Keterlibatan ini bertujuan untuk menilai sejauh mana paroki-paroki menyokong dan mendorong sekolah untuk memberikan dana solidaritas pendidikan.

            Berdasarkan penjelasan di atas, Bapak Robi kemudian mengutarakan satu pertanyaan yang menurutnya menyinggung poin penting dari distribusi dana. Dia menyampaikan pendapat bahwa masih banyak umat yang belum punya pemahaman yang memadai tentang dna geser dan solidaritas pendidikan. Ketika kita memberikan bantuan, kita belum punya data bahwa si penerima bantuan telah mendapat bantuan dari pihak lain. Ada ketakutan yang dirasakan oleh Bapak Robi bahwa si penerima bantuan mendapat bantuan secara berulang dari pihak lain. Sehingga beliau mengusulkan agar sebelum memberikan bantuan, kita mesti mengklasifikasikan keluarga mana yang belum mendapatkan bantuan sama sekali dan keluarga mana yang sudah mendapat bantuan. Dengan demikian, kita bisa menghindari terjadinya pengulangan dalam memberikan bantuan.

            Setelah menyampaikan pendapatnya, moderator kemudian memberikan kesempatan kepada Romo Kanis untuk memberikan tanggapan atas pendapat Bapak Robi. Romo memberikan tanggapan bahwa gerakan solidaritas sudah berjalan sejak lama. Namun, oleh karena kedinamisan umat, ada umat yang memahami gerakan ini dan ada yang tidak. Sehingga Romo mengharapkan para Pastor Paroki mensosialisasikan gerakan ini kepada umat melalui berbagai kegiatan pastoral. Dalam mensosialisasikan gerakan ini, Para Romo bisa menggunakan brosur yang telah diperbarui untuk menjadi pedoman dalam bersosialisasi. Juga, pada umumnya, badan solidaritas membaca proposal yang diajukan dan proposal tersebut direkomendasikan oleh ketua KBG dan Pastor Paroki. Maka hal tersebut menjadi pertimbangan bagi badan solidaritas.

Sesi III            : Presentasi Lembaga Caritas KUM

Moderator     : Ibu Yane

Narasumber   : RD. Kristo Lodo

Waktu            : 10.30 – 11.15

Pemaparan laporan evaluasi Caritas Keuskupan Maumere diawali dengan penjelasan mengenai gambaran umum Caritas Keuskupan Maumere sebagai lembaga pastoral Gereja yang menjalankan karya kasih secara terencana dan berkelanjutan. Dalam pemaparan hasil evaluasi disampaikan bahwa dari tujuh program pastoral yang telah direncanakan, namun Caritas hanya melaksanakan tiga program utama, yakni pemberdayaan pelayan pastoral, pemberdayaan ekonomi warga, dan pemberdayaan organisasi pastoral.

Dari total 258 kegiatan yang direncanakan pada periode Januari-Juni 2026, sebanyak 134 kegiatan telah terlaksana, 88 kegiatan akan dilaksanakan pada semester berikut yakni periode Juli-Desember 2026, sedangkan 31 kegiatan diperkirakan tidak dapat direalisasikan. Persentase pelaksanaan kegiatan telah mencapai sekitar 50%. Dari target pemanfaatan sebanyak 1.017 penerima manfaat, realisasi yang telah dicapai baru sebanyak 144 penerima manfaat. Di bidang pengelolaan proposal, Caritas menargetkan 20 proposal, namun dua proposal tidak dapat diproses sehingga target tersebut tidak dapat terpenuhi. Total anggaran program yang dialokasikan mencapai Rp1.874.611.000.

