HARI/TGL : SENIN, 3 JULI 2026
WAKTU : PKL. 16.00-19.15
ARAHAN SC DAN OC
Evaluasi bukan hanya melihat angka, perjalanan tetapi juga menjadi momen untuk bersyukur atas pelayanan yang telah dilakukan bersama umat di tempat kita layani. Dari RD. Wilfrid (SC): Memperkenalkan Tema Evaluasi Tengah Tahun Pastoral: Membangun Jembatan Evaluasi: Jembatan Sinodal. RD. Wilfrid menjelaskan proses yang terjadi dan akomodasi yang digunakan selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini dimulai dengan memperkenalkan proses dan metodologi yang terdiri atas: Pertama, realitas pastoral yang mencakup progress check. Kedua, refleksi biblis Teologis yang menyentuh langsung akar rumput dan Ketiga, Tanggapan pastoral yang mencakup solusi dan resolusi.
Kita perlu menyadari diri sebagai bagian dari organisasi transformatif yang melihat kehadiran kita sebagai panyaing bagi sesama, untuk dapat menghasilkan program-program yang transformatif. RD. Wilfrid menekankan kembali KBG sebagai titik sentral fokus dan lokus pastoral, sehingga setiap program yang dicanangkan dapat menyentuh sampai ke KBG. RD. Wilfrid juga menyinggung adanya kemajuan dari kegiatan ini, berkaitan dengan digitalisasi registrasi peserta yang sangat terbantu dengan penggu naan scan barcode dan berbagai informasi yang dapat diakses melalui website Keuskupan Terangkum.
RD. Cesar Reda mewakili Tim (OC) menguraikan informasi jumlah peserta, dimana yang terdaftar 195 Peserta dari 290 peserta yang terdaftar sebelumnya, ada 95 peserta belum tercatat hadir, 85 peserta check in terlambat. Semua para peserta diharapakan hadir hingga terselesainya kegiatan Evaluasi. Beliau juga menyampaikan informasi jadwal kegiatan selanjutnya seperti acara persidangan/rapat akan diselingi dengan nyanyian/ice breaking, refleksi biblis dan misa penutup. Kelancaran persidangan akan dibantu oleh time keeper.
Ada informasi dari RD. Roli, berkaitan dengan keluhan-keluhan tentang kehadiran peserta dalam menggunakan link daftar hadir dan barcode. Kehadiran Evaluasi dilakukan regristrasi dua kali atau sesi pagi dan sore untuk menghindari kehadiran peserta yang tidak mengikuti kegiatan secara keseluruhan. Melalui terangkum.id, terdapat berbagai item seperti daftar kehadiran peserta evaluasi, jadwal kegiatan, materi presentasi yang dapat diakses oleh semua peserta kegiatan evaluasi.
Setelah pemaparan sesi I, ada pertanyaan yang disampakan oleh Bapak Hubet terkait kesan terhadap sistem terangkum. Menurutnya, sistem itu bagus tetapi merasa dirugikan. Ketika mau discan kartu tersebut diambil orang terlebih dahulu sehingga tidak scan dan terdaftar dalam terangkum.
- PENGANTAR AWAL OLEH BAPA USKUP
Sesi pertama ini berakhir dengan pengantar awal dari Bapa Uskup. Bapa Uskup menyampaikan banyak terima kasih kepada semua peserta evaluasi, kepada Panitia, kepada Para Pastor Paroki, Pastor Rekan, Diakon, Frater Top, pelayan pastoral yang telah bekerja dengan baik dan apresiasi kerja sama antara Pastor Paroki dan Awam. Pertobatan personal, institusional, dan sinodal. Bergerak dari visi menuju aksi. Semangat sinodalitas bergerak dan berjalan bersama antara para imam dan imam, para imam dan awam. Manajemen pastoran tidak lagi dipandang sebagai manajemen administratif. Dewan pastoral Paroki (bendahara, dll) bukan sekedar formalitas. Paroki dan Keuskupan mesti menjadi tanda kehadiran Allah. Evaluasi pastoral mesti dilakukan mulai dari KBG, Lingkungan, Stasi. Anggaran mesti dilakukan secara serius.
