Masebewa, Kamis, 30 April — Komisi Liturgi Keuskupan Maumere mendapat undangan dari Paroki Simon Petrus Masebewa untuk memberikan pembekalan liturgi kepada umat. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi paroki yang belum genap berusia satu tahun dalam menata kehidupan liturginya.
Kehadiran peserta jauh melampaui ekspektasi. Ratusan umat memadati gereja, terdiri dari perwakilan empat stasi, termasuk dari wilayah yang tergolong paling jauh dan sulit dijangkau. Selain itu, utusan dari sekolah tingkat SD, SMP, hingga SMA turut ambil bagian. Peserta datang dari berbagai kalangan: anak-anak, remaja, orang muda, hingga para bapak, termasuk kaum laki-laki yang aktif terlibat. Para ketua stasi pun hadir dan duduk bersama umat dalam suasana kebersamaan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki, RD. Agustinus Beda. Dalam sambutannya, beliau mengharapkan keterlibatan aktif seluruh peserta agar sebagai paroki baru, umat semakin tercerahkan dalam pemahaman dan praktik liturgi.
Karena jumlah peserta yang sangat banyak, kegiatan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok anak-anak dan remaja bertempat di dalam gereja, didampingi oleh Bapak Geradus Paga yang memberikan pembekalan tentang peran dan fungsi misdinar. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Dalam arahannya, Bapak Geradus menegaskan pentingnya peran misdinar, bahkan dalam perayaan Ekaristi di tingkat lingkungan. Ia juga mendorong agar tradisi di stasi yang melibatkan anak laki-laki sebagai misdinar tetap dipertahankan sebagai bagian dari pembinaan iman serta persiapan panggilan menuju seminari.
Sementara itu, kelompok kedua berlangsung di aula paroki dan didampingi oleh RP. Yanto Ndona, O.Carm. Ia memberikan pemahaman tentang Tata Perayaan Ekaristi 2020 dan mengajak umat, sebagai paroki baru, untuk mulai menerapkannya secara baik dan benar. Selain itu, beliau juga menjelaskan tugas dan peran lektor serta pemazmur dalam perayaan liturgi.
Dalam sesi tanya jawab, antusiasme peserta sangat terasa. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari praktik liturgi, pemilihan nyanyian liturgi, tata ibadat sabda tanpa imam, hingga pertanyaan pastoral seperti keterlibatan umat yang belum menikah secara Gereja sebagai lektor atau pemazmur. Banyaknya pertanyaan menunjukkan kerinduan umat untuk memahami liturgi secara lebih mendalam, meskipun waktu yang tersedia terbatas.
Dalam sambutan penutup, Pastor Agustinus Beda menegaskan bahwa pembelajaran liturgi akan terus berlanjut dan direncanakan menjadi bagian dari program pastoral paroki ke depan. Ia juga mengharapkan kesediaan tim Komisi Liturgi untuk kembali memberikan pendampingan di masa mendatang.
Kegiatan ditutup dalam suasana persaudaraan dengan makan siang bersama, mempererat kebersamaan umat Paroki Simon Petrus Masebewa dalam semangat membangun Gereja yang hidup dan partisipatif.
Ivana Gaharpung
Staff Puspas KUM