Secara khusus, pada Program Pemberdayaan Ekonomi Warga (P3) dijelaskan bahwa dari 20 proposal APPN, sebanyak 10 proposal telah disetujui dan dilaksanakan, seluruhnya dipertanggungjawabkan kepada PSE KWI dan telah memberikan manfaat bagi 105 umat. Pada program HPSN, kuota pendampingan serta dukungan proposal yang masing-masing berjumlah delapan belum dimanfaatkan secara maksimal selama dua periode terakhir. Selain itu, dari delapan kelompok KBSP yang dirintis, tiga kelompok telah terbentuk dan mulai memperoleh akses pemberdayaan, sedangkan enam kelompok dari periode sebelumnya masih terus berkembang. Dalam bidang Caritas dan Lingkungan Hidup, berbagai kegiatan yang dilaksanakan meliputi penyusunan modul kewirausahaan, pelatihan pembuatan pupuk dan pestisida organik, serta penyelenggaraan sekolah lapang hortikultura.

Lima prinsip dasar karya karitatif Caritas, yaitu responsif, yang mampu menanggapi kebutuhan masyarakat secara cepat; berdampak, yaitu menghasilkan perubahan nyata bagi kualitas hidup; berkelanjutan, sehingga program dapat diteruskan secara mandiri oleh penerima manfaat; pelibatan, yakni mengikutsertakan seluruh unsur masyarakat dalam pelaksanaan program; serta inklusif, yang terbuka bagi semua orang dengan tetap memberikan perhatian khusus kepada kelompok yang paling rentan.

Pelaksanaan program tersebut didukung oleh koordinasi yang baik antara komisi, Seksi PSE Paroki, dan kelompok dampingan. Dukungan dana operasional, ketersediaan materi APP dalam bahan katekese, pelaksanaan Diklat MYFO oleh PSE KWI dan Caritas Indonesia, pemerataan katekese umat di KBG-KBG, serta tersedianya buku panduan APP menjadi faktor penting yang memperlancar pelaksanaan program.

Di sisi lain, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, yaitu penjadwalan ulang beberapa kegiatan ke tahun 2027, belum optimalnya pemanfaatan kuota proposal APPN dan HPSN selama dua periode berturut-turut, belum tersedianya modul pelatihan kewirausahaan dan UMKM, serta masih kurangnya koordinasi dengan Paroki dalam pelaksanaan pelatihan di bidang pertanian, peternakan, dan kelautan.

Dalam refleksi biblis, Caritas menegaskan bahwa seluruh karya pastoral berpijak pada Sabda Allah. Kejadian 2:15 mengingatkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan Tuhan sebagai dasar pengembangan ekologi integral. Kisah Para Rasul 2:44–45 menjadi inspirasi solidaritas dan kemandirian ekonomi melalui semangat berbagi agar tidak ada anggota komunitas yang berkekurangan. Sementara itu, Yohanes 13:14–15 menegaskan bahwa pelayanan Kristiani harus dilandasi semangat kepemimpinan yang melayani, sebagaimana Yesus membasuh kaki para murid-Nya.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, Caritas memberikan beberapa rekomendasi untuk semester kedua tahun 2026. Pada bidang pemberdayaan pelayan pastoral akan dilanjutkan pendampingan intensif bagi kelompok HARVEST serta penguatan spiritualitas kelompok, disertai pelaksanaan Diklat MYFO tahap lanjutan bersama PSE KWI. Dalam bidang pemberdayaan ekonomi warga akan diperluas sosialisasi Cara Ber-APP kepada seluruh KBG penerima APPN dan melanjutkan pendampingan lima kelompok KBSP agar berkembang menjadi kelompok yang mandiri. Sementara itu, pada bidang pemberdayaan organisasi pastoral akan dijadwalkan koordinasi rutin antara Komisi dan Seksi PSE Paroki setiap tiga bulan sekali.

Pada tingkat nasional, Caritas Indonesia menetapkan lima bidang pelayanan utama, yaitu tanggap darurat dan penanggulangan risiko bencana, kesehatan serta gizi ibu, anak, dan lansia, pendampingan migran dan pencegahan TPPO, ekologi integral, serta penguatan kelembagaan PSE-Caritas. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, fokus pelayanan Caritas Keuskupan Maumere saat ini adalah pengembangan ekologi integral dan penguatan kelembagaan PSE-Caritas.