Bapa Uskup menekankan bahwa hanya orang yang mau belajar yang akan berubah dan berbuah. Belajar seperti Natanael dan Yesus, kamu akan melihat hal yang besar. Pesan ini mengingatkan Gereja agar senantiasa berani keluar dari zona nyaman, bergerak dari visi menuju aksi nyata, serta menjadi jembatan dialog di tengah polarisasi dan berbagai krisis global. Pesan yang sama juga sangat relevan dengan situasi kita saat ini, baik di tingkat Keuskupan, Paroki, wilayah, maupun komunitas basis. Semangat sinodalitas, yaitu berjalan bersama, harus terus dihidupi oleh Para Uskup, Imam, Religius, dan seluruh umat beriman. Relasi antara Gembala dan umat, maupun antarumat sendiri, hendaknya menjadi ruang untuk membangun kasih, persatuan, dan kerja sama. Dokumen kedua adalah Pedoman Sinodalitas yang saat ini sedang dalam proses penyelesaian dan penyempurnaan. Dokumen tersebut akan menjadi panduan praktis bagi Para Uskup, Imam, Religius, dan Kaum awam dalam menghidupi semangat sinodalitas yang berlandaskan dialog, partisipasi, dan misi bersama.
Saudara-saudari terkasih, sinodalitas atau berjalan bersama merupakan visi Gereja yang kembali ditegaskan oleh Konsili Vatikan II. Dalam konteks ini, manajemen pastoral tidak boleh dipahami hanya sebagai urusan administratif atau birokratis. Sebaliknya, manajemen pastoral merupakan sarana untuk mewujudkan persekutuan, partisipasi, dan misi Gereja. Ciri utama manajemen pastoral yang sinodal adalah kesediaan untuk saling mendengarkan. Gereja dipanggil mendengarkan seluruh umat Allah, termasuk mereka yang berada di pinggiran. Melalui proses mendengar, berdialog, dan berefleksi bersama, Gereja semakin mampu menemukan kehendak Allah bagi umat-Nya. Karena itu, berbagai struktur partisipatif seperti Dewan Pastoral Paroki dan Dewan Keuangan Paroki tidak boleh dipandang sekadar sebagai pelengkap organisasi. Struktur-struktur tersebut harus menjadi wadah nyata keterlibatan umat dalam kehidupan dan pelayanan Gereja. Tata kelola yang baik harus mengedepankan transparansi, akuntabilitas, serta pemberdayaan talenta setiap anggota komunitas demi mendukung misi Gereja. Seluruh program dan kegiatan pastoral hendaknya selalu berorientasi pada misi pewartaan Injil dan pelayanan kasih, bukan sekadar menjalankan rutinitas. Semua sumber daya, baik sumber daya manusia maupun keuangan, harus dikelola demi pelayanan kepada umat dan masyarakat. Oleh karena itu, setiap karya pastoral perlu direncanakan, dilaksanakan, dimonitor, dan dievaluasi bersama. Evaluasi bukan menjadi tugas satu orang saja, melainkan tanggung jawab seluruh komunitas.
Hasil evaluasi juga perlu disampaikan kepada umat agar mereka mengetahui perkembangan karya pastoral dan dapat ikut mengambil bagian dalam perbaikannya. Kita perlu membangun budaya perencanaan yang baik. Pada awal tahun pastoral, rencana kerja dan anggaran hendaknya disusun secara serius berdasarkan kebutuhan nyata umat. Selama pelaksanaannya dilakukan monitoring secara berkala sebagai kesempatan untuk belajar bersama, memperbaiki kekurangan, dan mengembangkan pelayanan yang semakin efektif. Saya berharap semangat berjalan bersama ini semakin menguatkan hubungan antara para pelayan pastoral dan seluruh umat. Semoga setiap kesempatan untuk berdialog, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi karya pastoral menjadi sarana pertumbuhan bersama. Hanya orang yang mau terus belajar yang akan bertumbuh, dan hanya Gereja yang mau berjalan bersama yang akan semakin setia pada misinya. Akhirnya, semoga momen evaluasi tahun pastoral ini menjadi kesempatan yang berharga untuk memperbarui semangat pelayanan kita, memperkuat persekutuan, dan membangun Gereja yang semakin sinodal, yaitu Gereja yang berjalan bersama menuju Kerajaan Allah.
