Krisis Misdinar Laki-Laki Dalam Liturgi

KATEKESE LITURGI.
Yang terkasih bapa Uskup, para Romo, Pater, Frater dan umat beriman.

Tidak dapat kita pungkiri bahwa keaktifan kaum pria dalam tugas tugas pelayanan liturgi semakin hari semakin merosot. Dari sekian banyak tugas dan pelayanan dalam liturgi saya ingin menyoroti tentang ajuda atau misdinar.

Saat ini di hampir semua paroki 90% atau bahkan lebih misdinar adalah anak anak perempuan, mereka melakukan berbagai tugas pelayanan liturgi dengan rasa tanggungjawab. Sebaliknya hanya sedikit anak laki laki yang teribat dalam pelayanan ini. Kalaupun ada mungkin hanya di beberapa paroki saja. Akibatnya pada level yang lebih tinggi seperti lektor, pemazmur dan tugas lain juga semakin sedikit bahkan tidak ada sama sekali.

Menyikapi persoalan persolan seperti ini pada tahun 2004 Vatikan telah mengeluarkan sebuah dokumen yang bernama Redemptionis Sacramentum. Ini adalah sebuah dokumen liturgi penting yang merupakan instruksi keenam dari Kongregasi Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen tentang pengejawantahan Konstitusi liturgi Sacrosanctum Concilium yang berisi reformasi liturgi pasca Konsili Vatikan II.

Dokumen Redemptionis Sacramentum ini berisi hal hal yang harus diperhatikan atau dihindari terkait Ekaristi Mahakudus, misalnya: penegasan kembali aturan liturgi Gereja Katolik Roma agar perayaan Ekaristi sesuai dengan ajaran yang autentik dan benar, memperbaiki pelanggaran pelanggaran dalam perayaan Ekaristi karena penafsiran yang keliru dan personal, menegaskan kembali tata cara yang tepat dalam Ekaristi dan adorasi Sakramen Mahakudus serta menekankan peran Uskup Diosesan sebagai Imam Agung bagi kawanannya di sebuah Keuskupan.

Secara khusus tentang misdinar, Redemptionis Sacramentum mengaturnya pada nomor 47, yang berbunyi:
Sangat dianjurkan untuk mempertahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak anak laki laki atau pemuda yang biasanya disebut ajuda. Perlu diingat bahwa selama berabad abad lamanya dari para ajuda laki laki seperti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis. Gadis gadis atau ibu ibu pun boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diosesan dan dengan memperhatikan norma norma yang sudah ditetapkan.

Poin penting dari norma ini adalah:
Sedari awalnya ajuda adalah laki laki, entah anak laki laki, pemuda atau bahkan orang dewasa laki laki. Baru pada tahun 1994 Paus Yohanes Paulus II melalui Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen mengijinkan anak anak perempuan dan ibu ibu boleh menjadi pelayan altar, namun bila Uskup Diosesan setempat mengijinkannya (lih. Acta Apostolicae Sedis 15 Maret 1994). Di banyak tempat di dunia ada banyak keuskupan yang tetap mempertahankan tradisi lama yaitu yang menjadi ajuda/ misdinar hanya anak laki laki.
Dokumen Redemptionis Sacramentum yang dikeluarkan pada 2004 lalu memberikan penegasan yang sama yaitu anak perempuan dapat menjadi misdinar bila dirasa perlu dan mendapat persetujuan dan ijinan Uskup.

Untuk kita di Indonesia secara khusus di NTT tentu tidak mungkin membuat aturan bahwa yang menjadi misdinar hanya anak laki laki saja karena nanti malah tidak ada misdinar sama sekali. Justru selama ini peran kaum perempuan dalam berbagai pelayanan liturgis patut diberi apresiasi.

Namun walaupun demikian, supaya tradisi misdinar laki laki tidak hilang sama sekali beberapa usulan praktis yang mungkin perlu kita buat adalah:

  1. Membuat kebijakan pastoral di paroki paroki untuk wajib mempunyai misdinar laki laki dan membuat pembagian tugas misalnya pada hari Minggu ganjil (I, III dan V) semua misdinar perempuan dan untuk Minggu genap (II dan IV) semua misdinar wajib laki laki, atau sebaliknya. Atau dibuat dicampur laki laki dan perempuan kalau mereka mau.
  2. Khusus untuk perayaan perayaan besar misalnya misa pontifical, misa tahbisan dan dedikasi gereja dan lain lain kita minta anak laki laki atau pemuda atau orang dewasa laki laki yang menjadi misdinar.
  3. Banyak anak laki laki tidak tertarik karena ‘merasa’ tidak punya ruang atau tidak dibina. Paroki bisa buat latihan rutin khusus kepada misdinar laki laki misalnya dua minggu sekali. Juga memberi presiasi yang nyata berupa ucapan terima kasih di depan umat. Ini bisa meningkatkan kebanggaan dan motivasi para misdinar laki laki dalam pelayanan mereka.
  4. Bekerja sama dengan Sekolah Sekolah (SD, SMP, dan SMA) atau mungkin guru guru agama Katolik untuk bisa menjadikan pelayan altar sebagai bagian integral pembelajaran yang nantinya bisa dinilai. Mungkin sedikit memaksa tetapi ini salah satu strategi jitu untuk mendorong peserta didik laki laki mengambil bagian atau lebih aktif dalam menggereja bukan saja sebagai misdinar tapi juga untuk pelayanan lainnya.
  5. Atau ada usulan dan ide lain……?

Mari kita berpendapat.
RP. Yanto Y. Ndona, OCarm.
Komlit KUM

Scroll to Top