Hasil program HARVEST menunjukkan dampak yang nyata bagi masyarakat. Program ini berhasil meningkatkan pendapatan keluarga, mengubah pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan lahan secara produktif, menciptakan lingkungan yang lebih sehat melalui pertanian organik, serta meningkatkan keterampilan dan kemandirian para petani. Oleh karena itu, penggunaan pupuk organik dan pengembangan pertanian ramah lingkungan perlu terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pada sesi tanya jawab, Romo Khanisius Mbani memberikan pertanyaan, apakah ada kemungkinan pengalihan proposal dari paroki yang telah memperoleh alokasi tetapi tidak dapat melaksanakannya kepada Paroki lain yang siap menjalankan program tersebut. Narasumber menjelaskan bahwa pengalihan tersebut diperbolehkan, dengan syarat adanya koordinasi dan penyampaian informasi secara resmi kepada pihak terkait agar proses pelaksanaannya tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sesi IV            : Presentasi BIDUK

Moderator     : Pa Willy

Narasumber   : Pa Lexi

Waktu            : 11.15 – 12.00

Sesi ini diawali dengan pemaparan mengenai perkembangan data BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) Keuskupan Maumere. Hingga saat ini, proses pendataan menunjukkan hasil yang sangat baik. Dari 42 Paroki, sebanyak 32 Paroki telah mencapai 100% pendataan umat. Capaian tersebut merupakan hasil kerja sama Para Pastor Paroki, operator BIDUK, para frater KUM yang bertugas selama masa liburan, serta seluruh tim yang terlibat. Meskipun demikian, masih terdapat 10 Paroki yang belum mencapai target 100%, yaitu Watubala (91%), Kewapante (89%), Doganatar (88%), Watublapi (85%), Wolofeo (79%), Kloangpopot (74%), Wairita (68%), Runut (65%), Pedan (64%), dan Wairawa (62%). Paroki-Paroki tersebut diharapkan dapat segera menyelesaikan proses pendataan agar seluruh data umat semakin lengkap.

Hal lain yang dijelaskan ialah bahwa data BIDUK menjadi dasar penting bagi Keuskupan dalam menyusun program pastoral, meningkatkan pelayanan umat, serta mendukung pengambilan kebijakan yang sesuai dengan kondisi nyata di setiap Paroki. Karena itu, kelengkapan dan ketepatan data menjadi hal yang sangat penting. Hingga saat ini, jumlah umat yang telah terdata mencapai 66.334 Kepala Keluarga (KK) dengan total 230.411 jiwa. Sementara itu, data sakramen yang telah tercatat meliputi 100.896 data baptis, 25.488 data komuni pertama, 14.661 data krisma, dan 43.624 data perkawinan. Namun, pembaruan data sakramen sepanjang tahun 2026 masih belum sepenuhnya dilakukan oleh admin BIDUK di beberapa Paroki, sehingga perlu segera dilengkapi. Data BIDUK juga memperlihatkan sebaran umat di setiap wilayah TPAPT. TPAPT Kota menjadi wilayah dengan jumlah umat terbanyak, yaitu 46.159 jiwa, sedangkan TPAPT KWK memiliki jumlah umat paling sedikit, yakni 13.367 jiwa. Informasi ini menjadi acuan dalam menyusun program pelayanan pastoral yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Dari sisi demografi, komposisi usia umat menunjukkan bahwa Keuskupan Maumere sedang berada pada masa bonus demografi. Sebanyak 57.560 jiwa (25%) berusia 0–17 tahun, 136.854 jiwa (59%) berada pada usia 18–59 tahun, dan 35.858 jiwa (16%) berusia di atas 60 tahun. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Gereja untuk memperkuat pembinaan iman kaum muda, pendampingan keluarga, pemberdayaan umat usia produktif, serta pelayanan kepada umat lanjut usia. Jika dilihat lebih rinci, kelompok usia 36–59 tahun merupakan jumlah terbesar, sedangkan kelompok usia 0–5 tahun merupakan yang paling sedikit. Gambaran ini dapat menjadi dasar dalam menyusun program pastoral yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok umur.

