Evaluasi Pastoral Hari Keempat Keuskupan Maumere Tekankan Koordinasi Pastoral, Validitas Data BIDUK, dan Penguatan Program 2026

Maumere, Kamis (29/1/2026) — Evaluasi Program Pastoral Keuskupan Maumere hari keempat menegaskan pentingnya koordinasi agen pastoral, validitas data umat melalui sistem BIDUK, serta penguatan arah program pastoral tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di KCH ini diwarnai refleksi biblis, evaluasi manajerial, dan konsolidasi lintas komisi sebagai dasar perencanaan pastoral yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Sesi refleksi biblis yang dipandu RD. Marton Wega dan dimoderatori RD. Us Manuk mengangkat persoalan lemahnya koordinasi antara pastor, tim pastoral, dan pelayan pastoral lainnya. Dua belas kelompok peserta merefleksikan berbagai teks Kitab Suci yang menyoroti pentingnya kerja kolektif, delegasi tugas, transparansi pengelolaan keuangan, serta iman yang diwujudkan dalam keadilan dan solidaritas. Refleksi ini menegaskan bahwa karya pastoral bukan ruang inisiatif personal, melainkan pelaksanaan kehendak Allah yang menuntut sinergi dan tanggung jawab bersama.

Pada sesi pendalaman BIDUK, Pak Leksi memaparkan bahwa hingga Desember 2025 jumlah umat Keuskupan Maumere mencapai 222.459 jiwa dengan 64.345 kepala keluarga. Namun demikian, masih banyak paroki yang belum memperbarui data secara optimal, bahkan terdapat perbedaan signifikan antara data dan realitas umat. Kendala utama meliputi ketiadaan tim pendata, lemahnya struktur manajerial, dan minimnya pelatihan lanjutan. Kondisi ini berdampak langsung pada perencanaan pastoral, distribusi tenaga pelayanan, pelayanan sakramen, serta pengelolaan keuangan.

Bapa Uskup Keuskupan Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, menegaskan bahwa data BIDUK merupakan kebutuhan pastoral strategis dan akan menjadi tolok ukur kinerja pastor paroki. Ia menekankan perlunya keseriusan, konsistensi pembaruan data, serta dukungan anggaran khusus di tingkat paroki agar keputusan pastoral benar-benar berbasis pada realitas umat.

Sesi tanggapan pastoral untuk perencanaan tahun 2026 menegaskan bahwa pastoral merupakan pergumulan antara konteks nyata umat dan kehendak Allah. Dari evaluasi paroki dan KOBILEM, dirumuskan tujuh program pastoral KUM dengan empat fokus utama, yakni penguatan KBG sebagai komunitas iman dan perjuangan, peningkatan kapasitas pelayan pastoral, pembenahan tata kelola keuangan paroki, serta pengembangan solidaritas warga.

Rangkaian hari keempat ditutup dengan konsolidasi KOBILEM yang memuat berbagai penegasan dan usulan strategis, antara lain peningkatan partisipasi paroki dalam kegiatan keuskupan, konsistensi pengembangan sistem digital dan keuangan, penyesuaian agenda ziarah keuskupan, serta penguatan pemetaan potensi pastoral di paroki-paroki. Seluruh rangkaian ini menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan Gereja yang terkoordinasi, transparan, dan berpihak pada kesejahteraan umat. **Doni Laka

Scroll to Top