Homili Mgr. Budi Kleden, SVD dalam Tahbisan Uskup Mgr Yohanes Hans Monteiro di Larantuka

Tidak ada keraguan lagi akan apa yang kita lakukan sekarang. Penahbisan 𝗨𝘀𝗸𝘂𝗽 𝗥𝗼𝗺𝗼 𝗛𝗮𝗻𝘀 𝗠𝗼𝗻𝘁𝗲𝗶𝗿𝗼 terjadi karena telah ada keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik, yang tadi dibacakan oleh Orang yang juga sangat tinggi, Mgr. Michael, pelaksana tugas Kedutaan Vatikan untuk Indonesia.

Saudara-saudari terkasih,

Satu era kepemimpinan yang panjang berakhir hari ini di Larantuka. Pelayanan kegembalaan Bapak Frans Kopong Kung, yang sejak tahun 2004 menjadi Uskup Larantuka dan meneruskan estafet kepemimpinan dari Bapak Uskup Darius Nggawa, SVD, pada perayaan dua puluh dua tahun yang lalu, saat Bapak Uskup Frans memulai pelayanannya sebagai uskup diosesan setelah dua tahun menjadi uskup koajutor, yang berperan sebagai komentator dalam perayaan itu adalah seorang romo yang waktu itu masih muda, tetapi tampil berwibawa dan meyakinkan: Romo Hans Monteiro.

Kita tentu tidak tahu apa yang akan terjadi dengan serem kita hari ini yang juga masih muda dan tampil meyakinkan.

Dari kedalaman rohani dan kekayaan pengalaman pastoralnya, Bapak Uskup Frans memilih dua moto: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” dan “Semoga mereka bersatu supaya dunia percaya.” Jarang ada uskup yang memilih dua moto—dan itu menunjukkan keistimewaan beliau.

Mungkin karena harus memimpin umat Katolik di dua wilayah kabupaten. Atau saya yakin, karena sadar bahwa untuk menjadi gembala di wilayah yang kerap mengalami bencana—banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi—serta memimpin umat yang tinggal terpencar di pulau-pulau, yang dibatasi gunung dan lembah, dibutuhkan hati yang terbuka pada kehendak Allah seperti Bunda Maria, serta kesungguhan menghayati doa Yesus untuk merawat kesatuan.

Uskup baru kita, Bapak Uskup Hans, merasa cukup dengan satu moto. Tetapi satu moto ini tidak main-main. Dalam satu moto ini, kata “satu” disebut tiga kali, Dalam Bahasa Latin : Unum, unus, una.

Untuk yang pernah belajar bahasa latin, di sini kata “satu” digunakan dalam tiga genus: neutrum, feminin, dan maskulin. Dengan moto ini, seluruh diri manusia disapa—tubuh, roh, dan pengharapan. Artinya dengan moto ini, Segala sudut disentuh. Moto ini menyentuh semua kelompok, mengajak semua umat. Moto ini menyadarkan kita bahwa apa pun perbedaan di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakkan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu.

Namun moto ini sekaligus membuka mata kita akan jurang yang terbentang di antara kita: jurang antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem; antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental ke wilayah pinggiran; kita sering membangun tembok pemisah dari orang berbeda suku dan pilihan politik; kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain.

Salah satu moto Uskup Frans juga berbicara tentang kesatuan: “Semoga mereka semua bersatu. ”Mensyukuri anugerah kesatuan yang diberikan Tuhan di tengah berbagai perbedaan yang ada, merawat kesatuan itu dengan kasih kegembalaan, memperjuangkannya dengan sikap dan pesan kenabian, membentuk nurani dan memperluas wawasan orang untuk merangkul dengan kebijaksanaan seorang guru—itulah tugas seorang uskup, kewajiban para imam, panggilan setiap orang beriman, dan tanggung jawab setiap manusia.

Dengan motonya yang terinspirasi dari Surat Santo Paulus kepada umat di Efesus, Bapak Uskup Hans mengingatkan kita akan tiga dimensi kesatuan yang sangat penting.

Pertama, Unum Corpus — satu tubuh.

Kita adalah satu tubuh. Seperti dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, tubuh ini memiliki banyak anggota. Satu Gereja dengan satu Kepala, yaitu Kristus, yang mempersatukan anggota-anggota yang berbeda dalam satu kesatuan, masing-masing dengan peran khasnya.