Selain itu, dipaparkan pula perkembangan status kepala keluarga. Pada tahun 2025 jumlah kepala keluarga tercatat sebanyak 64.345 KK, sedangkan pada tahun 2026 meningkat menjadi 66.334 KK. Mayoritas kepala keluarga berstatus menikah, disusul oleh belum menikah, janda, lajang, duda, cerai sipil, dan pisah rumah. Data yang disampaikan memberikan gambaran mengenai kondisi keluarga Katolik di Keuskupan Maumere.

Secara umum, pendataan BIDUK di Keuskupan Maumere telah mencapai 96%. Capaian ini menunjukkan bahwa BIDUK tidak hanya berfungsi sebagai data administrasi umat, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam mendukung pelayanan Gereja yang lebih terarah, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan umat.

Pertanyaan Diskusi dan Tanggapan:

  1. Pater Tomi

Usulan: Dibuat buku pedoman pendataan agar jika admin BIDUK berhalangan, orang lain tetap bisa melanjutkan atau memperbarui data.

Jawaban: Selama ini panduan pendataan sudah selalu dikirim kepada admin BIDUK di setiap Paroki. Namun, usulan ini sangat baik. Ke depan diharapkan dapat disusun buku pedoman yang lebih lengkap sehingga siapa pun yang bertugas bisa mengelola data dengan lebih mudah.

  • RD. Yoris

Pertanyaan: Berapa jumlah Paroki yang sudah memiliki admin BIDUK khusus, dan berapa yang belum?

Jawaban: Hingga saat ini baru ada 6 Paroki yang terkonfirmasi memiliki admin BIDUK khusus (tidak merangkap tugas lain). Sementara Paroki lainnya belum menyampaikan data terkait admin BIDUK.

  • Bapak Heri (Admin BIDUK Paroki Wairita)

Masukan:

  1. Data sakramen masih sedikit karena data perkawinan umat masih tersimpan di Paroki asal atau Paroki sebelumnya.
    1. Mengapa masih ada lansia yang tercatat sebagai kepala keluarga?
    1. Bayi yang baru lahir baru bisa diinput setelah masuk dalam Kartu Keluarga.

Jawaban:

  1. Hal ini memang menjadi kendala, terutama jika Paroki belum memiliki admin BIDUK yang fokus dan masih merangkap pekerjaan lain.
  2. Data kepala keluarga di BIDUK mengikuti data yang ada pada Kartu Keluarga. BIDUK berfungsi sebagai data pendukung, bukan data utama.
  3. Untuk bayi yang belum memiliki NIK, tetap bisa diinput menggunakan pilihan data yang tersedia. Jadi, belum adanya NIK tidak menjadi alasan untuk menunda pendataan bayi yang baru lahir.
  • Bapak Vinsen

Usulan: Data umat yang sudah terkumpul hendaknya dimanfaatkan sebagai dasar untuk menyusun program-program pastoral di setiap Paroki, sehingga data BIDUK benar-benar berguna dalam perencanaan dan pelayanan umat.

Sesi V              : Pendalaman Bersama: Keuangan Badan Solidaritas, Caritas, dan Biduk

Moderator     : Ibu Yane

Narasumber   : RD. Fancy, RD. Kanis, RD. Kristo, Pa Lexi.