- PRESENTASI EVALUASI PAROKI DAN KOBILEM
Sesi kedua adalah Presentasi Evaluasi Paroki dan KOBILEM yang dibawakan oleh RD. Wilfrid, RD. Yoris dan Bapa Lexi. Dari laporan yang terkumpul, tercatat bahwa 42 Paroki dan Kuasi telah memasukan laporan hasil evaluasi dengan presentase sebesar 100%. Data mengelompokan tiga indikator hasil dari program yang dicanangkan yakni terlaksana, sedang dilaksanakan, dan tidak terlaksana. Dari setiap indikator tidak terlaksana dilampirkan sebab dari program yang tidak terlaksana. Sedangkan untuk indikator yang terlaksana, dikelompokan lagi hasil yakni sukses, sedang dilaksanakan dan gagal dilaksanakan. Dari indikator terlaksana terdapat faktor pendukung terlaksana dan faktor pendukung berhasilnya. Dari faktor pendukung keberhasilan, ditinjau dampak dan adanya rekomendasi dan kelanjutan kegiatan. Dalam proses evaluasi yang terjadi di Paroki-Paroki, Para Tim SC dan OC juga menyoroti kebiasaan Paroki yang mengabaikan nilai dan refleksi karya pastoral dari Kitab Suci. Dalam menuntun proses evaluasi, terdapat format (1-12) yang digunakan sebagai alat untuk melihat keseluruhan Keuskupan ini. Dari sederet kegiatan yang dilaksanakan di Paroki, ada satu pokok masalah tahunan yang sering muncul selama 12 tahun ini dan memiliki persentase sebesar 71%.
Dalam evaluasi Kobilem, terdapat 13 Lembaga yang mengumpulkan laporan evaluasi, sedangkan 5 di antaranya belum. Dari fenomena ini disimpulkan bahwa terdapat perencanaan yang belum bermutu dari setiap program yang tidak dijalankan. Evaluasi juga menemukan adanya penggunaan dana yang lebih rendah dari KOBILEM dibandingkan dengan Paroki yang menempatkan dana/uang sebagai sebab utama tidak terlaksananya kegiatan. Berdasarkan grafik dan persentase yang ditampilkan antara Paroki dan lembaga, diitampilkanlah studi komparatif yang memperlihatkan persentase yang tidak jauh berbeda antara Paroki dan Lembaga. ditampilkan juga data Pendidikan terakhir para pengurus KBG, di mana tingkat pendidikan ketua KBG di kota lebih banyak bertamatan perguruan tinggi, sedangkan untuk yang dipedalaman, lebih banyak yang bertamatan Sekolah Dasar. Evaluasi juga menampilkan usia jabatan ketua KBG dari 0 sampai di atas 30 tahun. Pemetaan ini dilakukan bertolak dari perbandingan dua variable yakni sebelum KBG dikunjungi dan setelah KBG dikunjungi. Ditampilkan juga data missing, yang menyebutkan bahwa sampai saat ini tidak ada data final tentang jumlah KBG di Keuskupan ini, profil ketua KBG yang belum lengkap, dan sebanyak 310 KBG belum memiliki program pengembangan ekonomi yang akurat.
Dari sesi di atas, muncul beberapa tanggapan. Tanggapan pertama Bapak Martin Paroki dari Kloangpopot yaitu berkaitan dengan analisa dari Bapak Lexi, mengenai pengurus KBG tingkat pendidikan ke kanan makin tinggi. Bapak Martin menjelaskan bahwa jika ketua KBG yang menjabat adalah seorang perguruan tinggi tergantung pada lapangan kerja yang tersedia di wilayah itu. Dari Bapa Uskup, menanyakan Alasan 5 Komisi yang tidak membuat perencanaan apakah alasan internal? Dari pertanyaan Bapa Uskup ini, RD. Yoris menjelaskan bahwa ada perencaan hanya dibuat disemester berikutnya. Ada pun usulan Ibu Yansi berkaitan dengan maraknya bunuh diri bisa dari Komisi Kesehatan dibangun komunikasi dengan UNIPA dibuatkan sosialiasi untuk menangani bunuh diri ini. RD. Domi selaku Ketua Komisi memberikan klarifiasi terkait dengan Komisi yang berkaitan dengan perencenaan seksi Politik. Berkaitan dengan ini dijelaskan bahwa ada 2 perancaan kegiatan di bulan Juni di Paroki Wolofeo hanya ditunda karena hujan sehingga ditunda ke bulan September. Sementara di Paroki Watubala ditunda karena kegiatan NYD. Ada juga tanggapan dari Bapak Arka mengenai lemahnya kordinasi menjadi kelemahan bersama dan menjadi tugas bersama bagi kita. Dari Ibu Yane menyampaikan bahwa data dimaksud yang ditampilkan terkait jumlah kunjungan KBG, tidak sesuai dengan data yang dimasukan oleh Paroki, Karena Paroki memasukan data kunjungan KBG berdasarkan jumlah kunjungan yang mereka lakukan.
Pada sesi ini diahkir dengan analisis atas situasi pastoral oleh RD. Wilfrid dengan catatan bahwa sampai saat ini tidak ada data final jumlah KBG, Profil KBG juga tidak dapat diidentifikasikan dan data pengembangan KBG juga belum akurat. Masalah dalam pendataan dan laporan.