Ratusan Anak Misioner Rayakan Hari Minggu Panggilan: Satu Dalam Kristus, Bersatu Dalam Misi

Maumere, 26 April 2026 — Sukacita, warna-warni panggilan, dan semangat misioner mewarnai Temu Anak dan Remaja Misioner Se-TPAPT Kota yang berlangsung di Paroki St. Gabriel Waioti, 25–26 April 2026. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-63 dengan tema “One in Christ, United in Mission”—Satu Dalam Kristus, Bersatu dalam Misi.

Sekitar 300 anak dan remaja misioner dari enam paroki di Kota Maumere ambil bagian dalam kegiatan ini, bersama sekitar 40–50 biarawan-biarawati dari berbagai kongregasi. Dalam nuansa live in, anak-anak tidak hanya berkumpul, tetapi mengalami Gereja sebagai rumah bersama yang hidup, berdoa, dan bermisi.
Kegiatan diawali dengan Karnaval Misioner, salah satu momen paling meriah dan menarik perhatian umat. Anak-anak tampil mengenakan busana sesuai cita-cita dan panggilan impian mereka—dokter, guru, pastor, suster, tentara, hingga misionaris. Pelepasan balon misioner oleh RD. Ryan Da Cunha menjadi simbol pengutusan untuk membawa sukacita Injil. Arak-arakan dari Katedral menuju Paroki Waioti menjadi pewartaan iman yang hidup di tengah kota.

Setibanya di Waioti, peserta disambut secara adat dan tarian, lalu mengikuti ibadat pembukaan yang dipimpin RD. Ryan Da Cunha, sementara kegiatan secara resmi dibuka oleh RD. Deodatus Duu selaku Ketua TPAPT Kota. Selanjutnya para peserta menjalani pengalaman live in bersama keluarga-keluarga umat di KBG-KBG.

Malam harinya, Pentas Seni Misioner menjadi ruang ekspresi iman sekaligus solidaritas. Melalui aneka penampilan, anak-anak dan remaja misioner berhasil menggalang dana sebesar Rp30.050.000 untuk pembangunan gereja Paroki St. Gabriel Waioti.

Puncak kegiatan berlangsung pada Minggu (26/4) melalui Perayaan Ekaristi Hari Minggu Panggilan Sedunia yang dipimpin RD. Ryan Da Cunha bersama Pastor Paroki RD. Laurensius Noi. Anak-anak mengambil bagian aktif sebagai petugas liturgi, menegaskan bahwa mereka bukan sekadar peserta, melainkan pelaku misi Gereja sejak dini.

Dalam homilinya, Romo Ryan menekankan bahwa panggilan tidak lahir begitu saja, tetapi bertumbuh dari keluarga. “Keluarga adalah seminari dasar. Di sanalah benih panggilan mulai disemai,” ujarnya. Ia juga mengajak anak-anak menghidupi semangat SEKAMI 2D2K: Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian sebagai jalan kecil menuju panggilan besar.

Sr. Jeni, SCSC selaku panitia menegaskan bahwa panggilan adalah petualangan kasih, bukan beban. Sementara Pastor Laurensius mengapresiasi solidaritas seluruh peserta dan berharap anak-anak terus bertumbuh sebagai misionaris cilik yang mencintai Gereja.

Salah satu bagian yang paling berkesan ialah Sharing Panggilan, ketika anak-anak berdialog langsung dengan para suster, frater, bruder, dan imam tentang hidup panggilan. Dalam suasana akrab, penuh tawa dan animasi, banyak anak menunjukkan minat untuk mengenal hidup membiara lebih dekat.

Kegiatan ditutup dengan Peneguhan dan Perutusan, mengutus para peserta kembali ke paroki masing-masing sebagai pembawa kabar sukacita. Mereka pulang bukan hanya dengan kenangan, tetapi dengan semangat baru: menjadi satu dalam Kristus dan bersatu dalam misi.

Temu ini menjadi tanda bahwa Gereja terus merawat benih panggilan sejak dini—karena dari anak-anak misioner hari ini, Gereja menyiapkan pewarta-pewarta masa depan.

Ivana Gaharpung
Staff Puspas

Scroll to Top