Waktu            : 12.00 – 13.00

Dalam sesi pendalaman ini ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pihak Komisi PSE, Ekonom, Biduk dan Badan Solidaritas berkaitan dengan beberapa hal yang telah dipaparkan oleh para narasumber sebelumnya. Pertanyaan pendalaman ini merupakan bagian dari pencarian informasi terkait dengan beberapa hal yang dirasa belum dimengerti atau sekedar sebagai bagian dari pencarian informasi. Berbagai pertanyaan yang telah dilontarkan para peserta pertemuan dijelaskan secara terperinci dan lebih mendetail terkait dengan berbagai hal yang ditanyakan. Berkaitan dengan beberapa asset yang dimiliki oleh Keuskupan, diharapkan agar pihak PSE dan juga pihak ekonom keuskupan dapat memperhatikan dan mengembangkannya secara baik sebagai bagian dari pendapatan keuskupan dan hal ini dijelaskan secara baik oleh Romo Fanci terkait beberapa aset atau usaha yang dikelola keuskupan atau tanah-tanah yang disewa dan hal itu menjadi bagian dari pendapatan keuskupan dan sudah dilaporkan dalam pemaparan materi tadi. Selanjutnya, Romo Fanci mengatakan bahwa beberapa aset juga yang terlambat dimanfaatkan atau juga ada beberapa bagian yang tidak dikelola secara maksimal. Romo Fanci juga menegaskan lagi terkait dengan pengaturan keuangan paroki yang juga sering kali tidak direncanakan tetapi terealisasi dan hal ini yang harus diperhatikan oleh pihak bendahara Paroki. Tetapi yang terpenting adalah pihak Paroki juga perlu secara konsisten memperhatikan tanggung jawab yang telah ditetapkan secara bersama dalam evaluasi.

Berkaitan dengan data BIDUK, Bapak Lexi mengatakan bahwa tidak ada yang bisa melengkapi BIDUK itu selain dari para pelayan pastoral yang berada di Paroki tersebut. Artinya, Biduk dapat berjalan secara maksimal jika kita sendiri yang dapat menyelesaikannya dan dengan demikian dituntut komitmen bersama agar apa yang sudah di evaluasi dan dibicaraan maka perlu direalisasikan. Adapun pertanyaan berkaitan dengan bagaimana menjadikan data biduk sebagai indeks penyusunan Program Paroki karena data biduk ini menjadi sebuah peluang besar bagi perencaaan pelayanan pastoral kita. Dari data biduk ini muncul juga pengaruh terhadap penyusunana program dan anggaran dan Pater Goris Nule mengatakan bahwa seringkali penyusunan program dengan anggaran yang begitu besar tetapi tidak tereaslisasi secara maksimal dan terjadi kesenjangan antara program dan anggran yang disusun oleh Paroki. Maka dari pihak Ekonom, Romo Fanci menegaskan bahwa penyusunan program dan anggaran selalu muncul dari paroki sehingga setiap hal yang terjadi perlu dipertimbangkan secara baik dan memperhatikan efektifitas dan pemanfaatan dari program tersebut agar tidak terindikasi bahwa program atau kegiatan yang disusun itu hanya sekedar untuk melengkapi kegiatan di Paroki.

Dalam sesi ini terdapat beberapa pertanyaan tetapi semuanya sudah terangkum dalam ulasan di atas berkaitan dengan biduk, dana solidaritas, PSE dan Ekonom keuskupan. Dari beberapa pertanyaan ini merupakan bagian dari jalan dan jembatan menuju sinodalitas. Dan beberpa bagian penting dalam sesi pendalaman ini saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Dari analisis berkaitan dengan biduk, dapat membantu para pelayan pastoral dalam Menyusun berbagai macam kegiatan pastoral. Penyusunan kegiatan ini didukung dengan pihak anggaran yang dapat diakses di dalam PSE dan juga melalui badan solidaritas keuskupan dan dari kegiatan ini akan muncul juga penggunaan anggaran dan realisasi kegiatan berdasarkan kegiatan yang direncanakan. Beberapa hal yang dievaluasi ini menjadi bahan refleksi bersama dalam perjalanan pelayanan pastoral ke depan sebagaimana beberapa hal penting yang sudah dipaparkan diatas berkaitan dengan analisis kehidupan umat melalui data biduk, melalui berbagai kegiatan yang dijalankan baik itu yang berhasil, gagal maupun yang akan terjadi ke depan dan yang diharapkan pada akhirnya bahwa evaluasi jangan hanya sebatas pada tataran pemaparan materi tetapi lebih dari itu evaluasi merupakan cerminan bagi kita semua dalam melihat kembali wajah kita sebagai pelayan pastoral dan juga sebagai cerminan bagi kita untuk melihat sejauh mana perjuangan kita dalam menciptakan sinodalitas, dan pada akhirnya tercipta kesejahteraan dan pembebasan dalam terang sabda Allah.

Scroll to Top