Perbedaan bukan alasan untuk memandang diri lebih penting dan lebih berkuasa dari pada yang lain atau lebih rendah dan tidak berarti. Kesatuan dijamin oleh pemimpin yang mau mendengarkan dan memberi ruang bagi semua untuk berpartisipasi, tetapi serentak mesti menunjukkan arah dan berani mengambil keputusan. Karena itu, ketaatan dibutuhkan untuk mewujudkan kesatuan.

Membawa semua orang ke dalam kesatuan berarti mencari dan merangkul semua, terutama mereka yang karena alasan tertentu menjauh atau dijauhi orang. Merawat kesatuan berarti mencegah satu kelompok menjadi terlalu dominan sambil menutup ruang bagi yang lain. Selalu memilih melihat kenyataan dari perspektif korban.

Mempererat persatuan menuntut usaha sungguh untuk merangkul mereka yang kehilangan pegangan dan makna hidup. Memberi perhatian istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa yang menderita karena kekerasan dan kemiskinan—kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian, dan waktu.

Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan untuk menangkap desahan tanpa suara dari mereka yang berada di jurang keputusasaan, terutama anak-anak. Memelihara kesatuan memerlukan kesediaan dan keberanian mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan untuk saling mengampuni.

Dalam Injil hari ini, Yesus yang bangkit menghembusi para muridNya dengan Roh Kudus dan memberi mereka kuasa untuk mengampuni.

Kedua, Unus Spiritus — satu Roh, satu semangat.

Tanpa semangat yang sama, tubuh yang satu menjadi tidak berdaya. Kesatuan Roh itu diuraikan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini : “Roh Tuhan ada padaku.” Roh itu dicurahkan kepada kita semua, anggota Gereja. Roh itu diberikan kepada Bapak Uskup, Roh itu diberikan kepada setiap orang yang ditahbiskan, diturunkan atas Bapak Uskup Hans agar dibebaskan dari penjara ingat diri dan kecemasan akan keamanan diri. Kita berani dan sanggup mewartakan kabar pembebasan.

Untuk melepaskan para petani dan nelayan kita dari genggaman tengkulak yang kian agresif;

membebaskan keluarga-keluarga kita dari cengkeraman para pelaku lembaga keuangan yang tidak saja memiskinkan tetapi juga merendahkan martabat, seperti pinjaman online dan koperasi harian atau koperasi mingguan;

agar ada keberanian untuk melawan praktek-praktek perdagangan orang;

dan menghentikan pembabatan hutan, pencemaran air, dan eksploitasi alam yang menghancurkan ekosistem serta menggoyahkan kesatuan masyarakat.

Semangat Roh seperti ini perlu dihidupkan supaya Gereja tidak sekadar menjadi struktur yang rapi tertata, tetapi sungguh menjadi sakramen keselamatan—tanda yang berdaya dan bermanfaat, terutama bagi mereka yang diperlakukan tidak adil.

Dengan menjadi imam atau uskup, kita disebut rohaniwan—orang yang berurusan dengan roh. Namun seorang rohaniwan tidak hanya tidak dilarang, tetapi mendapat kewajiban berbicara juga tentang yang duniawi dan mengupayakan kebaikan yang bersifat material.

Kita turut bertanggung jawab atas ketimpangan yang terjadi,
atas luka kemiskinan yang menyayat, kemiskinan dengan berbagai konsekuensinya.

Pandangan Kristiani tidak pernah memisahkan tubuh dari roh. Sebab seperti yang kita doakan Dalam setiap perayaan Ekaristi: roti dan anggur yang dipersembahkan—untuk diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus—adalah hasil bumi dan usaha manusia.

Yang dipersembahkan di altar adalah pemberian bumi dan buah kerja keras manusia. Karena itu, perhatian pada kelestarian bumi dan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak dasar manusia adalah bagian utuh dari tanggung jawab semua yang membawa persembahan ke altar Tuhan.

Ketiga, Una Spes — satu harapan.

Bergerak bersama sebagai satu tubuh dalam semangat yang sama di bawah tuntunan Roh yang kudus, menyalakan dalam diri kita api harapan yang sama, yakni hidup dalam Kristus yang bangkit, menjadi Gereja Tubuh Kristus, yang terlibat dalam perjuangan hidup umat dan masyarakat.

Kita baru saja menutup Tahun Yubileum dan merayakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia yang kelima, yang mengingatkan kita semua, pentingnya menjaga dan menyebarkan api harapan, memancarkannya ke tengah dunia yang kian terancam kehilangan harapan—juga karena kita para pemimpin lebih sering memilih jalan kekerasan, lebih mudah cuci tangan dan mempersalahkan orang lain, dan lebih suka menyebarkan ancaman dan ketakutan, daripada dialog dan penghargaan.

Harapan itu perlu disalurkan juga ke dalam Gereja kita, yang membutuhkan napas panjang menghadapi berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Harapan yang tunggal itu, berpijar dalam berbagai kerinduan, penantian dan kesabaran para pelayan, para pekerja dan para pejuang.

Api Harapan itu menyala dalam kerinduan para pengungsi letusan gunung api Lewotobi Laki-Laki dan Ile Lewotolok.

Ia tampak dalam kesabaran seorang Lamafa perkasa dari Lamalera, yang di atas pelendangnya, dengan mata yang awas memeriksa samudera luas, menangkap tanda munculnya seekor ikan paus.

Harapan yang satu itu, menjiwai ketelatenan si gadis dari lereng Ile Boleng yang setia dan tekun memintal benang dan menenunnya menjadi sehelai sarung Adonara yang anggun.

Harapan itu menafasi kesetiaan petani di Otang Solor yang menanam, merawat dan menanti panen dalam doa.

Dan Harapan yang satu itu, terdengar dalam lantunan si perempuan tua di kaki Ile Mandiri yang memendam rindu akan kembalinya sang anak dari rantauan sambil menggumam syair, “Bale nagi, bale nagi… Sinyo e, Kendati Nae Bero e…”

Bapak Uskup Hans, no bale nagi—pulang kampung—bukan karena itu mimpimu. Bale Nagi – Pulang Kampung Bukan karena tidur malammu sering terganggu tabola bale di tempat tidur, terbakar rindu akan tanah sendiri. Bukan. Sudah terlampau lapang hatimu dan luas wawasanmu, untuk sekedar mau pulang kampung, tinggal dan bekerja di tengah orang-orangmu sendiri sambil makan sayur daun marungge dan jagung titi.

No Bale Nagi, pulang kampung, bukan pula karena umat keuskupan ini hanya bersedia digembalakan oleh seorang anak tanah lahir dari gereja setempat, dan tdk perlu dipersoalkan karena sifat universalitas gereja Katolik. Itulah persatuan.

Sebab sudah terlampau tua dan berpengalaman Gereja di wilayah ini, kaya dijajaki para gembala dari berbagai belahan bumi. Sebuah Gereja yang juga sadar bahwa ia telah menjadi Bunda yang melahirkan dan mengutus putra-putrinya untuk bekerja di banyak tempat.

No bale nagi supaya bersama kami semua, torang semua, melangkah dalam rangkulan kasih Tuan Ma, mewartakan Tuan Ana, Kristus yang tersalib, wafat, dan bangkit untuk kita. Sebab Dialah satu-satunya Penyelamat: Unus Christus.

Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes bermuara pada Unus Christus. Kristuslah yang mempersatukan kita dalam satu tubuh, memberi kita Roh-Nya yang mengampuni, dan membuka bagi kita pintu harapan.

Dialah satu-satunya Gembala kita, yang mengantar kita semua untuk bale nagi—pulang ke rumah Bapa, kembali ke dekapan Allah yang penuh kasih, sambil membawa dunia kita yang terluka dan merangkul kemanusiaan kita yang tersalib.

Tuhan memberkati.

Krisis persatuan dalam gereja Katolik di Indonesia akhir-akhir ini menjadi sorotan. Sikut menyikut karena jabatan dan isu primordial, suku dan status yang berbeda. Kotbah ini tidak secara langsung juga menembak bukan hanya untuk gereja lokal Larantuka tapi gemanya menembus gereja di seluruh Indonesia dan dunia. Spirit persatuan dalam gereja dibayang-bayangi oleh kabut perpecahan karena perbedaan dan aksi yang senyap, sopan tapi mematikan. Semoga para pemimpin gereja lebih fokus atau kembali fokus pada pelayanan umat, merangkul dari semua kalangan dengan cara hidup dan tindakan yang mencerminkan persatuan. Menjadi pemimpin gereja lokal tidak harus anak tanah lahir dari gereja setempat, dan tdk perlu dipersoalkan karena sifat universalitas gereja Katolik. Itulah persatuan.

Scroll to Top